Kondisi Korban Mulai Membaik
Raihan Mufazzar, pelaku yang membacok Farradhila Ayu Pramesti di UIN Suska Riau, mengaku menyesal dan ingin melakukan salat tobat. Ibu Fara menyebutkan bahwa putrinya masih dalam kondisi trauma dan sedang menjalani pemulihan setelah kejadian pada Kamis (26/2/2026) lalu.
Setelah lima hari menjalani perawatan hingga operasi, kondisi Fara kini mulai membaik. Menurut ibunya, Fara sudah bisa duduk meskipun masih ada rasa pusing. Ia juga menyebutkan bahwa korban kini mulai mampu melakukan aktivitas seperti sebelum kejadian. Bahkan, Fara kini sudah kuat berdiri dan berjalan.
“Alhamdulillah hari ini dia mulai udah bisa berdiri. Dia juga udah tidak mau lagi di tempat tidur buang air kecilnya, dia mau pergi ke kamar mandi,” ujar ibunda Fara.
Meski kondisi fisiknya membaik, Fara masih mengalami masalah dengan makanan. Ia sering merasa mual jika makan terlalu banyak. Ibu Fara mengatakan bahwa ia selalu membatasi makanan korban hanya bubur karena sedang dalam masa pemulihan pascaoperasi.
Pengakuan Pelaku tentang Motif Pembunuhan
Sementara kondisi Fara kian membaik, kabar mengenai pelaku, Raihan, mulai diketahui dari penyidik. Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Z. Pandra Arsyad, menjelaskan proses interogasi terhadap pelaku. Dari hasil penyelidikan, Raihan diketahui sebagai sosok yang tertutup. Saat diinterogasi, ia menceritakan alasannya jatuh hati pada korban, Fara.
Menurut Raihan, Fara memberikan keceriaan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari orang lain. “RM ini memang sangat tertutup dan selalu mendapatkan sesuatu yang dia dapat ini memang baru dari korban ini cukup ceria,” ujar Kombes Pol Z. Pandra Arsyad.
Ia juga bercerita tentang momen manis saat KKN bersama korban. Dari sanalah ia kepincut pada Fara, meskipun korban sudah memiliki pacar. “Tadi dia (pelaku) ceritakan bagaimana pada saat KKN bagaimana keceriaan rupanya menjadi role model di sini. Bahkan dia (pelaku) cerita sendiri bahwa keceriaan korban ini membuat anak-anak di daerah wilayah yang menjadi tempat KKN jadi dekat,” tambah Kombes Pol Z. Pandra Arsyad.
Usai melakukan aksi jahatnya, pelaku mengaku sempat ingin mengakhiri hidupnya. Beruntung, penyidik segera menangkapnya dan memberikan pendampingan. “Pascakejadian itu sebenarnya dia (pelaku) ingin mengakhiri hidupnya sampai begitunya. Jadi memang alone,” ujar Kombes Pol Z. Pandra Arsyad.
Atas perbuatannya, pelaku mengaku sangat menyesal. Saking menyesalnya, ia ingin bertaubat dan kembali ke jalan Tuhan. “Dia (pelaku) cukup menyesal dan dia pengin sekali melaksanakan sholat taubat. Ini yang dia sampaikan tadi, ingin sekali sholat taubat. Tentunya perlu ada suatu bacaan-bacaan untuk meningkatkan spiritual dia kepada Tuhan Yang Maha Esa,” imbuh Kombes Pol Z. Pandra Arsyad.
Motif Pembacokan Terungkap
Sebelumnya, penyidik mengungkap pengakuan mengejutkan dari Raihan soal alasan tega membacok Fara secara membabi buta. Kasatreskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian Diansyah mengungkap pengakuan dari Raihan tentang motif pembacokan.
Rupanya amarah Raihan memuncak karena tak terima ditolak Fara. Selama ini, ia menganggap Fara sebagai kekasihnya, tetapi Fara tidak membalas cintanya. “Kami tanyakan hubungan seperti apa, tersangka menyatakan dia merasa lebih dari sekedar teman, namun korban sendiri tidak merasakan hal yang sama,” ujar AKP Anggi Rian Diansyah.
Gara-gara hal tersebut, Raihan akhirnya punya niatan untuk menganiaya Fara. Belakangan terungkap, Raihan sudah memiliki niat jahat terhadap Fara sejak November 2025 lalu.
Saat ditanyai penyidik kepolisian soal alasan membacok Fara, Raihan kikuk. “Tujuan kau, target kau melakukan pembacokan itu apa (membuat korban) cacat (atau) mati?” tanya penyidik, dilansir dari video di instagram akun awreceh.id.
“Enggak mati (tidak ingin membuat korban tewas),” jawab Raihan. “Kalau tujuan kau tidak bikin mati, benda yang kau gunakan untuk melakukan penganiayaan itu adalah alat yang layak untuk mati. Kau bawa kapak dan kau bawa parang,” ungkap penyidik.
“Heh, jawab kalau orang bertanya,” omel penyidik. “Pertanyaan saya sekali lagi, kau (mau bikin korban) mati?” tanya penyidik lain. “Enggak,” ujar pelaku sambil geleng kepala. “Jadi targetmu mati ya, mau membunuh ya?” tanya penyidik lagi tanpa merekam pelaku dengan jelas.
Mendengar pertanyaan itu, Raihan spontan menganggukan kepala.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











