Kesiapan Natalius Pigai dan Uceng untuk Debat tentang HAM
Menteri HAM, Natalius Pigai, mengungkapkan kesiapannya untuk berdebat dengan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Zaenal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng. Peristiwa ini akan digelar pada 5 Maret 2026 mendatang. Pigai menyatakan bahwa sudah ada stasiun televisi swasta nasional yang bersedia memfasilitasi debat tersebut.
Sementara itu, Uceng juga menunjukkan keinginan untuk menerima tantangan debat dari Pigai. Menurutnya, debat ini penting agar publik dapat memahami kinerja Kementerian HAM di bawah kepemimpinan Pigai. Ia menilai bahwa dalam dua tahun terakhir, penegakan HAM di Indonesia mengalami ketidakstabilan.
Pigai mengatakan bahwa debat akan dilakukan secara live melalui siaran televisi. Ia menyampaikan pernyataan tersebut melalui akun X pribadinya. Dalam cuitannya, ia menyebutkan bahwa stasiun televisi telah menyetujui tayangan debat tersebut.
“Saya setuju debat secara live di tanggal 5 Maret 2026,” tulis Pigai dalam cuitannya.
Uceng menjelaskan alasan ia menerima tantangan debat dari Pigai. Menurutnya, pejabat publik tidak bisa hanya menjelaskan kinerjanya melalui jargon. Meski awalnya merasa malas meladeni seseorang yang mengajaknya debat, Uceng menganggap tantangan dari Pigai berbeda.
“Pejabat publik tidak menjawab seakan-akan ‘tenanglah, pokoknya saya sudah kuasai ini ilmunya, pokoknya saya bisa’, nggak bisa begitu, itu masa kampanye. Masa dua tahun kerja ini apa yang dilakukan? Itu yang paling penting sebenarnya,” ujarnya.
Debat ini akan dilakukan dalam konteks menagih kinerja Pigai selama menjabat sebagai Menteri HAM di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Uceng mengungkapkan bahwa debat terbuka ini diperlukan karena penegakan HAM dianggapnya berantakan di era Pigai.
“Kan catatan kita terhadap penegakan HAM di republik ini agak buruk ya, dua tahun belakang yang memang berantakan sekali,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jika Pigai mau datang, hal ini akan menjadi bentuk pertanggungjawaban terhadap kinerja dia sebagai Menteri HAM.
Awal Mula Debat Pigai vs Uceng
Perdebatan antara Pigai dan Uceng bermula ketika Menteri HAM mengeklaim memiliki pemahaman terkait HAM sejak usia lima tahun. Klaim ini disampaikannya melalui cuitan di akun X Pigai pada Kamis (26/2/2026). Dia menyebut pengalamannya hidup di Paniai, Papua, yang merupakan wilayah konflik bersenjata.
“Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, saya sudah hidup di tengah moncong senjata. Enarotali Paniai pusat perang antara OPM dan militer Indonesia. Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati,” tulis Pigai.
Selain itu, Pigai juga mengeklaim ditunjuk oleh Prabowo sebagai Menteri HAM karena dirinya merupakan pembela kelompok tertindas. Ia pun menyinggung kapasitas akademik seorang guru besar terkait HAM. Cuitan ini ditujukan kepada Uceng.
Ternyata, cuitan tersebut ditanggapi Uceng dengan meminta Pigai untuk berdebat terkait kasus HAM di Indonesia.
“Pak @NataliusPigai2 saya setuju dengan Bapak, seringkali profesor itu dibesar-besarkan saja. Saya izin mau belajar memahami HAM dari Bapak. Saya mau diskusi dan debatkan satu per satu kasus HAM di Indonesia,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa pemahaman terkait HAM tidak hanya ditentukan oleh pengalaman hidup di wilayah konflik atau menjabat sebagai Menteri HAM.
“Memahami HAM bukan hanya soalan hidup di bawah moncong senjata, Pak, dan pernah di Komnas HAM. Benarnya Anda akan diukur dengan kerja-kerja penegakan HAM,” ujarnya.
Pigai lantas membalas Uceng dengan menyebut kesediaannya untuk berdebat terkait HAM dan ditayangkan di stasiun televisi nasional. Ia meminta agar Uceng yang menginisiasi acara debat tersebut.
“Saya setuju (debat ditayangkan) di TV nasional dan live. Anda yang undang, maka saya minta Anda yang siapkan. Kita bicara dalam tataran ilmiah,” tulis Pigai.
Uceng merespons dengan menyebut tidak memiliki kewenangan untuk membuat forum tersebut. Namun, ia menyatakan terbuka untuk berdebat dengan Pigai.
“Saya enggak punya kekuasaan, Pak. Semoga ada TV nasional yang bisa fasilitasi. Saya hanya pernah 3 tahun peneliti di Pusat Studi HAM UII Jogja dan kuliah S-2 Hukum HAM di Amerika. Saya pasti senang belajar,” tulisnya.
Kritik dari Rocky Gerung
Namun, debat antara Pigai dan Uceng ini dikritik oleh akademisi, Rocky Gerung. Ia mengatakan rencana adu argumen tersebut sebagai peristiwa yang absurd.
“Ini debat yang paling absurd. Kalau Uceng debat sama Menteri Pertahanan, itu masuk akal. Kalau Pigai debat sama Menteri Dalam Negeri, itu masuk akal. Ini dua orang yang betul-betul datang dari bus kota yang sama, bus HAM yang sama. Itu mau debat,” kata Rocky dalam kanal YouTube pribadinya, Sabtu.
Menurutnya, perdebatan terbuka tersebut berisiko lebih menonjolkan sensasi ketimbang substansi. Ia pun menyarankan agar rencana debat tersebut dibatalkan.
“Saya ingin ini dihindari, dihalangi saja, dibatalkan. Sensasinya akan lebih tinggi dari sekadar substansi,” ujarnya.
Rocky menilai baik Pigai maupun Zainal sama-sama memahami isu hak asasi manusia secara mendalam. Ia menyebut Zainal menguasai aspek substansi hingga filosofi HAM, sementara Pigai terlibat langsung dalam perumusan regulasi yang berkaitan dengan penghormatan hak asasi.
“Profesor Uceng pasti mengerti substansi bahkan filosofi dari hak asasi manusia. Tapi Pigai terlibat dalam pembuatan regulasi untuk merawat penghormatan kepada hak asasi manusia,” ucapnya.
Ia khawatir format debat terbuka, terutama di televisi, justru memunculkan persepsi seolah-olah hak asasi manusia ditentukan oleh siapa yang menang dalam adu argumen.
“Seolah-olah kalau Pigai yang menang, HAM itu ditentukan oleh Pigai. Kalau Uceng yang menang, HAM itu ditentukan oleh Uceng. Itu artinya akan ada pembelahan lagi tentang isu itu,” tuturnya.
Rocky menegaskan bahwa secara prinsipil, HAM tidak perlu diperdebatkan dalam format menang-kalah karena sifatnya sudah universal.
“HAM itu sudah final. Dia sifatnya universal. Dia datang dari nature manusia untuk saling merawat kemerdekaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan kemungkinan adanya pihak ketiga yang memanfaatkan kegaduhan publik dari debat tersebut.
“Karena ada pihak ketiga nanti akan numpang untuk mengacak-acak masyarakat sipil. Tentu akan ada yang tepuk tangan. Tapi apa artinya tepuk tangan?” ujarnya.
Menurut Rocky, diskursus mengenai HAM memang penting, tetapi harus dibedakan antara perdebatan kebijakan dengan perdebatan filosofis. Ia menilai ruang talkshow televisi bukan tempat yang tepat untuk membedah fondasi intelektual HAM secara mendalam.
“Kalau mau debat itu habis-habisan, datang ke universitas, karena di situ ada stok pengetahuan yang bisa diuji secara maksimal. Bukan di dalam debat-debat talkshow,” pungkasnya.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











