My WordPress Blog

Jumlah korban tewas banjir Sumatra terus bertambah menjadi 1.207 jiwa

Perkembangan Bencana Banjir di Pulau Sumatra

Di tengah memasuki bulan Ramadan, jumlah korban meninggal akibat banjir yang melanda Pulau Sumatra terus meningkat. Data dari dashboard milik Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa jumlah korban meninggal telah mencapai 1.207 jiwa. Angka ini semakin bertambah karena masih ada 138 jiwa yang dilaporkan hilang.

Korban meninggal paling banyak ditemukan di Aceh dengan total 564 jiwa. Di Provinsi Sumatra Utara, jumlah korban meninggal mencapai 376 jiwa, sedangkan di Sumatra Barat sebanyak 267 jiwa. Sementara itu, jumlah pengungsi yang tinggal di tiga provinsi tersebut lebih tinggi dibandingkan data Kementerian Dalam Negeri. BNPB mencatat sebanyak 30.863 jiwa masih menjadi pengungsi karena kehilangan tempat tinggal.

Pemulihan Bencana dan Hilangnya Desa

Ketua Satuan Tugas Pemulihan Bencana di Pulau Sumatra, Tito Karnavian, melaporkan bahwa sebanyak 29 desa di sana hilang tersapu banjir dan tanah longsor sejak akhir November 2025. Desa-desa yang hilang berada di Provinsi Aceh dan Sumatra Utara. Menurut Tito, Aceh menjadi wilayah dengan jumlah gampong yang paling banyak hilang, yaitu sebanyak 21 desa. Di Sumatra Utara, delapan desa hilang khususnya di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.

“Alhamdulilah, di Sumatra Barat tidak ada desa yang hilang,” tambahnya.

Tito juga meminta bantuan kepada parlemen dan menteri-menteri lainnya untuk menentukan apakah desa yang hilang akan dibangun kembali atau dicoret dari data pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk tanggap darurat bencana. Bahkan, upaya penanggulangan bencana dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kerusakan Lahan Pertanian

Selain rumah warga yang rusak, lahan pertanian juga mengalami kerusakan akibat banjir dan tanah longsor. Berdasarkan peninjauan Tito di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, terdapat 1.500 hektare sawah milik warga yang tertutup lumpur tebal. Ia meminta dukungan dari Kementerian Pertanian untuk memulihkan lahan persawahan yang rusak.

“Karena ini kasihan juga masyarakatnya. Di samping itu produksi padi kita kan bisa berkurang juga,” ujar Tito.

Menurut observasi Tito, ketebalan lumpur di sejumlah titik mencapai 50 sentimeter hingga 1 meter. Padahal, Kabupaten Pidie Jaya merupakan salah satu lumbung pangan daerah dengan total luas pertanian sekitar 8.800 hektare. Oleh sebab itu, kerusakan lahan tersebut berpotensi mengurangi produksi padi apabila tidak segera ditangani.

Target Hunian Sementara Sebelum Idul Fitri

Sementara itu, Kepala Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menargetkan semua pengungsi banjir Sumatra sudah mendapatkan hunian sementara sebelum Idul Fitri. Target awal agar warga terdampak banjir sudah berada di dalam huntara sebelum Ramadan meleset. Itu sebabnya BNPB mengaku terus mengebut pembangunan huntara.

“Huntara di wilayah Sumatra Barat dan Sumatra Utara dipastikan sebelum puasa hari (Kamis) esok yang belum masuk huntara, harus sudah masuk. Kecuali di Aceh (pembangunan huntara) baru 50 persen. Target kami sebelum Lebaran, masyarakat di Aceh sudah masuk ke huntara,” ujar Suharyanto.

Ia juga melaporkan perkembangan hunian tetap warga yang terdampak banjir dan rumahnya hilang. Jenderal bintang tiga itu menyebut pembangunan hunian tetap secara terpusat dikerjakan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

“Berdasarkan data terbaru, jumlah (rumah hunian tetap) yang sudah ada tanahnya mencapai 16.329 KK,” katanya.

Keadaan Pengungsi di Awal Ramadan

Hampir 13 ribu warga Sumatra masih mengungsi pada awal Ramadan 2026. Mereka masih menunggu hunian sementara yang akan disiapkan. Tito dan para petinggi pemerintah terus berupaya mempercepat proses pemulihan bencana agar warga dapat kembali ke kehidupan normal.





Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *