Tugas Berat yang Diemban oleh Álvaro Arbeloa
Álvaro Arbeloa menghadapi tantangan terberat dalam kariernya sebagai pelatih. Ia tidak hanya dituntut untuk membawa Real Madrid kembali ke jalur kemenangan, tetapi juga harus menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dari masa pemerintahan Xabi Alonso yang singkat dan penuh kontroversi. Alonso hanya bertahan selama tujuh bulan dari kontrak tiga tahunnya di klub. Kekalahan dramatis 3-2 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi titik akhir dari masa jabatannya, hanya kurang dari 24 jam sebelum keputusan pemecatan diumumkan.
Namun, hasil pertandingan bukan satu-satunya alasan. Keputusan taktis yang membingungkan, konflik terbuka dengan Vinicius Junior, serta kegagalan membangun identitas permainan membuat Alonso, yang awalnya dianggap sebagai manajer muda yang menjanjikan, menjadi sasaran kritik media Spanyol. Seberapa besar kesalahan Alonso atas kondisi Real Madrid yang terpuruk masih diperdebatkan. Yang jelas, Arbeloa mewarisi ruang ganti yang lesu, penuh tekanan, dan tanpa arah yang jelas.
Berikut adalah empat langkah utama yang mulai dilakukan Arbeloa untuk merapikan kembali kekacauan tersebut.
1. Arbeloa Gagal di Ujian Pertama, tapi Menang di Ruang Ganti
Tanpa pengalaman melatih tim papan atas, Arbeloa langsung dilempar ke api. Dua hari setelah ditunjuk, Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey usai kalah mengejutkan 3-2 dari Albacete, tim divisi dua, di babak 16 besar. Alasan rotasi pemain atau absennya beberapa bintang tidak banyak membantu. Dengan komposisi yang masih diisi nama-nama besar seperti Vinicius Junior, Federico Valverde, Arda Güler, dan Gonzalo García, kekalahan tersebut terasa sulit diterima. Secara hasil, itu adalah awal yang buruk.
Namun, Arbeloa menunjukkan kualitas kepemimpinannya di luar lapangan. Dalam konferensi pers pasca-laga, ia mengambil seluruh tanggung jawab dan menolak menyalahkan pemainnya. Ia bahkan secara khusus memuji Vinicius Jr. “Dia bersedia membantu tim dan memikul tanggung jawabnya, berlarian ke sana kemari dan tidak pernah bersembunyi,” kata Arbeloa. “Itulah Vini Jr. yang ingin saya lihat, yang berani, yang bertanggung jawab, dan yang tak kenal takut.”
2. Berdamai dan Berdiri di Belakang Vinicius
Beberapa pekan sebelum komentar tersebut, situasi Vinicius Junior sangat berbeda. Di bawah Alonso, sang winger kerap mendapat kritik terbuka, bahkan sempat disiul penonton sendiri. Respons Alonso kala itu dingin: penggemar punya “hak untuk menyampaikan pendapat mereka.” Hubungan keduanya memang sudah lama dikabarkan retak. Vinicius pernah langsung masuk terowongan saat diganti dalam El Clásico, tak menyebut Alonso dalam permintaan maaf publiknya, dan memilih diam saat sang pelatih dipecat. Situasi itu diperparah oleh kabar bahwa Vinicius menunda pembicaraan kontrak karena hubungannya yang buruk dengan Alonso, yang jarang memberinya menit bermain penuh.
Arbeloa memilih jalur sebaliknya. Sejak hari pertama, ia secara terbuka menyebut Vinicius sebagai “salah satu pemain paling menarik di dunia” dan menjadikannya pusat proyek tim. Dukungan tersebut langsung berdampak. Vinicius menemukan kembali senyumnya, berkontribusi besar dalam beberapa kemenangan, dan bahkan merayakan gol dengan memeluk sang pelatih di pinggir lapangan.
3. Meninggalkan Eksperimen Taktis Alonso
Salah satu sumber frustrasi terbesar di era Alonso adalah pendekatan taktisnya yang terlalu eksperimental. Rotasi berlebihan, perubahan posisi yang tidak perlu, hingga formasi aneh sering kali justru merugikan tim. Mulai dari memaksa Vinicius bermain di sisi kanan, mencadangkannya di laga penting Eropa, hingga menempatkan pemain bertahan di posisi yang tidak natural, Alonso kerap membuat keputusan yang sulit dipahami. Puncaknya adalah penggunaan formasi lima bek di final Piala Super Spanyol, dengan komposisi yang jelas tidak ideal menghadapi lini depan lawan.
Arbeloa mengambil pendekatan yang jauh lebih sederhana. Ia menjauh dari kerumitan taktik dan memberi kebebasan kepada para pemain bintangnya. Filosofinya jelas. “Kami ingin melihat Madrid yang melampaui ide-ide taktis dan sistem atau organisasi sepak bola,” tegas Arbeloa. Hasilnya terlihat dalam beberapa pertandingan awal, di mana lini serang tampil cair, lini tengah lebih seimbang, dan tim bermain dengan rasa percaya diri yang lebih besar.
4. Perlahan Membentuk Identitas Baru
Di bawah Alonso, Real Madrid kehilangan jati diri. Bahkan saat menang, performa mereka sering terasa hambar. Minim gairah, kurang agresivitas, dan jauh dari standar emosional yang biasanya melekat pada klub ini. Tak jarang, penonton sendiri mencemooh tim mereka. Masalah ini belum sepenuhnya hilang di era Arbeloa. Tim sempat mendapat cemoohan di babak pertama melawan Levante. Namun, kebangkitan di babak kedua menjadi gambaran jelas tentang identitas baru yang ingin dibangun.
“[Karakter dan mentalitas] tidak boleh hilang dan harus mewakili jati diri Real Madrid,” ujar Arbeloa. “Mentalitas itu, ambisi itu, keinginan itu, gairah itu, semuanya bersatu sebagai satu kesatuan, kebersamaan. Nilai-nilai itu adalah milik kita. Itulah yang harus mewakili kita dan yang tidak boleh kita tinggalkan. Setelah itu barulah ide-ide sepak bola lainnya.”
Real Madrid masih dalam proses. Arbeloa tidak bisa memperbaiki semua masalah sistemik dalam sekejap. Namun, langkah-langkah awalnya menunjukkan arah yang jelas. Ia bukan sekadar pelatih yang berbicara soal taktik, melainkan manajer yang memahami budaya, tekanan, dan jiwa klub sebesar Real Madrid.










