My WordPress Blog

Penjelasan Sabrang Anak Cak Nun: Alasan Jadi Tenaga Ahli DPN, Saya Jadi Kelinci Eksperimen

Peran Sabrang Mowo Damar Panuluh di Dewan Pertahanan Nasional

Sabrang Mowo Damar Panuluh, putra dari cendekiawan nasional Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), akhirnya memberikan penjelasan terkait posisinya sebagai Tenaga Ahli (TA) di Dewan Pertahanan Nasional (DPN). Ia menegaskan bahwa perannya bukan sebagai pembuat kebijakan, melainkan pemberi masukan strategis untuk negara. Sabrang memposisikan diri sebagai “indra mata, akal, dan telinga” bagi negara, yang bertugas memberikan rekomendasi mengenai situasi risiko bangsa.

Dalam wawancaranya di channel YouTube pribadinya, Sabrang menjelaskan bahwa tugasnya di DPN adalah memberikan masukan teknis dan strategis, bukan membuat aturan. Ia juga menyatakan bahwa ia siap menjadi “kelinci eksperimen” dalam menguji kerangka kerja baru dalam interaksi antara pejabat dan rakyat. Dengan demikian, ia ingin menciptakan standar baru dalam komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Alasan Penunjukan Sabrang sebagai Tenaga Ahli DPN

Pelantikan Sabrang sebagai TA DPN oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 15 Januari 2026 di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, cukup mengejutkan. Hal ini karena Sabrang dikenal sebagai sosok yang sering memberikan kritik tajam dan analisis mendalam tentang isu-isu bangsa melalui forum-forum diskusi independen. Sebagai vokalis band Letto dan penggerak intelektual di simpul Maiyah, ia lebih sering berada di luar lingkaran kekuasaan.

Menanggapi spekulasi dan pertanyaan besar di tengah masyarakat, Sabrang memberikan penjelasan terbuka mengenai misi besar dan “eksperimen” yang sedang ia jalankan. Ia menekankan bahwa perannya murni bersifat teknis dan substansial untuk kepentingan negara. Selain itu, ia membedakan sistem pemerintahan yang bersifat politis lima tahunan dengan sistem negara.

Menjawab Skeptisisme: “Kelinci Eksperimen”

Terkait skeptisisme dari para pengikutnya dan masyarakat, Sabrang mengaku sudah memperkirakan reaksi tersebut. Ia memilih memposisikan diri sebagai subjek uji coba untuk sebuah standar baru. Ia mengatakan bahwa ia akan menjadi “kelinci eksperimen” dalam membuat framework bagaimana pejabat melaporkan atau berinteraksi dengan rakyat.

Ia menambahkan tantangan bagi para pemangku kebijakan lainnya. “Pertanyaannya, kira-kira pejabat mana yang berani? Pejabat mana yang mau menggunakan framework ini? Karena tidak ada yang mau melakukan. Yo wis, yo tak mangkat eksperimen,” ujarnya.

Kompetensi Pertahanan dan ‘Cognitive War’

Menanggapi keraguan publik soal kompetensinya di bidang pertahanan nasional, Sabrang menjelaskan bahwa ancaman negara modern telah berevolusi melebihi sekadar perang fisik atau kinetik. Ia menekankan bahwa perang kognitif sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang terfragmentasi.

Perang kognitif adalah bentuk peperangan modern yang target utamanya bukan lagi fisik atau wilayah, melainkan otak dan persepsi manusia. Sabrang mencontohkan bahwa perang kognitif bisa memengaruhi cara orang berpikir dan memengaruhi stabilitas negara.

Independensi dan Janji Mundur

Mengenai kekhawatiran publik bahwa dirinya akan kehilangan kekritisan, Sabrang memastikan integritasnya tetap terjaga. Ia menyatakan mulutnya tidak akan bisa “dipinjam” oleh pemerintah maupun netizen/buzzer. Ia juga membuat komitmen terbuka terkait hasil kerjanya.

“Komitmen saya apa yang saya sampaikan ke DPN akan saya sampaikan juga ke publik rekomendasinya seperti apa,” ujarnya. Ia juga menyatakan bahwa jika rekomendasi yang diberikannya tidak didengarkan, ia akan mundur dengan mudah.

Pelantikan 12 Pakar dan Penguatan Strategis DPN

Sebagai informasi, total ada 12 orang pakar dari berbagai disiplin ilmu yang dilantik sebagai tenaga ahli di DPN berdasarkan Keputusan Ketua Harian DPN Nomor: KEP/3/KH/X/2025. Sabrang dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya yang setara dengan pejabat Eselon 2.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa pelantikan tersebut merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat jajaran pemikir di tubuh DPN dalam menghadapi dinamika tantangan global. Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik, serta Geostrategi.

Jejak Akademis Sabrang di Kanada: Sarjana Ganda Matematika dan Fisika

Sabrang yang kini berusia 46 tahun, menamatkan SMA di Yogyakarta. Setelah tamat SMA, Sabrang melanjutkan studi ke University of Alberta, Kanada, sebuah perguruan tinggi bergengsi yang masuk jajaran elite top 5 nasional dan peringkat 100–150 global. Ia menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika.

Krisis moneter membuat Sabrang harus bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup, namun ia berhasil menyelesaikan studi dengan gemilang. Pada 2003, Sabrang resmi meraih gelar Bachelor of Science di kedua bidang tersebut.

Dalam kehidupan pribadi, Sabrang menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, dan hubungan keluarganya berjalan harmonis hingga kini.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *