Azka Shahia Althafaliha Alfarizy, Atlet Muda Klaten yang Mengharumkan Nama Indonesia di Popnas
Azka Shahia Althafaliha Alfarizy, seorang atlet pencak silat berusia 17 tahun asal Klaten, kembali mengukir prestasi gemilang dengan meraih medali emas dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XVII 2025 di Jakarta. Prestasi ini menjadi bukti bahwa semangat dan disiplin atlet muda dari Klaten bisa bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Sebelumnya, Azka telah menorehkan prestasi di ajang World Junior Pencak Silat Championship 2024 di Abu Dhabi, yang membuatnya dikenal sebagai salah satu atlet terbaik di bidang olahraga bela diri ini. Di Popnas kali ini, Azka tampil dominan di kelas C putri, dengan keunggulan yang nyata hingga akhirnya memenangkan pertandingan final.
Pertandingan di babak final berlangsung cepat, karena wasit menghentikan duel pada ronde kedua setelah Azka unggul 30 poin. “Di final, ronde kedua sudah selisih 30 poin. Akhirnya wasit menghentikan pertandingan, jadi belum sampai ronde ketiga, Azka dinyatakan menang,” ujar ayah Azka, Wawan Alfarizy.
Perjalanan Menuju Medali Emas Tidak Mudah
Meski tampil perkasa di final, perjalanan Azka menuju podium tertinggi tidaklah mudah. Ia mengaku bahwa pertandingan semifinal melawan pesilat asal Kalimantan Timur menjadi momen paling menegangkan. Kedua pesilat saling kejar poin hingga akhir ronde, dan Azka akhirnya unggul tipis untuk melaju ke final.
Dari pengalaman itu, Azka belajar pentingnya menjaga fokus dan tenang di bawah tekanan. Baginya, setiap laga adalah ujian mental dan strategi, bukan sekadar adu fisik. Dukungan keluarga dan pelatih di tribun memberi semangat besar untuknya. Saat akhirnya menang, rasa lega dan haru tak bisa disembunyikan — terutama karena perjuangan itu membawa nama Klaten kembali berkibar.
Suasana Kompetisi yang Nyaman
Keberhasilan Azka di Popnas juga tak lepas dari penyelenggaraan yang rapi dan nyaman bagi para atlet muda. Menurut sang ayah, panitia Popnas 2025 dinilai cukup siap dalam menyiapkan fasilitas selama kompetisi berlangsung.
“Kesan dari Popnas kemarin, panitianya persiapannya bagus. Penginapannya tidak terlalu jauh, fasilitas musala dan toilet juga bagus. Gelanggangnya nyaman dan ruang pemanasannya luas,” jelas Wawan.
Bagi keluarga dan pelatih, kenyamanan ini membantu atlet lebih fokus menghadapi pertandingan. Suasana yang kondusif juga mencerminkan keseriusan panitia dalam mendukung prestasi pelajar Indonesia. Azka pun merasa tenang dan mampu tampil maksimal berkat dukungan lingkungan yang positif selama turnamen.
Awal Karier di Sekolah Dasar
Perjalanan Azka di dunia pencak silat dimulai sejak kecil. Ia mulai menekuni olahraga bela diri ini ketika duduk di bangku kelas 3 SD Muhammadiyah Tonggalan, melalui kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci. Dari sekadar hobi, silat kemudian menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Bakat dan semangat latihannya terus berkembang hingga membawanya bergabung dengan SMA PPLP Semarang, sekolah yang banyak melahirkan atlet berprestasi. Setiap kemenangan yang ia raih merupakan buah dari kerja keras, disiplin, dan doa yang tak pernah putus. Dukungan keluarga juga menjadi kunci keberhasilannya dalam setiap kejuaraan.
Tantangan Baru di ASEAN School Games
Usai menjuarai Popnas, Azka tak punya banyak waktu untuk beristirahat. Ia sudah dijadwalkan mengikuti ASEAN School Games di Brunei Darussalam, mewakili Indonesia bersama para atlet pelajar terbaik. “Informasinya dari Azka, diarahkan untuk berangkat ke ASEAN School Games di Brunei, dan pada 14 November ini diminta ke Jakarta lagi untuk TC [training center],” ungkap Wawan.
Tantangan ini akan menjadi pembuktian berikutnya bagi sang pesilat muda dari Klaten Selatan. Dari kampung Damaran, Kelurahan Gayamprit, langkahnya kini menembus panggung internasional. Semangat Azka adalah cermin generasi muda Klaten yang pantang menyerah dan terus berprestasi.











