Komunitas Petani Punk: Membangun Ketahanan Pangan dengan Semangat yang Berbeda
Pakaian mereka memang terlihat unik, dengan jaket hitam, celana jeans belel, dan daun telinga yang berlubang akibat piercing. Namun, di balik penampilannya yang sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat, tangan-tangan mereka mampu memberi pengaruh besar pada sektor ketahanan pangan.
Mereka adalah komunitas Petani Punk, sebuah gerakan yang lahir dari kegelisahan SiBagz, seorang pemuda Gunungkidul yang memilih pulang ke rumah pada 2015 setelah melanglang buana dari kota ke kota. Pada tahun 2018, ia membulatkan tekad bahwa punk tidak hanya tentang teriakan di atas panggung, tetapi juga bagaimana menjaga napas kehidupan di desa lewat pertanian.
“Kami miris melihat rata-rata petani kita sekarang berusia 50-60 tahun. Saya berpikir, 15 tahun lagi mungkin sudah tidak ada petani lagi kalau anak mudanya lari ke kota semua,” ujar SiBagz, Minggu (12/4/2026).
Rekrut Pemuda untuk Bergabung dalam Komunitas
Kini, komunitas yang ia rintis telah berkembang pesat. Tidak kurang dari 40 pemuda yang berasal dari jalanan telah direkrutnya untuk bergabung. Tanpa iming-iming kehidupan glamor, pihaknya hanya mengajak mereka mengolah lahan warisan orangtua atau leluhur yang selama ini dibiarkan terbengkalai.
Berkat pendekatan personal yang ulet, beberapa warga bahkan menghibahkan lahan ratusan meter persegi secara cuma-cuma untuk dikelola para pemuda ini. Hasilnya nyata, dari lahan-lahan itulah, para pemuda desa kini bisa membiayai kegiatan kampung, mulai dari acara tujuh belasan hingga perayaan tahun baru, tanpa harus menanti kiriman uang dari kota.
“Karena kita menanam banyak sekali jenis tanaman. Selain sayur mayur, kami juga menanam palawija, sampai padi. Tapi, kalau ganja tentu tidak ya,” ucapnya, diikuti gelak tawa.
Suplai Bahan Pangan untuk Program MBG
Loncatan besar pun diambil komunitas Petani Punk, setelah mereka digandeng sebagai penyuplai komoditas pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Yogyakarta. Bagi SiBagz dan kawan-kawan, keputusan masuk ke sistem MBG bukan sekadar cari cuan, namun juga bentuk tanggung jawab moral dan kontrol sosial.
“Kami masuk ke MBG bukan karena butuh rupiah atau karena pengangguran. Kami sudah cukup di desa. Kami masuk untuk jadi kontrol sosial. Kalau besok ada salah prosedurnya, kami teriak paling kencang dari dalam,” tegasnya.
“Anak punk masuk MBG itu seperti bom yang siap meledak kalau ada yang tidak beres. Kami tidak perlu dikontrol dari luar, karena kami sendiri yang akan mengontrolnya dari dalam,” tambah SiBagz.
Kehadiran Komunitas Diterima Baik oleh Yayasan Bijana Paksi Sitengsu
Kehadiran komunitas ini disambut baik oleh Sekjen Yayasan Bijana Paksi Sitengsu, Teddy Anggoro, yang kini tengah menyiapkan lima titik dapur satelit untuk program MBG. Teddy menyebutkan, bahwa progres pembangunan dapur sudah mencapai 80 persen, dengan target rampung pada penghujung April 2026 mendatang.
“Prioritas kami adalah masyarakat setempat, agar dapur tidak dikuasai supplier besar saja. Kami bersinergi dengan masyarakat, termasuk teman-teman Petani Punk dan kelompok Lumbung Mataraman,” jelasnya.
Hasil Pertanian yang Cukup Mumpuni
Meski pasokan petani lokal belum bisa memenuhi 100 persen kebutuhan, ia meyakini, hasil pertanian DIY cukup mumpuni untuk menyokong program tersebut. Namun, setiap komoditas yang dipasok dari sawah warga tetap menjalani proses selekso, supaya kualitasnya benar-benar selaras dengan kebutuhan gizi anak sekolah.
“Yang terpenting, warga di sekitar dapur juga ikut mendapatkan rezeki dari sana (MBG). Jadi, ketentuan kami, prioritas adalah warga masyarakat setempat,” ungkapnya.
Untuk memperketat proses pemantauan mutu pangan, benteng pertahanan bertajuk Simetris (Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Pangan Strategis) pun turut dihadirkan. Sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) ini dirancang untuk memantau keamanan konsumsi secara ketat, mulai dari lahan petani hingga sampai ke tangan siswa.
Dalam artian, menjadi semacam pusat kendali yang mengintegrasikan peran Kelompok Wanita Tani (KWT) di Lumbung Mataraman dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Teknologi untuk Memastikan Kualitas Pangan
IT Development Simetris, Fajar Saptono mengungkapkan, selama ini pencatatan stok pangan masih dominan manual dan terpisah-pisah, sehingga sulit dipantau secara cepat jika terjadi masalah.
“Jadi, melalui teknologi ini, data di tingkat kalurahan sampai hasil panen dari sawah atau pekarangan warga dapat terdigitalisasi secara real-time,” urainya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











