My WordPress Blog
Budaya  

Keraton Yogya gelar simposium internasional tentang arsitektur dan tata ruang



Keraton Yogyakarta menyelenggarakan Simposium Internasional dengan tema “Architecture, Spatial Planning and Territory of The Sultanate of Yogyakarta” atau Arsitektur, Tata Ruang dan Wilayah di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Acara ini digelar di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta pada hari Sabtu (11/4).

Simposium diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-37 Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, yang juga menjabat sebagai Penghageng Kawedanan Tandha Yekti sekaligus Ketua Panitia Pelaksana International Symposium on Javanese Culture 2026, menjelaskan bahwa simposium ini telah dilaksanakan setiap tahun dan kali ini merupakan simposium kedelapan.

“Pemilihan tema kali ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk Sumbu Filosofi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Selain itu, tema ini sangat terkait dengan amanat utama Undang-undang Keistimewaan DIY tahun 2012 yang berkaitan dengan urusan pertanahan dan tata ruang,” ujar GKR Hayu.

Dalam proses penyelenggaraan, terdapat 132 abstrak yang dikirimkan melalui seleksi ketat oleh editor dan reviewer lintas negara. Para reviewer memberikan bimbingan dan konsultasi selama delapan bulan terakhir.

“Pemilihan abstrak melalui dua tahap. Tahap pertama kami serahkan sepenuhnya kepada reviewer. Saya tidak ikut campur dalam proses pemilihannya. Begitu juga dengan tahap berikutnya,” jelas GKR Hayu.

Selain melihat originalitas ide, penilaian juga mengacu pada relevansi dan daya tarik. Dari 132 abstrak, hanya 20 yang lolos ke tahap berikutnya. Mereka diberikan kesempatan untuk menulis makalah lengkap dengan proses konsultasi. Dari 20 abstrak tersebut, beberapa di antaranya gagal dan akhirnya diberikan alternatif pembicara jika jumlahnya kurang.

Kolaborasi dengan Pemda DIY

Dalam kesempatan ini, GKR Hayu juga bekerja sama dengan Pemda DIY. Berdasarkan Undang-undang Keistimewaan, salah satu amanahnya adalah menata keraton.

“Tanah Kasultanan semakin kompleks. Kami sadar bahwa informasi yang diberikan masyarakat kadang tidak akurat. Atau rencana tata ruang yang belum familiar bagi masyarakat,” kata GKR Hayu.

Untuk itu, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang akan membuat leaflet tentang tata cara perizinan. Tujuannya agar masyarakat tidak keliru dalam mengajukan izin. Di hari kedua simposium, akan dibahas tentang satuan ruang strategis agar masyarakat lebih memahami informasi tersebut.

Keraton Yogyakarta juga merencanakan workshop bulanan mulai Mei 2026 terkait klinik konsultasi pertanahan. Masyarakat dapat langsung datang dan mendapatkan informasi dari Dispertaru dan Panitikismo Keraton.

Pengembangan Tema Setiap Tahun

GKR Bendara, Penghageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, menambahkan bahwa setiap tahun tema simposium selalu berganti.

“Menyelenggarakan simposium dan pameran tidak mudah. Meski awalnya mudah, tetapi menjaga spirit setiap tahunnya sangat sulit,” ujar GKR Bendara.

Pihaknya berusaha mengangkat sisi yang jarang diulas oleh pihak lain. Hal ini memberikan nilai tambah akademis bagi simposium dan pameran. Banyak akademisi yang akhirnya berani mempresentasikan ide-ide mereka.

Pembicara dan Sesi Simposium

Selain peneliti terpilih, Keraton Yogyakarta juga menghadirkan pembicara dari Kawedanan Widyabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat serta dua pembicara tamu dari OPD terkait seperti Dinas Kebudayaan dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY.

Ada empat keynote speaker yang akan terbagi dalam empat sesi sesuai sub-tema.

  • Prof Koji Miyazaki, professor emeritus dari Foreign Studies, Tokyo University, menjadi keynote speaker sesi sejarah.
  • Dr Verena Meyer, assistant professor dari Leiden Institute of Area Studies (LIAS), Universitas Leiden, Belanda, hadir sebagai keynote speaker sesi seni, literatur dan pertunjukan.
  • Dr Hélène Njoto Feillard, sejarawan seni dan arsitektur, serta associate researcher EFEO, menjadi keynote speaker sesi arsitektur.
  • Prof Ir Bakti Setiawan, MA, PhD, professor bidang Perencanaan Kota dari UGM Yogyakarta, menjadi keynote speaker sesi terakhir yakni tata ruang dan lanskap.
Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *