Kehadiran PT Yasa Artha Trimanunggal di Jakarta Barat
Lalu lalang kendaraan di salah satu jalan kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat tampak padat pada Jumat (10/4/2026) siang. Jalan utama yang hanya berukuran sekitar 4 hingga 5 meter itu semakin sesak dengan persimpangan menuju rumah warga dan motor yang berhenti di tepi jalan.
Di tengah kepadatan itu berdiri sebuah bangunan menyerupai rumah tinggal dengan pagar kayu cokelat dan besi hitam. Bangunan dua lantai tersebut diketahui sebagai rumah milik bos PT Yasa Artha Trimanunggal, induk perusahaan dari PT Adlas Sarana Elektrik yang disebut-sebut menjadi pemenang tender motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Rumah itu tampak tertutup rapat. Dari pantauan di lokasi, hanya sesekali terlihat orang keluar-masuk setelah menekan tombol di samping pagar. Akses yang terbatas menambah kesan eksklusif. Dari luar, bangunan modern itu terlihat mewah dengan pohon pinus di pot di lantai dua, sementara bagian dalam tak terlihat karena pagar tinggi hampir menyentuh tembok pembatas antar lantai.
Seorang warga bernama Dimas (bukan nama sebenarnya) membenarkan kepemilikan bangunan tersebut. “Ya benar itu PT Yasa. Dia ada dua bangunan itu seberang-seberangan punya mereka semua,” ujar Dimas. Tepat di seberangnya, berdiri bangunan bergaya klasik Eropa berwarna putih bersih. Bangunan tiga lantai itu tampak luas tanpa pagar, dihiasi lentera hitam, dan di bagian depan lorongnya terparkir dua motor listrik roda tiga berwarna hitam dan silver. Di sisi kanan dan kiri bangunan, terlihat mobil listrik maupun konvensional.
Bangunan tersebut digunakan sebagai kantor karyawan PT Yasa Artha Trimanunggal. Namun, gedung itu tidak menyerupai perkantoran di jalan protokol Jakarta. Tidak terlihat papan plang nama perusahaan, hanya tulisan inisial YAT di bagian atap.
Berdasarkan laman resminya, PT Yasa Artha Trimanunggal bergerak di bidang jasa logistik, pengadaan, alat kesehatan, serta ekspor-impor sejak 2016 dan berdomisili di Jakarta. Pemilik manfaat (Beneficial Owner) menurut keterangan di laman Administrasi Hukum Umum (AHU) adalah Yenna Yuniana.
Seorang karyawan bernama Riko menuturkan, “Kalau yang itu rumah bos. Yang ini (bangunan tembok putih) kantornya (PT Yasa Artha Trimanunggal).” Ia mengaku tidak mengetahui detail pengadaan motor listrik merek Emmo karena hanya bekerja sebagai teknisi. “Kerjaan kita mah kan benerin lampu, narik-narik kabel aja. Kita nggak tahu apa-apa terkait masalah itu,” katanya.
Dua warga sekitar juga menyebut perusahaan itu sudah lama berdiri, meski tidak mengetahui pasti sejak kapan. Sumber menyebut ada pensiunan prajurit TNI yang kini menjadi bagian dari perusahaan. Namun detail pangkat maupun jumlahnya belum diketahui, dan informasi ini belum dapat dipastikan kebenarannya karena pihak perusahaan tidak bisa ditemui saat wartawan datang.
Pengamanan di Sekitar Kantor Perusahaan
Saat wartawan mendatangi kantor PT Yasa Artha Trimanunggal, puluhan aparat kepolisian terlihat berjaga di sekitar lokasi. Pengamanan dilakukan karena adanya informasi akan ada aksi demo, meski hingga sore tidak terjadi.
Video Viral dan Penjelasan Kepala BGN

PT Yasa Artha Trimanunggal menjadi sorotan setelah viral video ribuan motor berlogo BGN di media sosial. Motor listrik merek Emmo yang dikontrak untuk program MBG terdiri dari tipe JVX GT dan JVH Max. Berdasarkan data pengadaan nasional, harga per unit JVX GT sekitar Rp49,95 juta off the road (OTR).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan pengadaan motor listrik bukan program dadakan, melainkan bagian dari anggaran 2025. Ia menyebut prosesnya transparan dan akuntabel. Hingga 20 Maret 2026, penyedia hanya menyelesaikan 85,01 persen atau 21.801 unit dari 25.644 unit yang dikontrakkan. Sisanya dikembalikan ke kas negara sesuai mekanisme RPATA.
“Motor listrik ini belum didistribusikan. Kami memastikan seluruh proses administrasi, termasuk pencatatan sebagai BMN, diselesaikan terlebih dahulu agar penggunaannya tertib, transparan, dan akuntabel,” tegas Dadan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











