Kondisi Sektor Minerba di Tengah Dinamika Global
Sektor pertambangan mineral dan batubara kini berada dalam situasi yang sangat dinamis, terutama menghadapi tantangan global yang tidak stabil. Hal ini menuntut adanya kebijakan yang lebih fleksibel agar dapat menjaga kekuatan ekonomi Indonesia dalam situasi krisis.
Tantangan Utama yang Dihadapi Sektor Minerba
Sektor minerba menghadapi dua tantangan utama, yaitu risiko geopolitik akibat konflik global dan regulasi yang semakin ketat. Dalam diskusi tentang peran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta peningkatan produksi dalam strategi menyikapi tantangan global, Siti Sumilah Rita Susilawati, Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, menyampaikan bahwa dunia saat ini sedang mengalami ketidakstabilan yang sulit diprediksi.
“Kita tahu bahwa saat ini kita berada di dunia yang ritmenya sudah tidak jelas lagi. Yang jelas tidak stabil,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sektor minerba kini berada dalam pusaran dinamika global yang sangat menantang, termasuk keterbatasan bahan baku pendukung dan kebutuhan energi.
Peran Critical Mineral dalam Ekonomi Nasional
Critical mineral menjadi sangat penting dalam konteks global, dengan semua negara saling berebut untuk memperoleh sumber daya tersebut. Namun, kepemilikan sumber daya saja tidak cukup tanpa dukungan komponen lain.
Indonesia dinilai masih berada pada posisi strategis karena kekayaan sumber daya alam. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menekankan ketahanan energi dan hilirisasi. “Kalau kita tidak punya sumber daya energi, ketahanan energi kita akan sangat rapuh,” ujar Rita.
Strategi Pengendalian Produksi melalui RKAB
Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah mengambil langkah pengendalian produksi melalui kebijakan RKAB. “Pemerintah melakukan penyesuaian produksi, bukan pembatasan, tetapi lebih ke arah pengendalian,” kata Rita.
Pendekatan yang digunakan saat ini adalah value over volume, yang menunjukkan bahwa peningkatan volume produksi tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan negara. Produksi berlebih justru berpotensi menimbulkan oversupply yang menekan harga komoditas.
Untuk mengendalikan pasokan secara lebih terukur, pemerintah mengubah skema RKAB dari tiga tahunan menjadi tahunan. Selain itu, kewajiban domestic market obligation (DMO) tetap menjadi prioritas sebelum ekspor dilakukan.
Tantangan Industri Nikel
Wakil Ketua IMA Bidang Komunikasi yang juga Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Bernandus Irmanto, mengungkapkan bahwa risiko merupakan hal yang wajar dalam dunia usaha. Salah satu tantangan utama dalam industri nikel adalah pasokan bahan baku penunjang, khususnya sulfur yang dibutuhkan dalam proses High Pressure Acid Leach (HPAL).
“Masalahnya kalau pun punya uang untuk membeli, tapi kalau barangnya tidak ada, bagaimana?” ujar Bernadus. Untuk mengatasi hal tersebut, pelaku industri melakukan diversifikasi sumber bahan baku, termasuk memanfaatkan alternatif seperti pirit maupun limbah industri berupa phosphogypsum.
Selain itu, industri nikel juga menghadapi tantangan dalam aspek keberlanjutan, terutama tingginya ketergantungan pada bahan bakar minyak seperti Marine Fuel Oil (MFO) dan diesel. Untuk mengatasi hal tersebut, Vale mulai mengkaji penggunaan teknologi ramah lingkungan, termasuk elektrifikasi kendaraan tambang. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala produktivitas.
Hilirisasi sebagai Arah Utama
Hilirisasi tetap menjadi arah utama industri nikel. Namun, hilirisasi membutuhkan dukungan investasi dan teknologi yang sebagian besar masih berasal dari luar negeri, khususnya China. Ketergantungan pada teknologi asing tersebut dinilai turut menambah kompleksitas risiko geopolitik dalam pengembangan industri nikel nasional.
Bernadus menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara peningkatan nilai komoditas dan keberlanjutan permintaan agar nikel tetap relevan sebagai motor transisi energi.
Dampak Pemangkasan Produksi pada Industri Batubara
Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Priyadi Sutarso, menyampaikan bahwa pengendalian atau pemangkasan produksi jika dilakukan mendadak tentu akan berdampak besar pada industri. Multiplier effect-nya besar sekali, tidak hanya sekadar hitung-hitungan penerimaan negara melalui PNBP saja.
Multiplayer effect dari pemangkasan produksi, antara lain tenaga kerja. Bahkan, sudah ada rencana lay off tenaga kerja, khususnya dari perusahaan kontraktor tambang seiring rencana pemangkasan produksi dalam RKAB yang akan diputuskan pemerintah.
Priyadi mencontohkan keputusan terkait ekspor batu bara. Jika sebelumnya ada larangan ekspor dan lebih memprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun karena harga yang melonjak, keputusan berubah dan keran ekspor batu bara kembali dibuka.
Tahun ini ada perang, sehingga harga batu bara juga naik. Hanya saja problemnya, minyak susah. Tentu hal ini berdampak pada operasi di tambang, terutama exsavator yang sebagian besar masih menggunakan solar.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











