Kenaikan Harga Kedelai Impor yang Mengancam Produksi Tempe dan Tahu
Harga kedelai impor di Jepara, Jawa Tengah, mengalami kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir. Kenaikan ini tercatat mencapai 30 hingga 50 persen dari harga normal biasanya. Hal ini memicu berbagai dampak bagi para perajin tempe dan tahu di wilayah tersebut.
Salah satu penyebab kenaikan harga kedelai adalah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Konflik ini berdampak pada pasokan bahan baku kedelai, terutama yang berasal dari negara-negara yang terlibat dalam perang tersebut. Salah satu jenis kedelai yang mengalami lonjakan harga adalah produk rekayasa genetik yang berasal dari Amerika Serikat, yang dikenal memiliki ukuran lebih besar dan kualitas tinggi.
Kenaikan harga ini sudah dirasakan oleh para perajin tempe dan tahu, meskipun masyarakat umumnya belum merasakan langsung dampaknya. Di tingkat produksi, kenaikan harga bahan baku kedelai menyebabkan ketidakstabilan dalam proses produksi.
Pengalaman Perajin Tempe di Desa Pecangaan Timur
Nur Santo (40), salah satu perajin tempe di Desa Pecangaan Timur, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, menjadi contoh nyata dampak kenaikan harga kedelai. Usaha miliknya, Tempe Super Isal Jaya, telah berjalan selama 31 tahun sejak didirikan pada 1996. Awalnya, usaha ini hanya memproduksi 25 kilogram kedelai per hari, namun kini telah berkembang pesat menjadi tiga kuintal per hari.
Tempe yang diproduksi Nur Santo memiliki pasar tetap di Pasar Pecangaan dan Pasar Mayong. Meski begitu, kenaikan harga bahan baku kedelai menjadi tantangan tersendiri. Sejak awal Maret 2026, harga kedelai naik dari Rp 8.600 per kilogram menjadi Rp 11.000 per kilogram.
“Naiknya harga kedelai terjadi saat puasa Ramadan. Mungkin karena faktor perang juga berpengaruh. Karena bahan baku kedelai yang saya gunakan dari Amerika Serikat. Kalau tidak kedelai impor, relatif kecil-kecil,” ujar Nur Santo.
Strategi untuk Menjaga Stabilitas Produksi
Meski harga kedelai naik, Nur Santo tidak mengurangi jumlah produksi. Ia masih memproduksi tiga kuintal per hari karena stok bahan baku masih tersedia. Namun, ia belum menaikkan harga jual tempe lantaran perajin lain juga belum berani melakukan hal serupa.
Untuk mengatasi kenaikan biaya produksi, Nur Santo melakukan pengurangan ukuran tempe sebesar 0,5 sentimeter pada setiap ukuran yang diproduksi. Misalnya, ukuran tempe 15×7 sentimeter yang sebelumnya dijual Rp 2.500 kini menjadi 15×6,5 sentimeter. Ukuran 17×9 sentimeter berubah menjadi 17×8,5 sentimeter.
“Pengurangan ini dilakukan agar kami tidak merugi dan bisa tetap mendapatkan untung meski sedikit,” tambah Nur Santo.
Masalah Tambahan: Harga Plastik yang Naik
Selain kenaikan harga kedelai, Nur Santo juga mengeluhkan kenaikan harga plastik sebesar 100 persen. Dari sebelumnya Rp 36.000 per kilogram, kini menjadi Rp 72.000 per kilogram. Kondisi ini semakin memberatkan para perajin yang masih menggunakan plastik sebagai kemasan.
“Kami harap harga kedelai segera stabil sebelum harga tempe naik. Sudah plastik mahal, bahan baku kedelai juga mahal, nanti kalau harga tempe ikut naik, masyarakat akan resah,” ujarnya.
Dampak pada Omzet dan Keuntungan
Akibat kenaikan harga kedelai, omzet Nur Santo turun sekitar 5 hingga 10 persen. Namun, ia masih bisa mendapatkan keuntungan meski sedikit berkat upaya pengurangan ukuran tempe.
Dengan situasi ini, para perajin tempe dan tahu di Jepara harus terus beradaptasi agar bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











