My WordPress Blog
Bisnis  

Pengrajin Tempe Jepara Keluhkan Harga Kedelai Tinggi, Nur Santo Kurangi Ukuran untuk Bertahan

Perajin Tempe di Jepara Menghadapi Tantangan Harga Kedelai yang Melonjak

Harga kedelai impor mengalami kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir, mulai dari awal Maret 2026. Kenaikan ini mencapai kisaran 30 hingga 50 persen dibandingkan harga normal. Salah satu faktor penyebabnya adalah meningkatnya eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Hal ini memengaruhi pasokan dan harga bahan baku seperti kedelai.

Salah satu jenis kedelai yang mengalami lonjakan harga adalah produk rekayasa genetik yang berasal dari Amerika Serikat. Kedelai ini dikenal memiliki ukuran yang lebih besar dan kualitas yang baik, sehingga sering digunakan oleh para perajin tempe dan tahu.

Kenaikan harga kedelai ini sudah dirasakan oleh para perajin tahu dan tempe. Meskipun masyarakat umumnya belum merasakan langsung dampaknya, para pengrajin menghadapi tantangan dalam menjaga kestabilan produksi.

Di Desa Pecangaan Timur, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Nur Santo (40) merupakan salah satu perajin tempe yang telah berdiri sejak tahun 1996. Usaha Tempe Super Isal Jaya miliknya sudah berjalan selama 31 tahun. Awalnya, ia hanya memproduksi 25 kilogram kedelai setiap hari, namun kini telah berkembang menjadi tiga kuintal per hari.

Tempe yang diproduksi oleh Nur Santo memiliki pelanggan tetap di Pasar Pecangaan dan Pasar Mayong. Produksi tempe yang stabil membuat usahanya tetap bertahan dalam beberapa tahun terakhir.

“Awalnya saya ikut paman di Mayong, lalu mendirikan sendiri secara kecil-kecilan. Sekarang sudah bisa memproduksi tiga kuintal per hari dengan bantuan empat orang karyawan,” ujarnya pada Jumat (3/4/2026).

Naiknya harga bahan baku kedelai menjadi tantangan bagi para perajin. Sejak awal Maret 2026, harga kedelai naik dari Rp 8.600 per kilogram menjadi Rp 11.000 per kilogram. Harga tersebut berlaku untuk kedelai impor yang dinilai lebih bagus untuk pembuatan tempe.

Nur Santo menggunakan kedelai impor dari Amerika Serikat karena kualitasnya lebih baik. Ia pernah mencoba kedelai lokal, namun hasilnya kurang maksimal. Hal ini membuatnya tidak yakin dengan kualitas kedelai lokal untuk produksi tempe.

Meski harga kedelai naik, Nur Santo tidak mengurangi jumlah produksi. Stok bahan baku masih tersedia, sehingga produksi tetap berjalan. Namun, dia belum menaikkan harga tempe karena perajin lain juga belum berani menaikkan harga jual.

Untuk menutup biaya pembelian bahan baku yang mahal, Nur Santo mengurangi ukuran tempe sebesar 0,5 sentimeter. Hal ini dilakukan agar tidak merugi dan tetap mendapatkan untung meski sedikit.

“Harga tempe belum naik selagi produsen lain belum sepakat menaikkan harga. Terutama produsen tahu. Jika harga tahu naik, biasanya tempe juga akan ikut naik,” ujarnya.

Contohnya, ukuran tempe 15×7 sentimeter yang dijual Rp 2.500 kini diubah menjadi 15×6,5 sentimeter. Ukuran 17×9 sentimeter yang dijual Rp 4.000 berubah menjadi 17×8,5 sentimeter. Pengurangan ini juga berlaku pada ukuran tempe 2 meter yang dijual dalam bentuk potongan sesuai permintaan.

“Prinsipnya harga gak naik, tapi ukuran diperkecil, otomatis isinya akan berkurang. Mau enggak mau harus dilakukan agar kami tetap bertahan,” katanya.

Selain itu, Nur Santo juga mengeluhkan kenaikan harga plastik yang naik 100 persen. Dari sebelumnya Rp 36.000 per kilogram, kini menjadi Rp 72.000 per kilogram. Kondisi ini semakin memberatkan para perajin yang masih menggunakan plastik.

Dengan kenaikan harga kedelai dan plastik, omzet Nur Santo turun sekitar 5-10 persen. Namun, usahanya masih untung walau sedikit berkat upaya mengurangi ukuran tempe.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *