Proses Totalitas Angga Yunanda dalam Film “Para Perasuk”
Aktor muda berbakat Angga Yunanda kembali menunjukkan dedikasinya dalam mengeksplorasi peran lewat film terbarunya, Para Perasuk, yang akan tayang pada 23 April 2026. Dalam film ini, ia memerankan karakter utama bernama Bayu, seorang perasuk yang membantu para ‘pelamun’ ke dalam sebuah alam kerusakan dalam Pesta Sambetan. Pelamun adalah orang-orang yang mencari kesenangan melalui proses kerasukan. Sebelum menjadi perasuk, Bayu digambarkan memiliki masa lalu yang cukup keras di Jakarta, termasuk bekerja sebagai manusia silver, profesi yang identik dengan perjuangan hidup di tengah keterbatasan.
Keputusan untuk menjadi perasuk mencerminkan keinginan Bayu untuk memperbaiki nasib dan meninggalkan masa lalu yang ia anggap tidak ingin diulang. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu hidup lebih baik tanpa harus kembali ke pekerjaan lamanya. Selain itu, Bayu juga ingin membuktikan kepada sang papa bahwa dirinya bisa mandiri dan bertahan hidup tanpa bergantung pada kehidupan jalanan di Jakarta.
“Makanya dia berusaha menjadi perasuk untuk membuktikan bahwa ‘Aku bisa hidup di Desa Lantas ini. Aku nggak butuh kembali ke jalanan lagi dan aku akan membuktikan itu kepada Bapak’. Jadi sangat butuh pembuktian,” kata Wregas Bhanuteja, sutradara film Para Perasuk.
Tantangan saat Memerankan Manusia Silver

Dalam proses syuting, Angga Yunanda mengungkapkan bahwa penggunaan cat manusia silver tidak terasa sakit di kulit. Namun, tantangan utamanya terletak pada ketebalan cat yang harus diaplikasikan dan detail agar terlihat maksimal di kamera film. Bagian tersulit bagi Angga Yunanda adalah saat membersihkan cat di tubuhnya. Ia mengungkapkan bahwa proses menghapus makeup manusia silver memakan waktu dan tenaga lebih besar dibanding saat memakainya.
“Yang paling susah sebenarnya bukan apply dan shooting-nya. Ngelepasnya, membersihkannya itu susah sekali. Kayaknya, ya sejam lah ada di polas-poles polas-poles sampai semuanya,” ujar Angga Yunanda.
Merasa Empati terhadap Setiap Profesi

Angga Yunanda mengaku bahwa pengalamannya memerankan manusia silver dalam film Para Perasuk memberikan perspektif yang sangat berbeda. Ia tidak lagi melihat profesi tersebut dari luar, melainkan merasakan langsung tantangan yang dihadapi. Pengalaman itu membuatnya lebih memahami realita di balik pekerjaan tersebut. Ia menyadari bahwa menjadi manusia silver bukanlah hal yang mudah, terutama dalam hal mencari penghasilan untuk bertahan hidup dengan melakukan berbagai cara.
“Aku merasakan bagaimana susahnya untuk mencari uang dan bagaimana cara mereka untuk bisa melakukan segala cara untuk bisa bertahan hidup. Dan aku merasa jadi semakin bersimpati sama apapun pekerjaan yang sudah kita lakukan untuk kita bisa bertahan hidup demi diri sendiri yang kuat,” ungkap Angga Yunanda.
Dukungan Orangtua yang Membuat Angga Yunanda Menjadi Aktor

Angga Yunanda yang merasakan empati pada setiap pekerjaan yang dijalankan, seperti menjadi seorang manusia silver, membuatnya ikut menceritakan bahwa perjalanan kariernya tidaklah mudah, terutama karena ia lahir dan besar di Lombok. Menurutnya, berasal dari daerah membuat peluang untuk masuk ke industri hiburan menjadi lebih terbatas dibandingkan mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta.
Ia juga menambahkan bahwa hingga kini masih sangat sedikit orang dari daerah asalnya yang berhasil menembus industri yang sama. Hal ini membuat perjuangannya terasa lebih menantang, sekaligus menjadi pengalaman berharga dalam membentuk mental dan ketekunannya sebagai seorang aktor.
“Pertama kali usia 15 tahun (berkecimpung di dunia seni peran) dan itu pun cukup sulit karena aku kan memang lahir dan besar di Lombok. Jadi sebenarnya untuk bisa berada di industri seperti ini, entertainment tuh sangat sulit dan jarang banget. Bahkan sampai sekarang pun mungkin aku ngelihat mungkin baru satu atau dua orang yang berada di industri yang sama, berasal dari daerah yang sama,” cerita Angga Yunanda.
Namun, di balik perjuangannya itu, ada satu hal yang membuat dirinya berhasil menjadi aktor berbakat, yakni berkat support system dari keluarganya. Apalagi di usianya yang masih muda itu, ia harus meninggalkan orangtuanya demi mengejar karier di dunia hiburan, yang tentu bukanlah hal mudah.
“Tapi, ternyata di usia 15 tahun ini, nggak cuma dari aku yang ingin, tapi support system dari keluarga juga mendukung. Itu yang menurut aku salah satu yang penting juga dari perjalanan aktorku. Aku nggak ngerasa sendirian, ada yang membantu secara emosional juga,” lanjut Angga Yunanda.
Walau jauh dari keluarga, ia merasa kehadiran keluarganya tetap dekat secara emosional. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuatnya tidak merasa sendirian dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan di awal kariernya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











