Peran Spektrum 5G dalam Mengembangkan Jaringan Telekomunikasi
Raksasa teknologi telekomunikasi asal Swedia, Ericsson, menyarankan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk merilis spektrum frekuensi 5G dengan harga yang terjangkau. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi biaya produksi operator seluler, sehingga tarif layanan di tingkat konsumen bisa lebih murah.
Ronni Nurmal, Director and Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, menjelaskan bahwa tren global saat ini menunjukkan pergeseran kebijakan pemerintah dalam mengelola sumber daya spektrum. Di Eropa, misalnya, pemerintah mulai mengurangi beban Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi yang selama ini dianggap terlalu besar bagi operator.
Sebagai contoh, pada 2018, pemerintah Prancis memutuskan untuk tidak memaksimalkan pendapatan negara dari lelang frekuensi. Sebaliknya, mereka memberikan lisensi spektrum dengan harga rendah atau perpanjangan gratis kepada operator. Namun, operator wajib berkomitmen menghilangkan “zona buta” (dead zones) di area pedesaan dan mempercepat penggelaran 4G/5G di jalur transportasi utama. Akibatnya, Prancis mengalami lonjakan dalam jangkauan seluler di wilayah terpencil dalam waktu singkat dibandingkan negara Eropa lainnya yang menerapkan lelang harga tinggi.
Tujuannya adalah agar operator justru berinvestasi di jaringan (network). Karena dana operator terbatas, daripada habis untuk bayar BHP, pemerintah meminta mereka membangun cakupan 5G dengan komitmen tertentu.
Dampak Biaya Spektrum terhadap Kecepatan dan Cakupan Jaringan
Studi global dari GSMA terhadap lebih dari 250 operator di 100 negara mengungkapkan bahwa penurunan biaya spektrum sebesar 10 poin persentase (dalam rasio biaya terhadap pendapatan) berkorelasi dengan peningkatan kecepatan unduh rata-rata sebesar 8% dan biaya spektrum yang lebih rendah 10 poin persentase mampu meningkatkan cakupan jaringan (4G/5G) hingga 6%.
Hal itu terjadi karena operator seluler mengalihkan biaya spektrum mereka untuk investasi di jaringan.
Di Indonesia, menurut laporan yang sama, biaya spektrum tahunan terhadap pendapatan rutin operator seluler mencapai 12,2%. Lebih tinggi dari media regional Asia Pasifik yang sebesar 8,7% dan median global yang sebesar 7%.
Ketersediaan spektrum frekuensi menjadi kunci utama dalam mengantisipasi lonjakan trafik data, terutama dengan masifnya adopsi Kecerdasan Buatan (AI) ke depan. Tanpa tambahan spektrum, beban operator untuk mengakomodasi kebutuhan data tinggi akan semakin berat, yang berisiko melambatkan adopsi teknologi mutakhir di Tanah Air.
Ericsson merekomendasikan pemerintah untuk segera merilis pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz secara bersamaan. Frekuensi 700 MHz dinilai unggul untuk penetrasi sinyal di dalam ruangan (deep penetration), sementara 2,6 GHz sangat ideal untuk kapasitas 5G guna mengelola pertumbuhan trafik.
Skema Pembagian Spektrum yang Berkeadilan
Terkait perdebatan mengenai skema pembagian spektrum, Ronni menekankan pentingnya menciptakan kompetisi yang sehat bagi tiga operator seluler yang tersisa di Indonesia pascakonsolidasi. Ericsson memandang skema frekuensi yang berkeadilan cukup penting agar seluruh pemain dapat menjaga keberlangsungan bisnisnya.
Idealnya, setiap operator membutuhkan lebar pita sekitar 80 MHz hingga 100 MHz untuk menghadirkan layanan 5G yang optimal. Namun, pembagian di angka 60 MHz hingga 70 MHz pada pita 2,6 GHz dinilai masih cukup masuk akal (reasonable) untuk membantu menurunkan biaya operasional operator.
Selain 700 MHz dan 2,6 GHz, Ericsson juga mengingatkan pemerintah untuk mulai memikirkan peta jalan frekuensi 3.500 MHz (C-Band). Meski saat ini masih digunakan untuk layanan satelit, frekuensi ini merupakan “ladang emas” 5G global karena menyediakan lebar pita hingga 300 MHz yang dapat dibagi merata kepada operator.
Jika spektrum ini segera dirilis, forecast kebutuhan masyarakat akan response time cepat dan penggunaan multi-aplikasi dapat terpenuhi tanpa harus membebani struktur biaya industri telekomunikasi kita.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











