Tradisi Syawalan di Kepatihan, Sebuah Momentum Kebudayaan yang Menyatukan
Tradisi Syawalan di lingkungan Keraton dan Kepemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta tidak hanya menjadi magnet bagi masyarakat lokal, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para perantau. Di tengah ribuan warga yang memadati kawasan Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Senin (30/3/2026) pagi, tampak wajah-wajah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, menyatu dalam antrean panjang demi sebuah momen langka yakni bersalaman dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Sejak pukul 07.00 WIB, antrean warga sudah terlihat mengular di area pintu masuk Kepatihan. Memasuki siang hari, barisan manusia ini makin memanjang hingga ke pintu masuk Jalan Suryatmajan melalui kawasan Malioboro. Mereka hadir untuk mengikuti acara silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah bersama Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta tersebut.
Di antara penuh sesak ribuan warga, berdiri Maria Moy (27). Perempuan asal Serui, Papua, yang kini telah menetap di Yogyakarta selama lebih dari satu tahun ini sengaja datang sejak pagi. Bermodalkan informasi yang ia peroleh dari media sosial, Maria tiba di Kepatihan antara pukul 07.00 hingga 08.00 WIB dan langsung bergabung dengan rombongan warga yang telah lebih dulu memadati area.
Bagi Maria, kesempatan untuk bertatap muka dan bersalaman dengan pemimpin daerah ini adalah sebuah keistimewaan. “Belum tentu semua orang yang tinggal di Jogja bisa bertemu langsung dengan Sri Sultan. Ini kesempatan yang tidak datang dua atau tiga kali, jadi kalau ada kesempatan saya langsung datang,” ujarnya.
Antusiasme Maria tidak hanya terpusat pada sosok Sultan. Sebagai seorang pendatang, ia begitu menikmati suasana kultural yang terbangun di Kepatihan pagi itu. Terlebih, acara tersebut turut memanjakan masyarakat dengan hadirnya sekitar 70 angkringan yang menyajikan beragam kuliner khas Yogyakarta.
“Menurut saya acaranya luar biasa. Selain bisa bersalaman dengan Sultan, juga ada makanan yang disediakan. Ini pengalaman yang berbeda bagi saya,” paparnya. Pengalaman empiris ini semakin memperkaya sudut pandang Maria tentang kota tempatnya merantau. Baginya, Yogyakarta menawarkan daya tarik yang jauh lebih luas daripada sekadar predikatnya sebagai pusat akademis.
“Jogja bukan hanya dikenal sebagai kota pendidikan, tapi juga punya budaya dan karakter sendiri. Bahasanya berbeda, lingkungannya juga berbeda, jadi menarik sekali bisa ikut acara seperti ini,” ungkapnya dengan antusias.
Daya tarik Syawalan di Kepatihan ini memang melintasi berbagai lapisan dan latar belakang masyarakat. Jika Maria Moy hadir mewakili pandangan perantau, ribuan warga lokal pun datang dengan semangat yang tak kalah membara. Sebagian bahkan mengorganisasi diri untuk datang secara berkelompok.
Rohayatun, misalnya. Warga Jalan Parangtritis, Sewon, Kabupaten Bantul ini rela menyewa transportasi massal demi membawa rombongannya yang sebagian besar adalah kaum ibu. “Naik bus tadi tiga bus. Satu busnya berisi sekitar 30-an orang, jadi sekitar 90 orang,” kata Rohayatun. “Kebanyakan ibu-ibu semua,” jelasnya menambahkan.
Bagi warga lokal seperti Rohayatun, bersalaman dengan Sultan memiliki nilai spiritual dan kultural yang mendalam. Momentum Idulfitri menjadi waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi sekaligus memohon kebaikan. “Insyaallah bisa ketemu. Pengin silaturahmi, ngalap berkah,” katanya.
Harapan senada juga terucap dari Indro Santoso, warga Kalasan, Sleman. Mengetahui informasi acara dari anaknya yang bekerja di lingkungan Pemerintah Daerah DIY, Indro memboyong lima anggota keluarganya untuk hadir dan tiba di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB. Selain untuk mencicipi hidangan angkringan yang berjejer, tujuan utamanya adalah bertemu langsung dengan sosok pemimpin yang ia kagumi.
“Karismanya tinggi sekali. Jadi ingin sekali bisa bertemu langsung dan salaman,” ujarnya. Di mata Indro dan keluarganya, kehadiran puluhan angkringan dan terbukanya pintu Kepatihan bagi rakyat umum semakin menegaskan identitas Yogyakarta yang inklusif dan merakyat.
“Bagi kami, acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga simbol kedekatan antara pemimpin daerah dengan kami rakyatnya,” paparnya.
Kehadiran Angkringan Gratis, Membentuk Identitas Yogyakarta
Kehadiran 70 gerobak angkringan gratis mempertegas identitas Yogyakarta yang merakyat dan mempererat kedekatan antara pemimpin dengan rakyatnya. Setiap gerobak menyajikan beragam makanan khas kota ini, seperti gudeg, bakpia, dan wedang jahe, yang membuat acara Syawalan semakin hangat dan penuh makna.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











