My WordPress Blog

Harga cabai rawit merah turun menjadi Rp 45 ribu per kg usai Lebaran



Harga cabai di berbagai pasar mulai mengalami penurunan yang signifikan, baik di pasar induk maupun pasar rakyat. Hal ini membantu menjaga stabilitas harga pangan pasca-Idul Fitri 1447 Hijriah.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa selama masa Ramadan, harga cabai terutama cabai rawit merah sempat mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Namun, setelah Ramadan dan Idul Fitri, harga cabai mulai turun dan mendekati harga acuan penjualan tingkat konsumen.

“Usai Ramadan dan Idul Fitri, kondisi harga cabai telah menurun dan mendekati harga acuan penjualan tingkat konsumen,” ujar Ketut dalam pernyataannya secara tertulis pada Minggu (29/3).

Harga Cabai Berdasarkan Kualitas

Menurut Ketut, harga cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, mengalami penurunan yang kompak. Untuk cabai rawit merah, harganya berada di kisaran Rp 45.000 sampai Rp 60.000 per kilogram (kg) tergantung kualitasnya. Sementara itu, harga cabai rawit keriting juga melandai, dengan rentang harga antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per kg.

“Harga relatif bagus. Cabai rawit merah sudah sekitar Rp 60.000 per kg. Ini turun jadi sangat bagus. Cabai merah keriting sekitar Rp 40.000 malahan. Artinya, di sini harga relatif sangat bagus,” kata Ketut.

Selain itu, dia juga menyebutkan bahwa di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, harga cabai rawit merah telah mencapai angka Rp 60.000 per kg. Sementara untuk cabai merah keriting di pasar tersebut dibanderol pedagang di kisaran Rp 40.000 per kg.

Intervensi Pemerintah

Sebelumnya, pemerintah melakukan intervensi pasokan cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati. Bapanas menanggung biaya kirim dari Champion Cabai Enrekang, Sulawesi Selatan, sebanyak 3.150 kg, sehingga harga jual di pasar induk dapat menjadi lebih rendah.

Di sisi lain, kondisi harga dan pasokan di Pasar Induk Pare Kediri juga terpantau mengalami koreksi cukup signifikan. Untuk cabai rawit merah, harganya berada di kisaran Rp 33.000 sampai Rp 57.000 per kg tergantung kualitasnya. Sedangkan cabai merah keriting memiliki harga yang terjangkau, yaitu sekitar Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kg.

Faktor Penyebab Penurunan Harga

Adanya penurunan harga cabai rawit merah di berbagai tempat ini diduga dipengaruhi oleh faktor cuaca yang lebih mendukung aktivitas panen petik para petani pada minggu-minggu ini. Permintaan masyarakat pun cenderung normal seusai masa Ramadan dan Idul Fitri.

“Terlebih, proyeksi produksi bulanan cabai rawit merah selama Maret ini cukup meningkat dibandingkan bulan sebelumnya,” tambah Ketut.

Ia menyebutkan proyeksi neraca pangan cabai rawit merah mengestimasikan produksi di Maret dapat mencapai 164,6 ribu ton. Angka ini meningkat 16,4 persen dibandingkan produksi Februari yang berada di angka 141,3 ribu ton.



Dalam data Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan kedua Maret atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, kenaikan IPH cabai rawit merah terjadi di 198 kabupaten/kota, namun 48 kabupaten/kota masih mencatat harga sesuai batas HAP Rp 57.000 per kg.

Sementara itu, untuk IPH cabai merah keriting mengalami kenaikan di 131 kabupaten/kota. Namun, 97 kabupaten/kota masih dalam rentang harga wajar karena tidak melampaui HAP tingkat konsumen yang dipatok maksimal di Rp 55.000 per kg.

Langkah Pemerintah untuk Mengendalikan Harga Pangan

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan bahwa kenaikan tipis harga pada komoditas tertentu juga perlu dilihat sebagai bagian dari keseimbangan pasar agar produsen pangan tetap memperoleh manfaat ekonomi yang wajar dan baik.

Kendati demikian, Amran menegaskan akan memberantas praktik-praktik pedagang perantara atau middleman yang menjadi biang keladi anomali harga pangan. Menurutnya, rakyat tidak boleh kesulitan mengakses harga pangan sesuai ketetapan pemerintah.

Ia juga meminta Satgas Pangan seluruh Indonesia agar tak sungkan melakukan penyegelan bila menemukan adanya oknum yang membuat harga pangan naik.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *