My WordPress Blog
Budaya  

Warga Mencari Berkah di Tradisi Sesaji Gua Kreo

Tradisi Sesaji Rewanda di Gua Kreo, Semarang

Gua Kreo, yang terletak di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, menjadi pusat perhatian masyarakat saat tradisi tahunan Sesaji Rewanda berlangsung. Pada Sabtu (28/3/2026), ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan kirab dan ikut “ngalap” berkah dari gunungan hasil bumi serta sega kethek yang menjadi ciri khas tradisi ini.

Sejak pagi hari, suasana di sekitar Gua Kreo sudah ramai. Warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan prosesi kirab yang berlangsung dari permukiman warga menuju Gua Kreo. Beragam jenis gunungan diarak, mulai dari buah-buahan, kupat-lepet, nasi kuning, palawija hingga sega kethek. Momen pembagian gunungan menjadi momen paling dinantikan, dengan warga rela berdesakan demi mendapatkan bagian.

Yunita (29), warga Semarang Utara yang baru saja pindah ke Ngijo, Gunungpati, mengikuti tradisi ini untuk kedua kalinya. Ia mengaku senang karena bisa merasakan kebersamaan dan keberkahan dari tradisi ini. “Rasanya enak. Isinya nasi, sayur jantung pisang, dan peyek ikan asin,” kata Yunita sambil menunjukkan sega kethek yang ia bawa. Ia mendapatkan satu bungkus nasi kethek untuk dibagikan bersama anak dan dua saudaranya. Meski harus berbagi, ia merasa puas bisa ikut serta dalam tradisi yang sarat makna.

Ketua Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, menjelaskan bahwa tradisi Sesaji Rewanda merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas anugerah Tuhan, seperti kesehatan dan kelancaran rezeki. Selain itu, tradisi ini juga menjadi upaya melestarikan warisan leluhur yang dikaitkan dengan perjalanan Sunan Kalijaga.

Legenda di Balik Gua Kreo

Dalam legenda setempat, kawasan Gua Kreo memiliki keterkaitan dengan kisah perjalanan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk saka guru Masjid Agung Demak. Dalam prosesnya, kawanan kera dipercaya membantu sang wali mengatasi kesulitan saat kayu tersangkut di aliran sungai. Itulah alasan hingga kini masyarakat menjaga keberadaan kera di kawasan tersebut sebagai bagian dari warisan cerita.

Salah satu daya tarik utama dalam tradisi ini adalah gunungan nasi kethek. Hidangan sederhana yang berisi nasi, olahan daun singkong dan pepaya, serta lauk seperti tahu, tempe, dan telur menjadi simbol sedekah dan kebersamaan. Penyebutannya sebagai “kethek” atau monyet juga berkaitan dengan filosofi gotong royong dan keberadaan kera di kawasan Gua Kreo.

Abdul Karim, Ketua RW 03 Kandri, menjelaskan bahwa ada sekitar 1.000 bungkus sega kethek yang dibagikan dalam kegiatan tersebut. Sega kethek dibagikan tepat setelah prosesi pemotongan tumpeng. Saat sesi pembagian dibuka, warga langsung menyerbu gunungan tersebut. Bukan hanya manusia, kera-kera yang hidup di sekitar Gua Kreo juga ikut meramaikan suasana dengan mengambil nasi yang terjatuh.

Selain nasi kethek, air dari tujuh sumber mata air yang telah didoakan juga menjadi incaran warga. Tampak warga bergantian mengambil mata air tersebut untuk membasuh muka sembari berdoa. Sementara sebagian mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam botol dan membawanya pulang.

Peran Budaya dalam Masyarakat

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, menjelaskan bahwa rangkaian Sesaji Rewanda telah dimulai sejak Jumat (27/3/2026) malam melalui pertunjukan Mahakarya Gua Kreo. Pertunjukan legenda Gua Kreo yang dimainkan secara kolosal melibatkan lebih dari 150 penari dan pemusik. Menurut Iin, masyarakat yang terlibat bukan hanya berasal dari pelaku seni, melainkan juga warga di wilayah Kecamatan Gunungpati.

Iin menilai bahwa tradisi ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus mencerminkan nilai gotong royong yang masih dijalankan masyarakat. “Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita sudah diberikan nikmat hidup yang luar biasa. Demikian juga bagaimana manusia, alam, dan makhluk hidup lain bisa berdampingan,” jelasnya.


Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *