Beberapa maskapai penerbangan internasional mengumumkan kenaikan harga tiket dan biaya tambahan untuk bahan bakar, atau yang dikenal dengan fuel surcharge, sebagai dampak dari kenaikan harga minyak global. Hal ini terjadi akibat ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Salah satu contohnya adalah Cathay Pacific Airways, yang akan menaikkan fuel surcharge sebesar 34% mulai April mendatang.
Ini merupakan kenaikan kedua yang dilakukan Cathay Pacific dalam dua pekan terakhir. Perusahaan menyebut bahwa tekanan perang di Timur Tengah memengaruhi harga minyak dunia, sehingga menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan tersebut. Menurut laporan South China Morning Post (SMCP), Cathay menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar pesawat telah membuat lindung nilai (hedging) yang dilakukan perusahaan tidak lagi cukup untuk menutupi biaya operasional yang meningkat. Biaya bahan bakar menyumbang sekitar 30% dari total biaya operasi perusahaan pada 2025.
Pada pertengahan Maret, beberapa maskapai penerbangan di Asia dan Eropa juga mengumumkan kenaikan harga tiket, fuel surcharge, atau penyesuaian jadwal penerbangan mereka. Hal ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga avtur dan gangguan pada rute penerbangan utama.
Berikut adalah beberapa langkah yang diambil oleh maskapai penerbangan:
- Qantas Airways: Mengumumkan kenaikan harga tiket karena kenaikan harga bahan bakar pesawat yang signifikan.
- Scandinavian Airlines (SAS): Maskapai ini menaikkan harga tiket sementara akibat kenaikan harga bahan bakar yang tinggi.
- Air New Zealand: Melaporkan kenaikan harga bahan bakar pesawat dari US$ 80-90 per barel sebelum konflik menjadi US$ 150-200 per barel. Maskapai ini juga menunda pengumuman prospek finansial perusahaan untuk tahun fiskal 2026 karena ketidakpastian akibat konflik.
- Lufthansa dan Ryanair: Masih memiliki kontrak lindung nilai bahan bakar pesawat untuk mengamankan sebagian kebutuhan energinya.
- Finnair: Telah melakukan lindung nilai untuk 80% kebutuhan energinya pada kuartal pertama tahun ini, namun memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan bisa memengaruhi harga dan ketersediaan bahan bakar.
Selain itu, ruang udara di Timur Tengah juga mengalami gangguan. Menurut pantauan Flighradar24, pesawat yang menuju Dubai diperintahkan untuk bertahan di udara sebelum bisa mendarat karena ancaman rudal. Akibatnya, beberapa maskapai penerbangan menyesuaikan rute penerbangannya. Contohnya:
- Qantas Airways: Mempertimbangkan pengalihan sebagian kapasitas penerbangannya ke rute Eropa.
- Cathay Pacific: Berencana menambah penerbangan ke London dan Zurich.
- Hong Kong Airlines: Mengumumkan kenaikan fuel surcharge sebesar 35,2%.
- Air India: Secara bertahap menaikkan biaya bahan bakar untuk rute internasional maupun domestik.
International Airlines Group, induk usaha British Airways, menyatakan tidak berencana menaikkan harga tiket dalam jangka pendek karena sudah memiliki pasokan energi melalui lindung nilai. Namun, British Airways mempercepat penghentian penerbangan musim dingin ke Abu Dhabi karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Para analis memprediksi bahwa kenaikan harga bahan bakar jet dan terbatasnya ruang udara bisa membatasi rencana ekspansi maskapai penerbangan serta memicu kenaikan harga tiket lebih lanjut. Selain itu, maskapai penerbangan global juga menghadapi tekanan dari keterbatasan ruang udara, terutama setelah sejumlah maskapai Eropa menghindari ruang udara Rusia sejak perang Rusia-Ukraina pecah. Dengan adanya konflik di Timur Tengah, prospek bisnis maskapai penerbangan semakin menantang.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











