Ritual Gelo Sele: Upacara Syukur dan Penghormatan Kepada Leluhur
Suku Rumah Bey Leto Nalotete di Kelurahan Manumutin, Kabupaten Belu, kembali menggelar ritual adat Gelo Sele sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan dan penghormatan terhadap leluhur. Acara yang berlangsung pada 21 Maret 2026 ini menjadi bagian penting dalam menjaga nilai budaya serta menandai berkat hasil panen dan kehidupan masyarakat setempat.
Ritual Gelo Sele dilaksanakan setiap tiga tahun, sementara ritual tahunan dikenal dengan nama Sabor Sele. Tradisi ini telah berlangsung sejak zaman leluhur sebagai wujud syukur atas berkat Tuhan yang telah dikaruniakan bagi umat-Nya. Dalam ritual ini, para leluhur biasanya melaksanakan Sabor Sele dan Gelo Sele sebagai bentuk ucapan syukur, yang juga mencakup penghormatan terhadap bumi, air, lingkungan, dan leluhur.
Peran Tokoh Adat dalam Melestarikan Budaya
Tokoh adat Suku Kemak Dirubati, Djoese S. Martins Naibuti, menjelaskan bahwa ritual ini dipimpin oleh karnuli aisegi dan korel (sesepuh adat dan raja) yang terdiri dari Alfonsius Mau Lemas, Cristoveler Berelaka, dan Bey Frans Nai Bili. Mereka bertugas untuk melestarikan nilai budaya Suku Kemak Dirubati yang telah diwariskan turun-temurun dalam tatanan budaya kerajaan Dirubati.
Menurutnya, nilai budaya tersebut merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran masyarakat Suku Kemak Dirubati mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup. Nilai-nilai ini berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat.
“Hal ini sejalan dengan pendapat Koentjaraningrat (1979). Walaupun nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam masyarakat, tetapi sebagai konsep, suatu nilai budaya itu bersifat sangat umum,” jelasnya.
Namun, dengan sifatnya yang umum, nilai-nilai budaya dalam suatu kebudayaan berada dalam daerah emosional dari alam jiwa para individu yang menjadi warga dari kebudayaan bersangkutan.
Partisipasi Anak Laki-Laki Dewasa dalam Ritual
Lebih lanjut, Ia menyampaikan bahwa sebanyak 42 anak laki-laki dewasa dari Suku Bey Leto Nalotete bersama keluarganya, Maneheu Aimia (suku rumah dari garis perkawinan anak perempuan pertama), yang terdiri dari Maneheu Nakapu, Maneheu Bobolete, Maneheu Burolau, dan Maneheu Gorubu serta ka’ar no lair (suku rumah kakak adik), terlibat dalam ritual gelo sele yang dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2026 di Rumah adat Bey Leto Nalotete di Kelurahan Manumutin Kabupaten Belu.
Setiap anak laki-laki dewasa suku Bey Leto Nalotete mempersembahkan seekor ayam jantan sebagai ucapan syukur. Selain sebagai persembahan, ayam jantan tersebut juga digunakan oleh karnuli ai segi (sesepuh adat) sebagai media untuk mendeteksi suka-duka kehidupan pemiliknya melalui pengamatan pada kondisi usus ayam.
Selain ternak ayam, digunakan juga 3 ekor ternak babi. Setelah ternak babi dan ternak ayam disembelih, disiapkan bahan untuk persembahan sebagai ucapan syukur. Sambil menunggu bahan persembahan disiapkan, dilakukan ritual pergantian jagung lama dengan jagung baru yang terdapat di dalam uma luli (rumah adat), dilanjutkan dengan pengaturan bahan persembahan sebagai ucapan syukur.
Persembahan dalam Bentuk Ucapan Syukur
Ucapan syukur atas panen dan berkat lainnya yang diterima melalui ritual Gelo Sele disajikan dalam bentuk persembahan, seperti sanu posi serta da’a no bo yang dipersembahkan khusus bagi Tuhan, bumi, air, lingkungan, dan leluhur.
Persembahan tersebut disajikan dalam bentuk daging babi, daging ayam, jagung muda, sirih, dan pinang yang diletakkan didalam 27 taka (tanasak). Setelah dilakukan ritual persembahan, masing-masing anak laki-laki dewasa akan memperoleh satu tanasak dan wajib dimakan sampai habis. Khusus untuk tanasak yang dipersembahkan kepada si’ak (benda pusaka) harus dikonsumsi oleh anak laki-laki yang diyakini telah memiliki kedewasaan spiritual, emosional, dan religius.
Pada bagian akhir, sirih pinang yang digunakan sebagai bahan persembahan ucapan syukur dibagikan kepada semua keluarga yang hadir sebagai berkat dari Tuhan dan restu dari leluhur.











