Perjalanan Empat Hari dari Tangerang Selatan ke Palembang
Malam di Palembang memiliki ciri khasnya sendiri. Sungai Musi terlihat mengilap di bawah gemerlap lampu Jembatan Ampera, sementara aroma kota lama yang campuran antara air sungai, asap jalanan, dan kenangan mengambang pelan di udara. Di tengah suasana itu, Verisa Novri berdiri, Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB, dengan keringat yang belum sempat mengering dan senyum yang sudah tak bisa lagi disembunyikan.
Empat hari. Sekitar 400 kilometer. Dua puluh empat jam di atas sadel, membelah Jawa dan Sumatera dengan sepasang kaki dan satu keyakinan sederhana: bahwa pulang adalah sesuatu yang harus dirasakan, bukan sekadar ditempuh.
Di saat ribuan orang sibuk berburu tiket pesawat yang harganya terus melambung atau berjejal dalam antrean panjang di pelabuhan, pria berusia 50 tahun ini memilih jalan yang sunyi. Bukan karena tak mampu, bukan pula karena tak tahu cara lain. Verisa, seorang jurnalis foto kantor berita Xinhua, memilih bersepeda dari Tangerang Selatan menuju Palembang semata-mata karena baginya, mudik yang sesungguhnya bukan soal kecepatan tiba, melainkan soal bagaimana proses menuju ke sana dijalani dengan sepenuh kesadaran.
Perjalanan yang Penuh Makna
Selasa pagi, 17 Maret 2026, ketika kota masih menguap dari tidurnya, Verisa mengayuh meninggalkan hiruk-pikuk Tangerang Selatan. Perlengkapannya sederhana, terikat rapi di bagasi belakang sepeda. Tak ada kemewahan, tak ada jok empuk pendingin udara. Hanya tekad, tenaga, dan kepercayaan pada setiap kayuhan.
Dari Tangerang, ia mengarah ke Pelabuhan Merak, menyeberangi Selat Sunda, lalu menginjakkan roda di tanah Sumatera. Sejak saat itu, Jalur Lintas Timur (Jalintim) menjadi teman perjalanannya yang panjang dan tak selalu ramah.
Bagi kebanyakan pengemudi, Jalintim hanyalah jalan yang harus ditelan secepatnya. Namun bagi Verisa, jalur itu adalah ruang kontemplasi yang luas dan terbuka. Di sanalah ia berdialog dengan dirinya sendiri, menguji batas fisik yang ia sendiri belum yakin di mana ujungnya.
Matahari adalah lawan pertama. Teriknya membakar kulit tanpa kompromi. Lalu angin kencang, debu pekat yang mengepul dari ban-ban truk besar yang melintas tanpa peduli. Tanjakan-tanjakan panjang membelah hamparan perkebunan sawit, memaksa otot kaki menegang dan napas tersengal-sengal di setiap puncaknya.
Namun justru di titik-titik terberat itulah ia menemukan sesuatu yang tak akan pernah ia temukan di kursi pesawat maupun bangku bus ber-AC.
“Bersepeda memberikan kepuasan tersendiri dan fleksibilitas waktu. Tantangannya memang cuaca panas, tapi di situlah kesabaran dan konsistensi diuji,” katanya.
Pengalaman yang Berharga
Ia tak terburu-buru. Ketika senja mulai turun dan langit berubah jingga, Verisa akan mencari tempat singgah, masjid, kantor polisi, atau rest area di pinggir jalan. Di sana ia beristirahat, membersihkan diri, mengisi daya ponselnya, dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya. Prinsipnya sederhana namun teguh: roda hanya boleh berputar selagi hari masih terang.
Mudik dengan sepeda bukan hal baru bagi Verisa. Pada 2018, ia pernah menempuh rute sebaliknya, dari Palembang ke Tangerang Selatan, dan pengalaman itu rupanya terlalu bermakna untuk tidak diulang. Baginya, sepeda bukan sekadar alat angkut. Ia adalah medium untuk memahami perjalanan hidup itu sendiri.
Selain bebas dari kemacetan yang mengular menjelang Lebaran, perjalanan ini juga terbilang hemat secara luar biasa. Selama empat hari di jalan, Verisa hanya menghabiskan sekitar Rp350.000, cukup untuk air minum dan losmen-losmen sederhana di pinggir jalan.
Meski begitu, penghematan bukan yang ia kejar. Yang ia cari adalah kebebasan itu, kebebasan untuk berhenti kapan saja saat lelah, kapan saja saat lapar, atau kapan saja saat mata menangkap pemandangan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.
“Saya ingin merasakan setiap kilometer perjalanan, menyapa waktu, dan membiarkan diri larut dalam ritme kayuhan yang perlahan namun pasti,” ujarnya.

Suasana kendaraan melintasi jalur saat pemberlakuan sistem satu arah (one way) sepenggal di jalur mudik Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026) malam. Satlantas Polresta Bandung pada H-2 Lebaran Idul Fitri 2026 telah melakukan sebanyak empat kali sistem satu arah sepenggal di jalur Nagreg menuju jalur Limbangan, Garut dan Tasikmalaya guna mengurai kemacetan volume kendaraan yang mencapai 129.328 hingga pukul 20.00 WIB. – (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Pengalaman yang Tak Terlupakan
Dan sebagai jurnalis foto, instingnya tak pernah benar-benar istirahat. Di sela-sela perjalanan, ia kerap berhenti untuk memotret, lanskap pedesaan yang membentang, jalanan lurus yang membelah hamparan hijau, atau wajah-wajah warga yang ditemuinya secara tak sengaja. Setiap jepret adalah cerita, setiap potret adalah kenangan yang ia simpan bersama kilometer-kilometer yang telah dilalui.
“Jalur sunyi” yang ia pilih rupanya tidak selalu sunyi dalam makna yang sesungguhnya. Di Lubuk Seberuk, ketika kelelahan mulai menggerogoti, seorang sopir truk menepi dan menawarkan tumpangan. Tanpa ragu Verisa menerimanya. Sekitar 50 kilometer ia lalui di atas kabin truk hingga Kayu Agung, memberi waktu bagi tubuhnya untuk memulihkan diri sebelum kembali mengayuh.
Di sepanjang perjalanan, sapaan-sapaan hangat dari warga yang ia temui menjadi bahan bakar tersendiri. Senyum dari tepi jalan, pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tulus, kadang sepiring makanan yang ditawarkan tanpa syarat. Dalam perjalanan yang tampak sendiri itu, ia justru menemukan banyak kebersamaan.
“Mudik naik sepeda ini sebenarnya suka-suka saya. Kalau ingin bersepeda, ya saya pergi. Tapi kalau ingin naik transportasi umum, ya itu juga bisa,” katanya sambil tersenyum ringan.
Akhirnya, malam itu tiba juga. Di bawah kerlip lampu Jembatan Ampera, Verisa Novri mengakhiri perjalanan panjangnya. Rasa lelah luruh pelan-pelan, digantikan oleh sesuatu yang lebih ringan, lega, syukur, dan bahagia yang sederhana namun dalam.
Sebelum mengetuk pintu rumah, sebelum merasakan pelukan orang tua yang sudah lama dirindukan, ada satu ritual yang tak boleh dilewatkan: semangkuk mie celor. Bagi Verisa, kuliner khas Palembang itu bukan sekadar pengganjal lapar setelah perjalanan panjang. Ia adalah pintu masuk ke kenangan, penanda bahwa ia benar-benar telah pulang.
Dalam dunia yang terus berpacu dengan kecepatan, Verisa Novri memilih untuk melambat. Empat hari, 400 kilometer, sepasang kaki, dan satu hati yang penuh, ia membuktikan bahwa perjalanan yang paling berarti bukanlah yang paling cepat atau paling nyaman, melainkan yang paling dirasakan.
Mudiknya bukan soal efisiensi. Mudiknya adalah puisi yang ditulis dengan kayuhan sepeda, bait demi bait, dari Tangerang Selatan hingga ke pelukan orang tua di Palembang.











