My WordPress Blog

Selang Air Maswar: Cara Sederhana Menyambut Idul Fitri



JAKARTA — Langit di Jorong Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tampak cerah pada Kamis siang. Di bawah sinar matahari yang hangat, sisa-sisa lumpur yang mengering perlahan terkelupas dari halaman rumah warga. Di antara jejak bencana yang belum sepenuhnya hilang, ada gerak yang pelan namun pasti, orang-orang kembali, membersihkan, dan mencoba memulai lagi.

Di halaman rumahnya, Maswar (64) menggenggam selang air, menyiram tanah yang masih menyimpan sisa lumpur setinggi beberapa sentimeter. Air mengalir, membawa serta debu dan kenangan buruk yang belum lama berlalu. Di sampingnya, sang istri duduk diam, menatap kosong ke arah halaman yang kini asing, seolah masih mencari bentuk lama dari kehidupan mereka.

“Mau Lebaran di sini, beramai-ramai di sini. Kami bersihkan halaman dulu, sudah tiga hari ini,” kata Maswar lirih.

Banjir bandang yang menerjang kawasan itu beberapa bulan lalu telah merenggut banyak hal. Warung kecil miliknya lenyap tanpa sisa, begitu pula empang yang dulu menjadi sumber penghidupan. Sungai yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya berubah menjadi arus ganas, membawa batu dan batang kayu besar yang menghantam apa saja di hadapannya.

Kini, bagian dalam rumah Maswar memang telah dibersihkan oleh relawan. Namun halaman masih menyimpan sisa bencana. Ia bahkan harus menyewa tenaga tambahan untuk mengangkat tanah yang mengendap. Di tengah keterbatasan, ia merancang hal sederhana: menggelar karpet di ruang tamu dan mengundang keluarga untuk berdoa bersama saat Lebaran tiba.

Keputusan untuk kembali ke rumah, meski trauma masih membekas, bukan perkara mudah. Istrinya, yang mengalami stroke pada tangan kanan, memilih tetap berada di rumah lama. “Ibu mau di sini, ibu juga harus dijaga perasaan, masih trauma,” ujar Maswar, mencoba tegar.

Tak jauh dari sana, beberapa warga lain tampak membenahi saluran air secara manual. Cangkul beradu dengan tanah yang masih basah, seolah menjadi simbol upaya mencegah luka lama terulang kembali saat hujan turun.

Yeni (44), yang kini tinggal di hunian sementara, juga kembali ke rumah lamanya. Bagian depan rumahnya rusak, kaca pecah akibat hantaman batang kayu saat banjir. Di halaman, sofa-sofa rusak dibiarkan teronggok, menjadi saksi bisu kekuatan alam yang pernah mengamuk.

Namun bagi Yeni, rumah itu tetap berarti. Ia membersihkannya perlahan, menyiapkan karpet plastik untuk menyambut keluarga dari perantauan.

“Bekas galodo dibersihkan kalau ada di rantau mau pulang. Nanti ada kue untuk dimakan sama-sama,” ucapnya.

Bencana yang melanda Agam pada akhir November 2025 bukanlah peristiwa kecil. Banjir bandang, longsor, hingga angin puting beliung merenggut 165 jiwa dan memaksa lebih dari tiga ribu orang mengungsi. Angka-angka itu mungkin dingin, tetapi di baliknya ada cerita-cerita yang masih hangat, tentang kehilangan dan upaya bangkit.

Cerita serupa juga datang dari Aceh Timur. Di sebuah toko pakaian di Idi, Intan berdiri di antara deretan baju baru, menggandeng anak-anaknya yang tampak memilih dengan mata berbinar. Beberapa bulan lalu, banjir merendam rumah mereka, menyisakan kerusakan dan kesulitan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Namun menjelang Idul Fitri, ia memilih menghadirkan kegembiraan kecil.

“Saya mau keluarga dan anak-anak sambut Lebaran dengan lebih semangat,” katanya.

Bagi Intan, membeli pakaian baru bukan sekadar tradisi, melainkan cara sederhana untuk memulihkan harapan. Ia tak ingin anak-anaknya larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Hal serupa dirasakan Chairul Azimi. Ia datang ke toko yang sama dengan tujuan sederhana: mencari pakaian yang terjangkau namun tetap layak. Kondisi ekonomi pascabanjir memang belum stabil, tetapi ia tak ingin anak-anaknya kehilangan momen Lebaran.

“Bagaimana pun harus semangat untuk rayakan Lebaran,” ujarnya.

Di dua tempat yang berbeda, satu hal terasa sama: manusia selalu menemukan cara untuk bertahan. Di antara lumpur yang belum sepenuhnya kering di Agam, dan di antara rak pakaian sederhana di Aceh Timur, harapan itu tetap tumbuh, diam-diam, namun pasti.

Lebaran, bagi mereka, bukan lagi sekadar perayaan. Ia menjadi penanda bahwa hidup, betapapun beratnya, tetap bergerak maju.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *