Festival Ngadulag dan Takbir Keliling Kembali Menghidupkan Tradisi Bedug di Karawang
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang kembali menggelar Festival Ngadulag dan Takbir Keliling dalam rangka memperingati malam takbiran Idulfitri 1447 H. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi bedug yang sempat vakum selama beberapa tahun terakhir.
Festival kali ini diikuti oleh 30 kecamatan yang tersebar di tiga lokasi, yaitu di kawasan Pemda Karawang, Cikampek, dan Tirtajaya. Ribuan warga hadir dalam acara tersebut, menciptakan suasana yang meriah dan kondusif. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya peserta yang tampil dengan konsep tradisional tanpa sentuhan modern.
Peserta Tampilkan Bedug Tradisional
Salah satu peserta, Udin Puyuh, perwakilan dari Kecamatan Telukjambe Barat, menjelaskan bahwa kelompoknya menggunakan alat musik tradisional seperti dulag dari pohon gebang, kohkol, serta peralatan sederhana seperti panci dan kecrek. Ia menyatakan bahwa penampilan mereka tetap mempertahankan keaslian dan tidak menggunakan alat musik modern seperti organ.
“Kami tidak membawa yang mewah-mewah. Ini asli dulag, alami. Sesuai arahan juga, jangan pakai yang modern seperti organ. Yang penting takbir dan tetap tradisional,” ujarnya.
Meski tampil sederhana, semangat untuk menjadi yang terbaik tetap ada. Udin berharap bisa menang dalam festival ini, meskipun penampilannya tetap alami dan tradisional.
Tradisi Arak Bedug Dihidupkan Kembali
Udin juga menyampaikan bahwa festival ini menjadi angin segar bagi masyarakat, terutama dalam menghidupkan kembali tradisi arak bedug yang sempat vakum. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan serupa sebenarnya pernah ada sejak puluhan tahun lalu, namun perlahan menghilang.
“Dulu saya pernah ikut sekitar tahun 90-an. Sempat hampir hilang, sekarang dibangkitkan lagi. Alhamdulillah, ini bagus sekali,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa kehadiran festival ini membawa dampak positif, terutama dalam menjaga ketertiban masyarakat saat malam takbiran. Jika sebelumnya aktivitas warga cenderung tidak terarah, kini lebih terorganisir dan penuh makna.
Bupati Karawang: Festival untuk Lestarikan Budaya dan Jaga Ketertiban
Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang menjadi tradisi masyarakat tersebut. Ia menjelaskan bahwa pembagian tiga titik kegiatan bertujuan untuk memudahkan partisipasi masyarakat di setiap wilayah kecamatan.
“Tahun ini ada tiga titik kegiatan, di Pemda, Cikampek, dan Tirtajaya. Kita ingin setiap kecamatan tidak harus datang ke pusat kabupaten Karawang,” katanya.
Lebih lanjut, Aep menegaskan bahwa Festival Ngadulag bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari upaya melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat identitas Karawang sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia, serta nilai religius.
Hadiah dan Penilaian Objektif
Festival Ngadulag dan Takbir Keliling memberikan hadiah juara 1 sebesar Rp 5 juta, juara 2 sebesar Rp 3 juta, dan juara 3 sebesar Rp 2 juta. Setiap kecamatan mengirimkan perwakilan terbaiknya untuk dinilai oleh dewan juri. Penilaian dilakukan secara objektif guna menentukan peserta terbaik dari masing-masing titik.
Harapan Bupati Karawang adalah melalui kegiatan ini, masyarakat kembali merasakan kebersihan hati atau fitri. Ia berharap tahun depan, kita masih dipertemukan dengan Ramadan dan Idulfitri.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











