Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan arus dana asing yang terus keluar dalam beberapa waktu terakhir. Namun, di tengah kondisi ini, sejumlah saham besar tetap menjadi incaran investor global. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa dalam sepekan terakhir, dana asing tercatat keluar sebesar Rp 2,51 triliun di pasar reguler dan Rp 2,93 triliun di seluruh pasar.
Dalam satu bulan terakhir, arus keluar dana asing di pasar reguler mencapai Rp 8 triliun. Meski demikian, secara keseluruhan, pasar masih mencatat net buy sebesar Rp 2 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada penarikan dana, sebagian besar investor tetap mempertahankan posisinya di pasar saham Indonesia.
Di tengah situasi ini, beberapa saham berkapitalisasi besar justru mengalami akumulasi dana asing. Contohnya adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net buy sebesar Rp 1,7 triliun dalam sebulan terakhir. Selanjutnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat net buy sebesar Rp 955,2 miliar, sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencapai Rp 670,5 miliar.
Saham-saham lain yang juga mendapat perhatian investor asing antara lain PT Astra International Tbk (ASII) dengan net buy Rp 578,4 miliar, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar Rp 422,1 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 403 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 359,3 miliar, serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp 320,1 miliar.
Selain itu, investor asing juga melakukan pembelian bersih pada PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebesar Rp 291,4 miliar dan PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar Rp 282,3 miliar.
Menurut Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, fenomena ini menunjukkan strategi akumulasi selektif oleh investor institusi global. Mereka cenderung memilih saham berkapitalisasi besar yang memiliki visibilitas laba kuat. Saham-saham tersebut juga memiliki likuiditas tinggi, neraca yang solid, serta eksposur pada sektor inti ekonomi domestik seperti perbankan, energi, dan infrastruktur digital.
Koreksi harga saham belakangan juga membuka peluang bagi investor asing untuk kembali masuk secara bertahap. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa valuasi saham blue chip saat ini relatif menarik secara historis. Selain itu, tingkat likuiditas tinggi membuat saham-saham penggerak pasar tetap menjadi tujuan utama arus dana global.
Ia juga menilai sektor energi dan tambang mendapat sentimen tambahan dari ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong permintaan komoditas energi. “Secara keseluruhan, koreksi harga di berbagai sektor menciptakan titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang,” ujarnya.
Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, melihat bahwa investor asing cenderung memilih saham blue chip yang stabil dan menawarkan dividen menarik di tengah volatilitas global. Ke depan, sektor perbankan besar, energi, dan telekomunikasi diperkirakan masih menjadi fokus akumulasi, meskipun rotasi sektor tetap mungkin terjadi mengikuti perubahan kondisi ekonomi global.
Dari sisi fundamental, kinerja emiten yang banyak dibeli asing dinilai masih solid. Perbankan besar seperti BMRI didukung pertumbuhan kredit yang tetap kuat dan margin bunga yang terjaga. Emiten komoditas seperti PTBA dan AADI masih ditopang permintaan energi global, sementara TLKM dan ISAT memiliki prospek pertumbuhan dari ekspansi layanan data dan pengembangan infrastruktur digital, termasuk jaringan 5G.
Meski demikian, analis menilai arus dana asing dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif, terutama dipengaruhi arah suku bunga global, pergerakan dolar AS, serta risiko geopolitik. Namun jika ekspektasi penurunan suku bunga global semakin jelas dan tekanan terhadap mata uang emerging markets mereda, arus dana asing berpeluang kembali masuk ke pasar saham Indonesia secara bertahap.
Untuk rekomendasi investasi, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk TLKM dengan target harga Rp 4.000 per saham, BMRI Rp 6.200, ASII Rp 7.450, ADRO Rp 2.630, dan UNTR Rp 33.000 per saham. Sementara Indo Premier Sekuritas merekomendasikan beli TLKM dengan target harga Rp 3.260 per saham.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











