Persiapan Pembagian Dividen Tahun Buku 2025 oleh Bank-Bank Terbuka
Memasuki bulan ketiga tahun ini, sejumlah perusahaan terbuka di sektor perbankan telah mempersiapkan langkah-langkah untuk menagih restu pemegang saham dalam pembagian dividen tahun buku 2025. Hal ini dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), yang menjadi momen penting dalam menentukan kebijakan keuangan perusahaan.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi salah satu bank pertama yang telah menyelenggarakan RUPST tahun buku 2025 pada 9 Maret 2026. Dalam rapat tersebut, BBNI berhasil mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk membagikan dividen final sebesar Rp 349,41 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp 13,03 triliun atau setara dengan 65% dari laba bersih konsolidasi sebesar Rp 20,04 triliun. Meskipun rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) sama dengan tahun lalu, penurunan laba sebesar 6,6% secara tahunan membuat jumlah dividen lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai Rp 13,95 triliun.
Selanjutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga telah menggelar RUPST pada 12 Maret 2026 dan berhasil mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk membagikan dividen sebesar Rp 336 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp 41,4 triliun, setara dengan 72% dari laba bersih tahun buku 2025. Ini menjadi level DPR tertinggi yang pernah dibagikan oleh BBCA. Secara historis, perseroan biasanya membagikan dividen dengan rasio antara 67% hingga 70%. Pada tahun buku 2024, DPR BBCA mencapai 67,4% senilai Rp 36,98 triliun.
Tidak hanya memutuskan DPR yang lebih tinggi, BBCA juga berencana membagikan dividen interim tiga kali dalam setahun untuk tahun buku 2026. Hal ini menunjukkan komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkala.
Perkembangan Dividen dari Bank Lainnya
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga telah mengumumkan jadwal RUPST tahun buku 2025, yaitu pada 10 April 2026. Direktur Utama BRI, Herry Gunardi, membuka opsi untuk menaikkan DPR dari level historis sebagai bentuk komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham. Menurut Herry, jika dividen yang diberikan lebih besar, maka Return on Equity (ROE) juga akan meningkat.
Hingga akhir 2025, BBRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57,13 triliun, turun 5,26% secara tahunan. Pada tahun buku 2024, BBRI membagikan dividen dengan DPR sebesar 86%. Jika DPR tahun ini lebih tinggi, total dividen yang mungkin dibagikan bisa melebihi Rp 49,14 triliun.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) belum mengumumkan jadwal RUPST tahun buku 2025. Namun, Direktur Utama BMRI, Riduan, menyatakan bahwa DPR untuk periode ini tidak akan jauh berbeda dari tahun sebelumnya yang sebesar 78%. Meski begitu, Riduan tidak menutup kemungkinan untuk memberikan jumlah yang lebih besar dari tahun lalu. Pada tahun buku 2025, laba bersih BMRI tumbuh 0,93% secara tahunan menjadi Rp 56,3 triliun. Jika DPR tetap di level 78%, total dividen yang akan dibagikan mencapai sekitar Rp 43,9 triliun.
Upaya Meningkatkan Rasio Dividen
Dari jajaran KBMI III, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga belum mengumumkan rencana RUPST. Namun, Direktur Utama BBTN, Nixon Napitupulu, mengungkapkan bahwa pihaknya membuka opsi untuk menaikkan DPR untuk tahun buku 2025. Pada tahun buku 2024, DPR BTN berada di level 25%. Tahun ini, perseroan berupaya memperkuat rasio return of earning (ROE) salah satunya melalui peningkatan DPR.
Nixon menjelaskan bahwa pihaknya ingin menjaga ROE agar berada di atas 12%, bahkan bisa mencapai 14%. Untuk mencapai hal tersebut, perseroan akan memberikan DPR sedikit lebih besar, yaitu antara 25% hingga 30%. Pada tahun buku 2025, laba bersih BBTN mencapai Rp 3,5 triliun, tumbuh 16,4% secara tahunan. Dengan asumsi DPR di kisaran 25%–30%, total dividen yang mungkin dibagikan mencapai antara Rp 875 miliar hingga Rp 1,05 triliun.
Sementara itu, PT Bank Permata Tbk (BNLI) telah dipastikan menggelar RUPST pada 7 April 2026. Salah satu agenda utamanya adalah penetapan penggunaan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025. Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah BNLI, Rudy Basyir Ahmad, memastikan bahwa pihaknya akan menjaga DPR yang komplien dan stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun buku 2024, BNLI membagikan dividen senilai Rp 1,08 triliun atau Rp 30 per saham, setara dengan DPR 30,26%. Pada tahun buku 2025, pertumbuhan laba bersih BNLI cenderung landai sebesar 0,59% secara tahunan menjadi Rp 3,59 triliun. Dengan asumsi DPR di kisaran 30%, potensi total dividen yang dibagikan bank tetap stabil di kisaran Rp 1,08 triliun.
Analisis Kepala Riset
Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, meskipun sejumlah bank yang mencatatkan penurunan laba berpotensi membagikan dividen dengan jumlah lebih kecil seperti BBNI, konsistensi mempertahankan payout ratio yang tinggi tetap menjadi daya tarik. Ia menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan struktur modal yang solid dan komitmen kuat terhadap pemegang saham, meskipun nominal dividen menyesuaikan fluktuasi laba.
Wafi menilai bahwa konsistensi dividen ini menjadi daya tarik besar bagi investor ritel yang mencari kepastian yield di tengah volatilitas pasar. Namun, ia menekankan bahwa prospek kinerja masing-masing emiten tetap memainkan peran penting dalam menentukan daya tarik jangka panjang.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











