Harita Nickel, sebagai salah satu pemasok bahan baku baterai kendaraan listrik, telah menempatkan dekarbonisasi sebagai bagian dari transformasi operasional jangka panjang. Perusahaan terus berupaya untuk mencapai target Emisi Nol Bersih (NZE) dengan tenggat waktu hingga tahun 2060. Dalam era transisi energi yang kini menjadi agenda strategis nasional dan global, industri nikel pun turut menjadi perhatian utama.
Pasar global, investor, serta standar keberlanjutan internasional semakin mendorong praktik pertambangan yang lebih bersih, efisien, dan bertanggung jawab. Hal ini sangat relevan bagi Indonesia, yang merupakan produsen nikel terbesar dunia. Saat ini, negara ini sedang memperkuat posisinya dalam rantai pasok global melalui hilirisasi mineral.
Peta Jalan Dekarbonisasi Harita Nickel
Dalam upayanya mengurangi emisi, Harita Nickel memiliki tahapan rencana dekarbonisasi dalam bentuk Peta Jalan. Berikut rinciannya:
-
Jangka Pendek (2025)
Pada tahap ini, penggunaan energi terbarukan mencapai 23%. Untuk mencapai target ini, perusahaan melakukan instalasi panel surya dan penempatan 40 MW panel surya di atap. -
Jangka Menengah (2030)
Targetnya adalah pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 30%. Selain melalui panel surya, kebutuhan energi perusahaan akan berasal dari sumber energi berkelanjutan lainnya. -
Jangka Panjang (2060)
Tujuannya adalah mencapai Emisi Nol Bersih. Upaya yang dilakukan melalui transisi menuju energi terbarukan dan teknologi penangkapan karbon.
Ragam Upaya Dekarbonisasi Harita Nickel
Perusahaan menjalankan berbagai inisiatif untuk menekan emisi secara berkelanjutan melalui pendekatan continuous improvement. Berikut beberapa inisiatif utamanya:
-
Waste Heat Recovery
Melalui unit operasi PT Halmahera Persada Lygend (HPL), Harita Nickel menggunakan teknologi high pressure acid leach (HPAL) di Pulau Obi, Maluku Utara. Teknologi ini digunakan untuk mengolah bijih nikel kadar rendah atau limonit yang dulu dianggap tidak bernilai ekonomis. Dengan sistem waste heat recovery, panas buang dari teknologi tersebut dapat dimanfaatkan menjadi listrik. Hasilnya, panas buang yang dulu terbuang kini diubah menjadi listrik setara 9 juta liter bensin per tahun dan mengurangi emisi sebanyak 307.988 ton CO2e. -
Panel Tenaga Surya
Harita Nickel juga membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 megawatt-peak (MWp) di kawasan operasional. Direktur Health, Safety & Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny Gultom, menyebut bahwa investasi ini penting untuk operasional yang rendah emisi. PLTS ini juga digunakan untuk penerangan jalan di kawasan industri Obi, menghasilkan 98 gigajoule (GJ) energi dan mengurangi emisi sebesar 42,83 ton CO2e. -
Pemanfaatan Minyak Jelantah
Dapur operasional Harita Nickel, yang melayani 20.000 karyawan, menghasilkan minyak jelantah dalam jumlah besar setiap harinya. Limbah ini disuling kembali untuk dijadikan bahan bakar alternatif untuk smelter. Program ini berhasil menggantikan sekitar 21% kalori batubara dan mengurangi konsumsi batubara sekitar 10 ton per hari. Inisiatif ini membawa Harita Nickel meraih Green Initiatives Awards (KGIA) 2025. -
Gasifikasi Batubara
Harita Nickel memanfaatkan teknologi gasifikasi untuk mengonversi batubara menjadi syngas sebagai sumber energi alternatif yang lebih efisien dan rendah emisi. Proses ini menghasilkan energi sebesar 14.129.194 GJ dan menekan emisi hingga 935.901 ton CO2e. Gas hasil gasifikasi juga diintegrasikan ke dalam proses Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). -
Pemanfaatan Biosolar
Harita Nickel saat ini menggunakan Biosolar, bahan bakar dengan kandungan 35% bahan berbasis hayati. Bahan bakar ini digunakan untuk pembangkit listrik dan moda transportasi. Penggunaannya meningkat dari 30% menjadi 35%, menghasilkan 1.213.663 GJ energi dan menekan emisi sebesar 88.937 tCO2e. -
Penggunaan Kendaraan Listrik
PT HPL mulai mengoperasikan kendaraan penarik serta forklift listrik di area gudang nikel sulfat. Ini merupakan upaya perusahaan menekan emisi dari aktivitas logistik internal, yang terbukti berkontribusi pada pemanfaatan energi terbarukan sebesar 191 GJ dan mencegah emisi sekitar 8 tCO2e.
Kesimpulan
Rangkaian inisiatif yang dilakukan Harita Nickel menunjukkan bahwa dekarbonisasi di industri nikel dapat dilakukan dan bukan hanya sekadar mengejar target pengurangan emisi di atas kertas. Upaya-upaya ini membutuhkan konsistensi, investasi, serta keberanian untuk mengubah cara kerja lama. “Pertambangan yang bertanggung jawab harus membawa manfaat jangka panjang, tidak hanya secara ekonomi, tapi juga sosial dan ekologis,” pungkas Tonny.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











