Perkembangan Literasi Digital dan Tantangan Literasi Al-Qur’an
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah literasi digital menjadi kata yang nyaris wajib hadir dalam setiap diskursus kebijakan publik. Pemerintah, lembaga pendidikan, hingga berbagai komunitas sosial berlomba-lomba menyiapkan masyarakat agar tidak tertinggal oleh gelombang teknologi dan informasi.
Gerakan ini tentu patut diapresiasi. Dunia memang berubah cepat, dan manusia perlu memiliki kecakapan baru untuk membaca realitas digital yang semakin kompleks. Namun di tengah euforia itu, ada sebuah kenyataan yang jarang disentuh dengan kejujuran intelektual: literasi Al Quran di negeri ini masih menyimpan pekerjaan rumah yang besar.
Survei nasional Kementerian Agama tahun 2023 yang melibatkan 10.347 responden memang menunjukkan bahwa indeks literasi Al-Qur’an berada pada angka 66,038, yang dikategorikan tinggi. Angka ini sekilas memberikan kesan optimistis. Tetapi ketika angka itu dibaca secara lebih jujur, gambaran yang muncul justru jauh dari kata tenang. Sebab terdapat 11,3 persen responden tidak memiliki mushaf Al-Qur’an di rumahnya. Sebanyak 22,2 persen responden mengaku tidak terdapat majelis pembelajaran baca tulis Al-Qur’an (BTQ) di lingkungan tempat tinggal mereka. Lebih jauh lagi, 59,36 persen responden tidak pernah mengikuti majelis pembelajaran BTQ di lingkungannya. Hal paling mengusik adalah fakta bahwa 38,49 persen responden belum memiliki literasi membaca Al-Qur’an.
Angka ini seharusnya menggugah kesadaran kolektif kita. Sebab ia tidak sekadar berbicara tentang statistik pendidikan agama. Ia menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar: relasi umat dengan kitab sucinya sendiri. Di negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia, ternyata masih ada rumah-rumah yang tidak memiliki mushaf. Masih ada lingkungan yang tidak menyediakan ruang belajar Al-Qur’an. Dan masih banyak warga yang belum mampu membaca wahyu yang mereka imani. Jika kenyataan ini tidak membuat kita gelisah, mungkin ada yang keliru dengan sensitivitas spiritual kita.
Literasi Al-Qur’an dan Tantangan Struktural
Ada kecenderungan menarik dalam cara kita menyusun prioritas kebijakan. Kita sangat serius menyiapkan generasi menghadapi masa depan digital. Kurikulum diperbarui, program literasi diperluas, dan anggaran digerakkan untuk memperkuat kapasitas teknologi masyarakat. Namun pada saat yang sama, literasi Al-Qur’an sering kali diserahkan sepenuhnya kepada kerja sunyi masyarakat akar rumput. Ia hidup dari dedikasi para guru mengaji, dari kesabaran para orang tua, dan dari keberkahan majelis-majelis kecil di kampung-kampung.
Tetapi dalam banyak kasus, negara belum sepenuhnya hadir untuk memperkuat ekosistem ini secara serius. Padahal jika dilihat lebih dalam, persoalan literasi Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari masalah struktural yang nyata, terutama menyangkut posisi guru mengaji. Di banyak daerah, khususnya di pelosok, guru mengaji masih hidup dalam kondisi yang jauh dari standar kesejahteraan yang layak. Profesi ini sering dipandang sebagai pekerjaan sampingan, bukan sebagai profesi yang membutuhkan kompetensi khusus.
Padahal mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas membaca teks suci. Ia membutuhkan kapasitas pedagogis, ketepatan ilmu tajwid, penguasaan makhraj huruf, hingga kemampuan membimbing spiritualitas murid. Dalam praktiknya, bahkan terdapat jenjang kompetensi yang berbeda: guru Iqra, guru Tahsin, hingga guru Tilawah. Masing-masing memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Namun perlakuan sosial terhadap mereka sering kali sama: minim penghargaan, minim perlindungan, dan sering kali hidup dalam ketidakpastian ekonomi.
Solusi untuk Meningkatkan Literasi Al-Qur’an
Tidak mengherankan, jika bagi sebagian orang, menjadi guru mengaji masih dianggap sebagai pilihan pahit yang lahir dari keterbatasan pilihan lain. Padahal dalam perspektif peradaban Islam, profesi ini justru merupakan pilar paling mendasar dalam transmisi nilai-nilai wahyu kepada generasi berikutnya. Karena itu, persoalan literasi Al-Qur’an tidak cukup dijawab dengan program seremonial atau kampanye simbolik. Ia membutuhkan kesadaran kebijakan yang lebih tajam dan lebih jujur.
Gerakan literasi digital memang penting, tetapi literasi wahyu tidak boleh tertinggal di belakang. Sebab pada akhirnya, literasi digital membantu manusia membaca dunia. Sedangkan literasi Al-Qur’an membantu manusia memahami makna hidupnya. Jika yang pertama mempersiapkan manusia untuk masa depan teknologi, maka yang kedua mempersiapkan manusia untuk pertanggungjawaban eksistensial di hadapan Tuhan.
Beberapa hal yang patut menjadi perhatian serius. Pertama, akses terhadap mushaf Al-Qur’an harus menjadi bagian dari agenda literasi nasional. Jika masih ada rumah Muslim yang tidak memiliki mushaf, maka itu bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan distribusi perhatian dalam kebijakan publik. Kedua, majelis pembelajaran Al-Qur’an di tingkat komunitas perlu diperkuat secara sistematis. Masjid, mushalla, dan ruang-ruang sosial keagamaan seharusnya menjadi pusat literasi Al-Qur’an yang hidup. Ketiga, penguatan kapasitas dan kesejahteraan guru mengaji harus menjadi prioritas strategis. Tanpa mereka, seluruh program literasi Al-Qur’an hanya akan berhenti sebagai slogan administratif.
Jika negara telah berinvestasi besar untuk membangun literasi digital, kini saatnya, kebijakan juga memberi perhatian serius pada literasi wahyu. Pada akhirnya, kita memang hidup di zaman layar digital. Namun manusia tidak hanya hidup untuk memahami teknologi. Ada satu perjumpaan yang pasti terjadi dalam perjalanan hidup manusia: perjumpaan dengan Tuhan. Dan pada hari itu, mungkin yang akan paling berarti bukanlah seberapa jauh kita mampu membaca algoritma dunia digital. Melainkan seberapa dekat kita dengan huruf-huruf wahyu yang pernah diturunkan untuk menuntun kehidupan kita.
Jika literasi digital membantu manusia agar tidak tersesat di dunia, maka literasi Al-Qur’an membantu manusia agar tidak tersesat dalam hidupnya. Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendalam: di tengah gemerlap layar digital hari ini, apakah huruf-huruf wahyu masih hidup di rumah-rumah kita?
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











