Perayaan Nyepi 2026: Festival Budaya Ogoh-Ogoh Meriah di Jakarta
Festival budaya pawai Ogoh-ogoh yang digelar di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Minggu (8/3/2026), menjadi momen penting dalam menyambut Hari Raya Nyepi 2026. Acara ini menarik perhatian ribuan peserta dan pengunjung yang hadir untuk merayakan tradisi keagamaan dan budaya.
Peserta dari Berbagai Komunitas
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 2000 peserta yang berasal dari berbagai komunitas umat Hindu di Jakarta dan sekitarnya. Salah satu komunitas yang ikut serta adalah komunitas Hindu dari Pura Ksatrya Loka Kalibata. Mereka turut memeriahkan festival dengan membawa Ogoh-ogoh berukuran jumbo.
I Gusti Ngurah Winaya, ketua Komunitas Umat Hindu Kalibata, menjelaskan bahwa Ogoh-ogoh yang dibawa dalam festival kali ini memiliki nama Kibara Mecaling. Ia mengatakan bahwa warna merah merupakan simbol dari orang Bali yang berasal dari wilayah Selatan sembilan.
“Kibara Mecaling. Kami orang Selatan, kalau urip-nya orang Bali itu Selatan sembilan, jadi merah warnanya. Nah itu kami pakai sebagai penolak bala,” ujar Winaya.

Ogoh-ogoh Kibara Mecaling yang dibawa oleh kelompoknya dibuat oleh pengrajin profesional bernama I Gusti Ngurah Winata. Menurut Winaya, pembuatan Ogoh-ogoh ini membutuhkan waktu selama sebulan dan terbuat dari material besi dan bambu sebagai konstruksi rangkanya.
“Bobotnya kurang lebih 500 kiloan lah, kalau tingginya kurang lebih tiga meter,” jelas dia.
Karena bobotnya yang cukup berat, diperlukan sekitar 20 orang untuk mengangkat Ogoh-ogoh tersebut selama proses pawai berlangsung.
Apresiasi terhadap Kegiatan Festival Budaya
Winaya menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan festival budaya dalam rangka menyambut hari Raya Nyepi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Acara ini luar biasa, sangat antusias warga Jakarta, kami selalu suport,” ucapnya.

Kemeriahan Meski Diguyur Hujan
Meski kawasan Bundaran HI diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, kemeriahan festival tetap berlangsung. Acara ini dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno.
Tidak hanya itu, sejumlah pejabat di tingkat nasional juga turut hadir, seperti Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagus Oka.
Pawai dimulai dari Monas menuju Bundaran HI, dengan ribuan peserta dari berbagai komunitas umat Hindu yang meramaikan festival dengan menggunakan pakaian adat kebaya dan saput serta udeng bagi laki-laki.

Keseruan makin lengkap ketika setiap defile membawa ogoh-ogoh berukuran jumbo, ditandu puluhan peserta laki-laki sambil digerakkan sesuai alunan Gamelan Bali. Di hadapan Gubernur dan Wakil Gubernur, Ogoh-ogoh akan menampilkan atraksi berputar sambil bergerak ke sana ke mari.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan bahwa pawai budaya ini merupakan hasil kerja sama dengan Suka Duka Hindu Dharma Jakarta Raya atau Parisada Hindu Dharma Indonesia.
“Pawai budaya tadi melibatkan hampir total 2.000 peserta, menampilkan 13 bahkan 15 ogoh-ogoh yang diarak dari satu rangkaian parade budaya,” kata Rano.
Menurut Rano, pawai budaya parade Ogoh-ogoh ini menjadi satu kesatuan dari rangkaian festival keagamaan yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah menggelar Festival Christmas Carol untuk merayakan Hari Raya Natal 2025 di Bundaran HI. Kemudian dilanjutkan dengan Festival Imlek, lalu masuk ke Ramadan dan kali ini memperingati Hari Raya Nyepi.
Pemprov DKI Jakarta juga telah menyiapkan kegiatan spesial untuk menyambut Hari Raya Idulfitri 2026 sebagai bagian dari rangkaian festival perayaan hari besar keagamaan.
“Pemprov DKI Jakarta mendukung kegiatan budaya seperti ini karena menjadi contoh bagaimana tradisi dan budaya dapat menjadi jembatan kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat Jakarta yang beragam,” ucap Rano.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











