Harga Minyak Mentah Melonjak di Atas 100 Dolar AS Per Barel
Harga minyak mentah mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026), melebihi ambang batas 100 dolar AS per barel. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa kenaikan harga tersebut bersifat sementara dan merupakan harga kecil yang harus dibayar demi menjaga keamanan global.
Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menilai bahwa kenaikan harga minyak akan segera terkoreksi setelah ancaman nuklir dari Iran berhasil diatasi. Ia menulis:
“Dalam jangka pendek harga minyak memang naik, tetapi akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dihancurkan. Ini adalah harga yang sangat kecil untuk keselamatan dan perdamaian Amerika Serikat dan dunia.”
Trump juga menegaskan bahwa pihak yang berbeda pendapat tidak memahami konteks keamanan global. “HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR BERBEDA,” katanya.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Salah satu faktor utama adalah risiko terhadap jalur distribusi minyak strategis dunia, yaitu Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global. Ketidakstabilan di kawasan tersebut sering kali langsung memicu lonjakan harga karena pasar khawatir pasokan minyak akan terganggu.
Kenaikan harga minyak saat ini tercatat sebagai yang terbesar sejak pecahnya invasi Rusia ke Ukraina, yang sebelumnya juga sempat mengguncang pasar energi global. Para analis energi menilai arah harga minyak dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di kawasan tersebut.

Harga minyak mentah melonjak hingga 22% ke atas US$110 per barel pada pembukaan perdagangan, memperpanjang kenaikan rekor 36% pada pekan lalu, setelah sejumlah produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi. – (Trading Economics)
Harga Minyak Berpotensi Terus Naik
Pemerintah Iran memperingatkan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas energi berisiko mendorong harga minyak dunia melonjak jauh lebih tinggi. Seorang juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa eskalasi militer dapat membawa harga minyak ke tingkat ekstrem.
“Jika Anda mampu menoleransi harga minyak lebih dari 200 dolar per barel, lanjutkan permainan ini,” katanya setelah serangan akhir pekan terhadap sejumlah lokasi energi, dilansir Guardian.
Ketegangan tersebut segera mengguncang pasar keuangan global pada awal pekan. Bursa saham di Asia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026). Indeks Nikkei 225 di Tokyo turun sekitar 6,3 persen pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan merosot 5,9 persen dan indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 3,9 persen.
Data perdagangan pra-pasar juga menunjukkan bahwa indeks utama di Wall Street diperkirakan akan dibuka melemah, menandakan potensi pekan yang bergejolak bagi pasar ekuitas global.
Kenaikan Harga Minyak yang Mencerminkan Ketegangan Global
Harga minyak mentah saat ini mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak masa pandemi COVID-19. Pada perdagangan Jumat saja, harga minyak mentah Amerika Serikat melonjak sekitar 10 dolar per barel.
Peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, Clayton Seigle, mengatakan pasar kini mulai meragukan kemampuan pemerintah Amerika Serikat untuk menahan dampak krisis energi. Menurutnya, pasar menghadapi potensi kekurangan pasokan hingga 20 juta barel per hari tanpa tanda-tanda perbaikan dalam waktu dekat.
“Pasar sebelumnya memberi waktu bagi pemerintahan Trump, tetapi periode itu telah berakhir. Presiden Trump menuntut penyerahan tanpa syarat, sesuatu yang sangat kecil kemungkinannya terjadi,” katanya.
Secara keseluruhan, harga minyak global telah melonjak sekitar dua pertiga sejak awal tahun, dari sekitar 60 dolar per barel menjadi lebih dari 100 dolar saat ini. Kenaikan tersebut sebenarnya sudah mulai terjadi sejak Januari dan Februari, namun meningkat tajam setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran lebih dari sepekan lalu. Serangan itu mengganggu jalur perdagangan penting bagi pasokan minyak dari Timur Tengah.
Kekhawatiran akan kekurangan pasokan global juga diperkuat oleh peringatan dari Qatar. Menteri energi negara tersebut mengatakan jika perang berlanjut tanpa henti, seluruh eksportir energi di kawasan Teluk berpotensi menghentikan produksi dalam beberapa pekan ke depan. Jika skenario tersebut terjadi, harga minyak diperkirakan dapat melonjak hingga sekitar 150 dolar per barel.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











