My WordPress Blog
Bisnis  

Kinerja perusahaan tambang terpuruk akibat harga batubara, ini proyeksi 2026



JAKARTA. Kinerja perusahaan tambang batubara di Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan berat pada tahun 2025, karena penurunan harga komoditas batu bara yang terus berlangsung. Hal ini menimbulkan tekanan terhadap pendapatan dan laba bersih sejumlah emiten dalam industri tersebut.

Berdasarkan data dari Bank Dunia, rata-rata harga batu bara termal Newcastle turun sebesar 20,4% secara tahunan menjadi US$ 108 per ton pada 2025, dibandingkan dengan posisi US$ 136 per ton pada 2024. Penurunan ini memengaruhi kinerja sejumlah perusahaan tambang, salah satunya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Pendapatan dan laba bersih ITMG masing-masing turun 19% dan 49% secara tahunan.

Research Analyst MNC Sekuritas Raka Junico menjelaskan bahwa penurunan pendapatan dan laba bersih para emiten batubara di 2025 merupakan isu yang umum dialami oleh seluruh industri. Dia menyebutkan bahwa tekanan ini tidak memandang ukuran perusahaan, baik itu perusahaan besar maupun kecil. Menurutnya, tekanan margin terjadi ketika harga jual turun sementara biaya produksi tetap stabil.

Meski demikian, Raka menilai bahwa perusahaan yang telah melakukan diversifikasi atau transformasi bisnis ke sektor lain relatif lebih unggul dalam menghadapi situasi ini. Diversifikasi membantu mengurangi ketergantungan pada siklus batubara, terutama dalam jangka menengah dan panjang, mengingat transisi energi menjadi prioritas global.

Beberapa emiten seperti PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) sudah mulai melakukan ekspansi ke sektor lain. Ketiganya memperluas sumber pendapatan di luar bisnis inti batubara, meskipun pendekatan dan fokusnya berbeda-beda.

INDY misalnya, sedang melakukan pergeseran dari bisnis batubara menuju portofolio yang lebih terdiversifikasi. Perusahaan ini merambah ke sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, logistik, hingga investasi di teknologi dan infrastruktur hijau.

Sementara itu, PTBA juga mulai mengembangkan proyek hilirisasi batubara dan energi baru terbarukan. Salah satu langkah mereka adalah menjajaki pengembangan pembangkit listrik berbasis energi bersih.

TOBA sendiri secara terbuka menyatakan transformasi fundamental dalam model bisnisnya. Perusahaan ini berkomitmen untuk beralih dari bisnis batubara menjadi perusahaan yang berorientasi pada keberlanjutan. Sebagai bagian dari strategi tersebut, TOBA telah mendivestasi sejumlah aset PLTU berbasis batu bara di Sulawesi Utara, yaitu PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP), yang diselesaikan pada Mei 2025.

Selain itu, TOBA juga mengalihkan fokus ke bisnis pengelolaan limbah domestik maupun regional. Mereka bahkan melakukan akuisisi aset pengolahan limbah dari Sembcorp di Singapura, yang kini bernama Cora Environment.

Dari perspektif pasar, emiten-emiten yang telah melakukan diversifikasi dan transformasi ke sektor bisnis di luar batubara cenderung mendapatkan penilaian lebih positif. Investor melihat adanya upaya mitigasi risiko siklus komoditas serta peluang pertumbuhan baru yang dinilai lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.

Menurut Raka, dengan bergeser dari sektor batu bara yang sangat siklikal, lini bisnis berbasis sustainability dinilai mampu memberikan stabilitas pendapatan dan laba yang lebih solid dalam jangka menengah hingga panjang. Selain itu, pendapatan dan arus kas dari sektor seperti pengelolaan limbah atau energi terbarukan relatif lebih bisa diprediksi dan tidak terlalu fluktuatif dibandingkan bisnis komoditas.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *