My WordPress Blog
Budaya  

Membangun Masjid Ramah Anak Saat Ramadan

Peran Masjid dalam Pendidikan Anak Selama Ramadan

Anak-anak adalah bagian penting dari masyarakat, dan topik tentang mereka selalu menarik untuk dibahas. Di setiap situasi dan momentum yang terjadi, selalu ada hal-hal baru yang bisa dipertimbangkan dalam konteks peran anak dalam kehidupan sosial. Salah satu momen yang sering menjadi perhatian adalah bulan Ramadan, saat keberadaan anak di berbagai ruang, termasuk masjid, menjadi fokus diskusi.

Selama Ramadan, anak-anak sering hadir di masjid baik secara langsung maupun melalui orang tua mereka. Namun, tidak semua anak dapat mengikuti sholat dengan tertib. Beberapa dari mereka berlari di tengah shaf, berteriak, atau bahkan berantam. Fenomena ini sering memicu perdebatan antara jama’ah masjid, terutama dalam menyikapi ketidaktertiban anak selama ibadah.

Terdapat dua kelompok pendapat terkait sikap terhadap anak di masjid. Pertama, kelompok ekstrem yang ingin menjaga khusyuknya sholat dengan mensterilkan anak yang tidak tertib. Ada anggota kelompok ini yang bahkan sampai menyakiti fisik atau mengusir anak dari masjid. Sementara itu, kelompok kedua lebih moderat, yang tidak mempermasalahkan keributan anak dan tidak menganggapnya sebagai gangguan. Mereka percaya bahwa kehadiran anak di masjid merupakan proses pendidikan karena ketidakdisiplinan tersebut tidak bersifat permanen dan akan hilang seiring bertambahnya usia dan pemahaman anak terhadap pentingnya sholat.

Menyikapi ketidaktertiban anak dengan cara yang terlalu ekstrem tidak direkomendasikan. Namun, membiarkan anak tanpa pengawasan juga bukan solusi yang tepat. Yang bijak adalah meminta orang tua untuk menjaga anak mereka, atau memisahkan anak di tempat tersendiri di bawah pengawasan orang dewasa sambil tetap memberi pengarahan dan nasehat.

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan bagi anak. Dalam konteks pembinaan anak di bulan Ramadan, pengurus takmir dapat menciptakan ruang-ruang perlombaan yang mampu mengasah kompetensi keislaman anak. Hal ini tidak hanya untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan, tetapi juga mentransfer amalan baik kepada anak selama berada di masjid. Anak akan merasa senang dengan masjid, bukan takut atau trauma karena diusir atau dibentak.

Menasehati anak tanpa mengusir atau menyakitinya menunjukkan bahwa masjid adalah tempat ramah anak. Ini juga merupakan bentuk dakwah dengan metode lemah lembut. Allah SWT dalam Alquran Surat An-Nahl ayat 125 memerintahkan untuk menyeru ke jalan Tuhan dengan hikmah, memberi pelajaran dengan baik, dan membantah dengan cara yang baik.

Kita harus belajar dari contoh Nabi Muhammad SAW dalam memperlakukan anak. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah mengimami sholat sambil menggendong cucunya, Umamah. Sikap Nabi ini menunjukkan penghargaan pada anak yang sedang diajarkan beribadah oleh orang-orang dekat mereka.

Dari kisah ini, Nabi ingin menunjukkan kearifannya dalam memperlakukan anak-anak yang memiliki budaya dan tradisi berbeda dari orang dewasa. Ia mengajarkan pentingnya pendidikan ibadah, pembiasaan, dan sikap ramah pada anak. Nabi mempraktikkan bagaimana seharusnya masjid atau tempat ibadah yang ramah anak.

Ajaran ini telah dilakukan jauh sebelum riset Kevin Lynch (1971-1975) tentang “children’s perception of the environment”, atau sebelum adanya konvensi hak anak dari PBB di tahun 2002, atau jauh sebelum saat ini sedang dikampanyekan dan dikompetisikan “kota ramah anak” atau “kota layak anak”.

Perhatian terhadap hak dan tumbuh kembang anak semakin masif dilakukan oleh institusi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat di level internasional sampai tingkat lokal. Di perguruan tinggi, hampir pasti ada lembaga atau unit kajian khusus tentang anak. Lembaga donor internasional pun tidak kurang menyalurkan bantuannya untuk kepentingan pendampingan anak dalam banyak aspek. Pemerintah juga menyiapkan banyak cara untuk merangsang perhatian eksekutif terhadap anak.

Oleh karena itu, jika saat ini ada masjid yang memperlihatkan perilaku tidak ramah anak maka hal tersebut kontras dengan tren perhatian global terhadap anak. Jangan sampai tempat ibadah umat Islam yang memiliki sejarah ramah anak justru menunjukkan fakta yang sebaliknya dari tren perhatian publik saat ini yang tinggi terhadap anak.

Bulan suci Ramadan adalah momen refleksi sekaligus pembuktian bahwa masjid benar-benar ramah anak. Antusiasme anak yang tinggi untuk hadir di masjid di saat bulan Ramadan harus kita jaga dengan sikap dan perilaku yang ramah terhadap mereka, dengan harapan rasa cinta mereka pada masjid beserta jamaahnya semakin tinggi sehingga proses regenerasi para pemakmur masjid berjalan baik. Semoga…

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *