Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Biaya Logistik dan Harga Barang di Indonesia
Kemunculan krisis di kawasan Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran telah memicu penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Peristiwa ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi di dalam negeri, terutama terkait dengan kenaikan biaya logistik dan harga barang.
Pengusaha Mulai Menghitung Dampak
Para pelaku usaha di Indonesia saat ini sedang memantau perkembangan situasi terkini pasca-penutupan Selat Hormuz. Menurut Tutum Rahanta, Ketua Dewan Penasihat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), dampak langsung dari peristiwa ini belum terasa sepenuhnya. Namun, tekanan akan muncul secara tidak langsung melalui kenaikan biaya logistik yang pada akhirnya berdampak pada harga barang di pasar.
Tutum menekankan bahwa sebagian besar produk konsumsi yang masuk ke pasar Indonesia berasal dari Asia, khususnya China. Oleh karena itu, dampak langsung dari penutupan Selat Hormuz masih relatif terbatas. Namun, ketidakpastian yang timbul dari situasi ini semakin memperbesar risiko bagi dunia usaha.
Kenaikan Biaya Logistik dan Harga Barang
Menurut Setijadi, founder dan CEO Supply Chain Indonesia, gangguan di Selat Hormuz bisa meningkatkan biaya distribusi nasional dan memicu kenaikan harga barang di dalam negeri. Jalur ini dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20-25 persen perdagangan LNG global. Setiap gangguan di sana dapat mendorong kenaikan harga energi internasional.
Dalam skenario paling berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen. Saat ini, Iran telah menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional menyusul serangan gabungan AS dan Israel. Penutupan ini membuat perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG.
Dampak Ekonomi Jangka Pendek dan Panjang
Setijadi memperhitungkan kenaikan harga ini dalam tiga skenario. Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar 25 dolar AS per barel berpotensi mendorong kenaikan harga solar Rp 750-Rp 2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Dalam skenario lebih berat, kenaikan harga minyak dunia bahkan bisa mencapai 50 dolar AS per barel.
Dengan asumsi komponen BBM berkisar 35-40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen (skenario ringan) dapat mendorong kenaikan ongkos angkut 3,5-4 persen. Sementara jika harga solar meningkat 20 persen (skenario moderat), ongkos truk berpotensi naik 7-8 persen. Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen.
Risiko Inflasi dan Stabilitas Ekonomi
Dengan rata-rata biaya logistik di Indonesia sekitar 14 persen dari harga produk dan sekitar separuh komponen logistik berasal dari transportasi jalan, Setijadi memperkirakan, kenaikan ongkos truk 7-8 persen berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata 0,5 persen. Dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji.
Setijadi juga mengingatkan bahwa risiko inflasi biaya produksi berdampak pada komoditas pangan dan kebutuhan pokok. Industri berbasis impor bahan baku kini menghadapi risiko ganda, yakni kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak serta peningkatan biaya distribusi domestik.
Langkah yang Diperlukan
Untuk menjaga stabilitas harga BBM, pemerintah perlu menjaga kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi. Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, juga dinilai krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.
Selain itu, industri perlu mengefisiensikan rute distribusi, konsolidasi muatan, serta menerapkan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik. Tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak eksternal berisiko langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











