My WordPress Blog
Bisnis  

Utang Bakrie Menggunung, Dampak Akuisisi Jalan Tol Cimanggis-Cibitung

Pengakuisisian 100% PT Cimanggis Cibitung Tollways dan Dampaknya terhadap Utang BNBR

PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), telah mengakuisisi 100% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) pada akhir tahun 2025. Aksi korporasi ini memberikan dampak signifikan terhadap struktur keuangan perseroan, khususnya meningkatkan jumlah utang yang dimiliki BNBR.

Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit untuk tahun buku 2025, BNBR mencatatkan liabilitas sebesar Rp18,89 triliun. Angka ini meningkat sebesar 547,6% dibandingkan dengan liabilitas pada tahun 2024 yang hanya sebesar Rp2,92 triliun. Peningkatan ini mencerminkan adanya lonjakan besar dalam utang jangka panjang maupun jangka pendek. Liabilitas jangka panjang mencapai Rp15,29 triliun, sedangkan liabilitas jangka pendek mencapai Rp3,59 triliun. Keduanya meningkat dari masing-masing Rp767,26 miliar dan Rp2,15 triliun pada tahun 2024.

Penyebab Lonjakan Liabilitas

Adanya peningkatan utang tersebut disebabkan oleh beberapa faktor:

  • Kenaikan pinjaman jangka pendek: Terjadi karena adanya pinjaman baru di perseroan dan entitas anak seperti Mayapada International sebesar Rp550 miliar, serta PT Bank Nasional Nobu Tbk. sebesar Rp700 miliar. Pinjaman ini digunakan untuk pendanaan akuisisi CCT.
  • Kenaikan utang usaha: Akibat dari akuisisi di Entitas anak yaitu PT Cimanggis Cibitung Tollways yang berasal dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk. dan PT Waskita Beton Precast Tbk.
  • Biaya yang masih harus dibayar: Termasuk akrual bunga pinjaman bank sebesar Rp66 miliar dan akrual biaya proyek yang belum ditagihkan oleh vendor PT Multi Kontrol Nusantara sebesar Rp119 miliar.
  • Penurunan atas uang muka pelanggan: Disebabkan oleh penggunaan uang muka pelanggan yang telah menjadi revenue di periode berjalan.
  • Kenaikan utang lain-lain jangka panjang dan provisi pelapisan jalan tol: Berkaitan dengan akuisisi PT Cimanggis Cibitung Tollways.
  • Kenaikan pinjaman jangka panjang: Termasuk pinjaman sindikasi sehubungan dengan akuisisi di PT Cimanggis Cibitung Tollways sebesar Rp9,7 miliar. Selain itu, ada pinjaman dari entitas anak (BTI) ke Hartman International Ltd sebesar Rp3,7 miliar. Pinjaman juga diperoleh dari PT Bank Mayapada International sebesar Rp550 miliar, serta pinjaman dari entitas anak untuk keperluan modal kerja seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar Rp321 miliar, PT Bank Nasional Nobu Tbk. sebesar Rp190 miliar, dan PT Bank MNC Internasional Tbk. sebesar Rp83 miliar.

Rights Issue untuk Menutupi Utang

Untuk menangani lonjakan utang tersebut, BNBR telah mendapatkan restu melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 Februari 2026 untuk melakukan aksi korporasi penambahan modal dengan hak membeli efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.

Melalui penerbitan saham baru sebanyak-banyaknya 90 miliar saham, perseroan berharap dapat mengumpulkan dana dari pasar antara Rp4 triliun hingga Rp6,5 triliun. Harga asumsi pelaksanaan rights issue ditetapkan di level Rp50 per saham. Namun, harga saham BNBR pada penutupan pasar Jumat (27/2) sudah melejit 32,92% ke Rp214.

Dengan adanya tambahan modal dari rights issue, rasio total pinjaman terhadap total ekuitas (debt to equity ratio) BNBR akan menurun dari 536,02% menjadi 211,57%. Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie menjelaskan bahwa tujuan dari rights issue ini adalah untuk membayar utang dari akuisisi tersebut, sehingga membuat rasio debt to equity lebih sehat dan likuid.

Potensi Keuntungan dari Akuisisi Tol Cimanggis-Cibitung

Anin menilai bahwa akuisisi Tol Cimanggis-Cibitung sepanjang 26 kilometer (km) melalui anak usahanya akan memberikan manfaat yang signifikan bagi BNBR. Ia menyatakan bahwa setiap harinya tol ini menghasilkan pendapatan sebesar Rp2 miliar, bahkan hari ini sudah mencapai Rp3 miliar per hari. Dengan 43.000 kendaraan per hari, tol ini sangat menarik dan memiliki potensi pertumbuhan yang baik.

Sebelumnya, BNBR memiliki 100% kepemilikan Tol Cimanggis-Cibitung, namun pada Juli 2015 silam, perseroan melepas 90% kepemilikannya ke PT Waskita Karya Persero Tbk. dengan nilai Rp522,15 miliar, sehingga hanya menyisakan 10% kepemilikan. Pada saat itu, BNBR mengalami rugi bersih sebesar Rp1,74 triliun, yang jauh lebih buruk dibandingkan laba bersih Rp155,10 miliar pada tahun 2014.

Namun, saat kesempatan ada, BNBR membeli kembali 90% kepemilikan tersebut dengan harga Rp3,5 triliun. Dengan rencana rights issue ini, perseroan berharap bisa membayar segala macam utang terkait dengan tol ini. Ia juga menyatakan bahwa akuisisi ini sangat bagus karena jumlah kendaraan per hari lebih tinggi dari prediksi awal.

Optimisme dan Prospek Masa Depan

Anin menjelaskan dua kondisi kontras kala Bakrie & Brothers melepas 90% kepemilikan 2015 silam dan membelinya kembali di 2025. Di tahun buku 2025, BNBR berhasil mendulang laba bersih sebesar Rp493,85 miliar, naik 5075% secara year on year dibandingkan Rp327,59 miliar pada 2024.

Selain itu, optimisme suksesnya penggalangan dana melalui rights issue yang dapat menutup keseluruhan utang yang timbul akibat akuisisi. Meski pasar saham sempat bergejolak dalam dua bulan terakhir, Anin cukup yakin dengan kondisi likuiditas saat ini.

Di sisi lain, bisnis-bisnis dari anak usaha Bakrie & Brothers menurutnya sudah mulai menghasilkan keuntungan. Misalnya, melalui PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai provider kendaraan Transjakarta hingga ekosistem electric vehicle (EV) yang terus berkembang. Atau, melalui PT Bakrie Toll Indonesia yang kembali menggenggam 100% Tol Cimanggis-Cibitung dengan putaran cuan Rp3 miliar per hari sesuai hitungannya.

“Jadi kita berharap di dalam Bakrie & Brothers itu ada stabilitas. Dengan adanya toll road, toll gas, jual pipa, manufaktur, konstruksi, juga ada pertumbuhan industri-industri seperti yang ditekuni oleh VKTR di bidang transportasi,” tandasnya.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *