Meningkatkan Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pengembangan Wisata Kesehatan
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengadakan Gathering Stakeholder Wisata Kesehatan sebagai upaya memperkuat kolaborasi antar sektor guna mendorong program Health Tourism 2026. Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti Prof. dr. Ali Ghanie, Sp.PD-KKV, FINASIM, dr. F. Hadi Halim, Sp.PD-KP FINASIM, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Trisnawarman, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel Rudi Irawan, Ketua ASITA Sumsel Febi, Kemas Abdulatif dari Pramuwisata, serta para pelaku industri pariwisata dan kesehatan lainnya.
Sebelumnya, launching Health Tourism 2026 telah dilaksanakan pada Januari 2026 sebagai tanda keseriusan Sumsel dalam mengembangkan sektor wisata yang berbasis layanan kesehatan. Dalam acara tersebut, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sumsel, Apriyadi menyampaikan bahwa Sumsel adalah provinsi besar dengan potensi sumber daya kesehatan yang tidak kalah bersaing.
Ia menyoroti fenomena masih tingginya masyarakat Sumsel yang memilih berobat ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Menurutnya, hal ini menjadi pertanyaan besar karena kualitas dokter dan peralatan di Sumsel tidak kalah. “Mungkin mereka menang di merek atau branding, dan itu menjadi tantangan kita bersama,” ujarnya saat Gathering Stakeholder Wisata Kesehatan di Griya Agung, Kamis (26/2/2026).
Beberapa rumah sakit di Sumsel memiliki layanan unggulan yang siap dipromosikan dalam skema wisata kesehatan. Di antaranya RSUD Siti Fatima yang memiliki tiga pilar layanan unggulan, yakni layanan kardiovaskular dengan teknologi terkini untuk perawatan jantung komprehensif, orto-sport dan rehabilitasi bagi atlet serta pegiat olahraga, serta Medical Check Up (MCU/NCU) sebagai layanan deteksi dini kesehatan yang terpadu dan nyaman. Lalu RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) dengan layanan onkologi dan jantung, serta Siloam Hospitals yang memiliki layanan program bayi tabung dan rumah sakit lainnya.
Menurut Apriyadi, keunggulan layanan medis tersebut harus dikemas selaras dengan kekayaan destinasi daerah seperti Pagar Alam dan OKU Selatan, serta didukung kolaborasi bersama pemandu wisata dan pelaku industri pariwisata. “Health tourism ini harus kolaborasi, satu frekuensi dan satu misi. Selama ini belum terkoneksi dengan baik. Harus dipromosikan secara masif dan dilaksanakan di sektor masing-masing,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Kota Palembang mungkin tidak menonjol pada wisata alam, namun memiliki potensi wisata religi seperti ziarah kubro, haul, serta wisata sejarah dan kuliner yang dapat dipadukan dengan layanan kesehatan. Dengan potensi konektivitas yang semakin baik, terutama ditargetkan seluruh jalan tol di Sumsel rampung pada akhir 2026, peluang mendatangkan pasien sekaligus wisatawan dari dalam dan luar daerah semakin terbuka lebar.
Meski demikian, tantangan tetap ada, khususnya pada peningkatan kualitas sumber daya manusia rumah sakit, pola pelayanan prima, kepastian waktu, biaya, serta standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dan transparan. Pemerintah Provinsi Sumsel pun mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempromosikan layanan unggulan yang ada di daerah, sehingga masyarakat tidak lagi harus keluar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas.
“Peralatan dan SDM kita sudah memadai dan mampu bersaing. Tinggal bagaimana kita membangun kepercayaan dan memperkuat branding Sumsel sebagai destinasi wisata kesehatan,” pungkasnya.
Peran Dokter dan Kolaborasi dalam Pengembangan Wisata Kesehatan
Professor dr Ali Ghanie menyampaikan bahwa ia telah menangani 10 ribu pasien dari berbagai daerah seperti dari Sumsel, Jakarta, Lampung dan berbagai daerah lainnya. “Artinya ada potensi itu untuk digarap, tinggal bagaimana dikemasnya. Sebab dokter tidak bisa jualan, maka perlu kolaborasi bersama untuk mewujudkan,” kata Professor dr Ali Ghanie.
Prof Hadi menegaskan bahwa kepercayaan dari masyarakat sangat penting. “Karena memang banyak yang berobat ke luar negeri karena sugesti atau kepercayaan. Maka sinergi rumah sakit, pemerintah dan asosiasi profesi sangat diperluas,” katanya.
Febi menambahkan bahwa ASITA memiliki 114 anggota agen perjalanan wisata yang menjual paket wisata ke luar negeri, umrah, haji dan memasarkan paket wisata Sumsel secara nasional hingga internasional. “Kalau dari kacamata industri ada empat peluang dari wisata kesehatan yaitu wisata medis, wellness dan traditional health tourism, wisata olahraga dan wisata ilmiah kesehatan,” katanya.
Menurutnya, banyak paket-paket yang bisa dibuat untuk health tourism, bahkan ada juga dengan budget ratusan ribu. Jadi bisa dipilih sesuai kebutuhan, bahkan bisa disesuaikan jika diperlukan.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











