JAKARTA — Pertumbuhan kredit perbankan pada awal tahun ini mencapai 9,96% secara tahunan atau year on year (YoY). Meskipun angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan akhir 2025 yang sebesar 9,69% YoY, namun nilai kredit yang belum ditarik tidak mengalami perubahan signifikan.
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa fasilitas yang belum ditarik atau undisbursed loan mencapai Rp2.506,47 triliun atau 22,65% dari plafon kredit yang tersedia pada awal 2026. Angka ini meningkat dari Desember 2025 yang sebesar Rp2.439,2 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia.
Untuk mendorong peningkatan kredit, pemerintah telah menambah likuiditas melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di perbankan. Pemerintah pertama kali menempatkan kas negara sebesar Rp200 triliun ke Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN dan BSI pada 12 September 2025. Selanjutnya, pemerintah kembali menginjeksi perbankan sebesar Rp76 triliun pada 10 November 2025.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu menilai bahwa peningkatan likuiditas di perbankan ini belum sepenuhnya mendorong pertumbuhan kredit.
“Tentunya ada peningkatan likuiditas melalui penempatan dana SAL di perbankan. Ternyata hal itu belum diterjemahkan menjadi peningkatan kredit,” kata Mari dalam Economic Outlook 2026 secara daring, Kamis (19/2/2026).
Mari juga menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit pada 2025 masih berada di bawah 10%, sehingga dampak pelonggaran likuiditas terhadap ekspansi kredit belum terlihat signifikan. Di sisi lain, Mari menilai bahwa penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) dari 6% menjadi 4,75% dalam satu tahun terakhir juga belum sepenuhnya diikuti oleh penurunan suku bunga kredit yang mampu mendorong permintaan pembiayaan.
Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa persoalan bukan lagi terletak pada sisi pasokan dana, melainkan pada lemahnya permintaan kredit. Dia mengaitkan hal itu dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi serta melemahnya daya beli masyarakat yang membuat dunia usaha dan rumah tangga masih menahan ekspansi maupun konsumsi berbasis kredit.
“Jadi ini apakah masalah supply? Masalah supply sudah teratasi, tapi masalah demand untuk kredit ini mungkin ada kaitannya tentunya dengan pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya,” pungkasnya.
Prediksi Bankir
Sementara itu, dari sisi bankir, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa pihaknya memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan memasuki fase single digit di tengah pemulihan daya beli yang belum merata.
“Jika kita melihat pertumbuhan ekonomi diperkirakan sedikit lebih baik di 2025 di kisaran 5% plus minus, namun pertumbuhan kredit diproyeksikan memasuki fase single digit,” kata Hery dalam paparannya, Kamis (19/2/2026).
Dia menyampaikan bahwa perlambatan tersebut bukan dipicu oleh keterbatasan likuiditas, melainkan lemahnya permintaan kredit akibat ekspansi dunia usaha yang masih selektif dan konsumsi masyarakat, khususnya kelas bawah dan menengah, yang belum sepenuhnya pulih.
Mantan Dirut PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) itu menilai bahwa industri perbankan tengah memasuki fase normalisasi pertumbuhan kredit, bukan kondisi krisis, namun juga belum kembali pada fase ekspansif agresif. Dalam fase ini, Hery menekankan pentingnya kualitas pertumbuhan dibanding sekadar mengejar angka pertumbuhan tinggi.
“Fase ini kita lihat kualitas pertumbuhan menjadi jauh lebih penting daripada sekadar angka pertumbuhan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hery melihat pemulihan likuiditas rumah tangga terjadi secara tidak merata dan cenderung terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi.
Ketua Umum Perbanas itu menuturkan bahwa akselerasi pertumbuhan 2025 terlihat lebih banyak ditopang oleh kelas atas. Jika menilik indeks daya beli, Hery mengungkapkan bahwa kelas bawah dan menengah masih berada di bawah level normal pra tahun 2019 atau per pandemi.
“Meski ada perbaikan dibanding 2024, ruang konsumsi mereka masih terbatas,” ungkapnya.
Sebaliknya, kelas atas sudah kembali ke arah positif dan relatif lebih stabil. Hery mengatakan bahwa kondisi ini menjelaskan mengapa segmen premium seperti properti dan juga kredit korporasi tentu lebih resilient.
Di sisi lain, pemulihan likuiditas rumah tangga memang terjadi tetapi terkonsentrasi di kelompok saldo tinggi. Di segmen menengah atas, Hery mengatakan bahwa pertumbuhan relatif stagnan, menunjukkan pola konsumsi yang lebih berhati-hati dan kecenderungan menahan belanja.
Sementara itu, di kelompok atas, saldo tabungan meningkat signifikan, menunjukkan bahwa likuiditas terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi yang masih memiliki ruang memperluas aset finansial.
Menurutnya, asimetri ini penting lantaran ketika likuiditas tidak tersebar merata, transmisi ke konsumsi dan juga kredit mikro menjadi terbatas. Dengan demikian, meskipun dana tersedia dalam sistem dorongan terhadap permintaan riil belum sepenuhnya bisa dijalankan dengan baik.
Kemudian jika melihat dinamika tabungan, Hery menyebut bahwa pemulihannya belum merata. Hal ini tercermin dari pertumbuhan saldo kelas bawah masih relatif melambat dan di kelas menengah bawah saldo rata-rata belum menunjukkan rebound yang signifikan.
Hal itu, kata dia, ruang ekspansi konsumsi masih terbatas, sementara pertumbuhan dana lebih terkonsentrasi pada kelompok dengan saldo besar. “Dengan kata lain, tantangan bukan pada supply dana tetapi pada distribusi dan kualitas pemulihan,” pungkasnya.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











