My WordPress Blog
Budaya  

Kisah Petugas Kelenteng Ban Hing Kiong Manado, Tangan Gemetar dan Tangis Bahagia

Kisah Jane Manoy Rading dalam Prosesi Minta Restu Cap Go Meh

Jane Manoy Rading, seorang petugas sembahyang yang terpilih untuk memimpin prosesi memohon restu pelaksanaan Cap Go Meh di jalan raya, mengalami perasaan campuran antara senang, terkejut, dan haru. Prosesi ini dilakukan di Kelenteng Ban Hing Kiong, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), pada Jumat (20/2/2026).

Cap Go Meh akan digelar di jalan raya pada 3 Maret 2026 nanti. Hal ini ditandai dengan lemparan bilah kayu Poa Pwe oleh Jane setelah ia membacakan doa. Bilah kayu tersebut berada dalam posisi terbuka dan tertutup, yang menunjukkan bahwa prosesi tersebut direstui.

Umat Tridharma Kelenteng Ban Hing Kiong merasa sangat bersyukur. Banyak dari mereka yang meneteskan air mata haru dan saling berpelukan. Mereka juga memberikan ucapan selamat kepada Jane atas kesuksesannya dalam menjalankan tugas.

Sebelum prosesi, Jane tampak agak tegang. Ia mengaku merasa gugup karena beban yang ada di pundaknya sangat berat. Harapan seluruh umat Tridharma Manado agar Cap Go Meh bisa digelar di jalan raya berada di tangannya.

“Wah saya tak bisa berkata kata, tangan saya seolah tak mampu menahan kayu itu hingga gemetaran, mungkin gugup,” katanya. Perasaan gugup itu terus menghiasi dirinya hingga saat ia mendekati prosesi.

Namun, ketika kayu Poa Pwe terbuka dan tertutup, Jane merasa beban yang selama ini menghimpitnya menghilang. Ia merasa ringan dan penuh keriangan. “Rasanya luar biasa,” ujarnya.

Jane menyebutkan bahwa ia mempersiapkan diri secara khusus sebelum bertugas. Ia melakukan puasa Cia Cai dengan tidak mengonsumsi daging, hanya makan sayuran saja.

Fery Sondakh, Ketua PTITD Komda Sulut, menjelaskan bahwa beban yang dimiliki petugas sembahyang sangat berat. Beban ini berasal dari harapan seluruh umat Tridharma agar prosesi dapat digelar di jalan raya. Ada yang sampai gemetar, bahkan ada yang sampai lunglai.

Menurut Fery, terdapat tiga kemungkinan kondisi yang bisa terjadi dengan kayu Poa Pwe. Pertama, kayu terbuka dan tertutup, artinya prosesi direstui. Kedua, kayu terbuka keduanya, yang berarti harus dilempar kembali. Ketiga, kayu tertutup keduanya, yang berarti tidak direstui.

Ketua Kelenteng Ban Hing Kiong, Jemmy Binsar, menyampaikan bahwa kelenteng tersebut memiliki delapan petugas sembahyang. Jane terpilih bertugas setelah melalui proses tertentu di depan altar.

Perayaan di Jalan Raya

Kabar gembira bagi warga kota Manado. Perayaan Cap Go Meh atau Goan Siau 2026 telah mendapatkan restu dari yang maha kuasa untuk dirayakan di jalan raya. Hal ini dipastikan dalam pelaksanaan prosesi mohon petunjuk melalui Poa Pwe di Kelenteng Ban Hing Kiong Manado, Sulut, Jumat (20/2/2026).

Hanya sekali lempar, kayu Poa Pwe dalam keadaan terbuka dan tertutup. Artinya direstui. Amatan Tribunmanado.com menunjukkan bahwa prosesi berlangsung penuh ketegangan. Setelah sembahyang, umat menyanyikan lagu permohonan sambil berlutut, dengan kedua lengan disatukan di dada.

Beberapa di antaranya tak tahan meneteskan air mata saking bercampurnya perasaan, antara tegang dan berharap. Puncak ketegangan adalah saat petugas sembahyang akan melempar kayu Poa Pwe. Kayu dilempar disusul teriakan “Sio Poe,” dari segenap umat. Tangis haru umat pecah saat Goan Siau dinyatakan direstui. Mereka saling berpelukan dan saling mengucapkan selamat.

Bersamaan dengan itu musik bambu mereka mengumandangkan lagu riang yang kian menambah sukacita. Umat tak lupa mengucapkan terima kasih pada yang maha kuasa dengan melakukan penyembahan.

Cap Go Meh atau Goan Siau adalah prosesi Umat Tridharma yang dilaksanakan 15 hari setelah Imlek. Cap Go Meh sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Manado. Warga sangat menantikan iven ini. Kampung Cina akan dipadati ribuan warga saat pelaksanaan Cap Go Meh.

Ketua Kelenteng Ban Hing Kiong Jemmy Binsar mengatakan, Cap Go Meh direstui untuk diadakan di jalan raya. “Pelaksanaannya pada tanggal 3 Maret 2026,” katanya. Menurut Binsar, pelaksanaan Cap Go Meh tahun ini istimewa. Karena untuk pertama kalinya sejak 40 tahun dapat berlangsung tiga kali berturut-turut di jalan raya.

“Tahun depan kita berharap dapat keluar lagi,” katanya. Ketua PTITD Komda Sulut Fery Sondakh mengatakan, digelarnya Cap Go Meh di jalan raya dipercaya akan membawa keselarasan. Istilahnya pembabaran dunia Baru. “Keselarasan akan tercipta antara manusia dan alam, manusia dan manusia dan lainnya,” katanya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *