My WordPress Blog
Bisnis  

Pabrik Evo Manufacturing Palembang Ekspor Pertama ke Filipina

Ekspor Perdana Makanan Hewan dari Indonesia ke Filipina



Palembang — PT Evo Manufacturing Indonesia (EMI) telah meluncurkan ekspor perdana produk makanan hewan ke Filipina. Pengiriman ini menjadi langkah awal bagi perusahaan lokal tersebut untuk memasuki pasar internasional, di tengah besarnya potensi perdagangan global terkait produk pakan hewan peliharaan.

Ekspor dilakukan dari fasilitas produksi EMI yang berada di Banyuasin, Sumatra Selatan. Saat ini, perusahaan tersebut memproduksi makanan hewan kucing dan menargetkan perluasan pasar ke sejumlah negara lain di Asia dan Timur Tengah.

Co-Founder PT EMI, Dimas Baskoro, menyatakan bahwa jumlah kontainer yang diekspor mencapai tiga dengan nilai mencapai Rp3 miliar. Ia menjelaskan bahwa seluruh produk yang diekspor adalah hasil produksi lokal di Banyuasin, Sumatra Selatan.

“Produk yang diekspor ini 100% adalah buatan PT Evo Manufacturing Indonesia di Banyuasin, Sumatra Selatan,” ujarnya dalam acara pelepasan ekspor di Pabrik EMI, Banyuasin, Palembang, Kamis (12/2/2026).

Pengembangan Kapasitas Produksi

Perusahaan menginisiasi pabrik pet food lokal pada 2023 dan saat ini mengoperasikan pabrik makanan hewan jenis basah (wet food) dengan kapasitas 52.000 ton per tahun. Rencananya, kapasitas tersebut akan ditingkatkan hingga 180.000 ton per tahun seiring pengembangan fasilitas.

Selain itu, EMI sedang membangun pabrik makanan hewan kering (dry food) dengan kapasitas awal 37.000 ton per tahun yang ditargetkan naik menjadi 110.000 ton per tahun. Secara keseluruhan, kawasan industri seluas 37 hektare itu diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 300.000 ton per tahun.

Pertumbuhan Pasar Global dan Nasional

Dimas menjelaskan bahwa pertumbuhan pasar global mencapai rata-rata 8,5% per tahun, sementara pasar Indonesia tumbuh lebih cepat, sekitar 14,5% per tahun. Namun, masih banyak produk impor yang mendominasi pasar nasional. Lebih dari 60% kebutuhan domestik disebut masih dipenuhi oleh produk luar negeri, sehingga peluang substitusi impor dinilai masih terbuka lebar bagi produsen lokal.

Perusahaan juga sedang menjajaki peluang ekspor lanjutan ke negara-negara Asia Tenggara serta kawasan Timur Tengah. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan volume ekspor secara bertahap.

Target Sertifikasi Internasional

Untuk mendukung ekspansi tersebut, EMI menargetkan perolehan sertifikasi internasional tahun ini. “Kami menargetkan bisa memperoleh sertifikasi internasional agar ke depan dapat masuk pasar Eropa dan Amerika,” kata Dimas.

Komentar Menteri Perdagangan

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa nilai ekspor produk makanan hewan Indonesia saat ini masih relatif kecil dibandingkan potensi pasar global. Ekspor pakan hewan Indonesia baru mencapai US$8,2 juta, sementara nilai impor dunia untuk produk tersebut mencapai US$26,3 miliar.

“Artinya kita masih kecil sekali. Dari total ekspor Indonesia tahun 2023 sebesar US$282 miliar, ekspor makanan hewan baru US$8,2 juta,” ujar Budi.

Menurut dia, pasar domestik dan ekspor sama-sama memiliki peluang besar untuk digarap. Ia juga menyinggung masih tingginya dominasi impor di pasar dalam negeri.

“Kucing boleh impor, tetapi makanannya harus lokal,” imbuhnya.

Budi menekankan bahwa ekspor menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Sepanjang 2023, nilai ekspor Indonesia tercatat tumbuh 6,5% menjadi US$282 miliar. Namun, kontribusi dari sektor makanan hewan dinilai masih sangat kecil sehingga perlu didorong.

Kebijakan Perjanjian Dagang

Untuk memperluas akses pasar, pemerintah telah memiliki 20 perjanjian dagang yang sudah diimplementasikan, 19 dalam proses negosiasi, dan 11 dalam tahap ratifikasi. Salah satunya adalah Indonesia–Uni Eropa CEPA (IU-CEPA) yang mencakup 27 negara dengan populasi lebih dari 400 juta jiwa.

“Dengan perjanjian dagang, banyak komoditas kita bisa mendapat tarif 0%. Ini kesempatan besar bagi para eksportir, termasuk produk makanan hewan,” terangnya.

Selain perjanjian dengan Uni Eropa, pemerintah juga telah menyelesaikan kesepakatan dagang dengan Kanada, negara-negara Eurasia (EAEU), dan Peru, serta tengah menunggu penandatanganan dengan Tunisia. Pemerintah juga mengandalkan jaringan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara untuk membantu promosi dan pencarian mitra dagang.

Program Business Matching

Budi menyebut program business matching yang difasilitasi Kementerian Perdagangan sepanjang tahun lalu mencatat nilai transaksi US$134,8 juta, sebagian besar melibatkan pelaku usaha kecil dan menengah.

“Kalau ekspor meningkat, ekosistem ekonomi kita juga ikut bergerak. Yang hidup bukan hanya perusahaannya, tapi seluruh rantai pasoknya,” ujarnya.

Ekspor perdana EMI ke Filipina dinilai menjadi contoh awal pemanfaatan peluang pasar global yang masih terbuka lebar. Dengan kapasitas produksi yang terus diperluas dan dukungan akses pasar melalui perjanjian dagang, sektor pakan hewan nasional diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya dalam struktur ekspor Indonesia.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *