Peran Sunan Kalijaga dalam Menangani Dugaan Mark Up Wakaf Al-Qur’an oleh Taqy Malik
Sunan Kalijaga, yang merupakan mantan mertua dari Taqy Malik, menunjukkan kepeduliannya terhadap isu dugaan mark up harga dalam program wakaf Al-Qur’an yang dijalankan oleh Taqy. Ia menilai bahwa masalah ini harus diselesaikan secara terbuka dan transparan agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Menurut Sunan Kalijaga, transparansi sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap program wakaf. Ia mengungkapkan prihatinnya dengan berita yang beredar dan berharap masalah ini segera dituntaskan. “Yang benar itu benar, yang salah itu salah,” ujarnya.
Sunan juga menyampaikan pemahamannya tentang praktik wakaf Al-Qur’an yang biasanya dilakukan oleh umat Islam, khususnya di Tanah Suci. Ia menjelaskan bahwa wakaf adalah bentuk donasi untuk kepentingan ibadah, bukan aktivitas yang berorientasi pada keuntungan. “Setahu saya, orang banyak di sana, termasuk kami kemarin baru pulang umrah di Madinah, itu yang kami tahu bukan jual beli kitab suci Al-Qur’an.”
Sunan juga menyayangkan jika dugaan mark up tersebut benar terjadi, karena dinilai bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini melekat pada sosok Taqy Malik. Ia menyebutkan bahwa ada informasi dari teman-teman yang menyebutkan adanya anak muda yang dikenal religius, namun diduga melakukan mark up kitab suci.
Lebih lanjut, Sunan Kalijaga berharap pihak berwenang dapat turun tangan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, sehingga persoalan ini dapat diselesaikan secara objektif dan adil. “Saya minta khususnya Kementerian agama ya segera menurunkan atau membentuk tim mengusut masalah ini.”
Kronologi Dugaan Mark Up Wakaf Al-Qur’an oleh Taqy Malik
Dugaan ini mencuat setelah selebgram yang tinggal di Arab Saudi, Randy Permana, yang juga dikenal sebagai sahabat Taqy Malik, mengungkap kronologi dan pengalamannya secara langsung. Randy mengaku mengetahui sejak awal bagaimana program wakaf itu berjalan, termasuk dinamika di lapangan yang melibatkan pembelian mushaf hingga perhatian otoritas setempat.
“Jadi saya kenal Taqy Malik memang sudah lama, dan saya sendiri memang pekerjaan saya di Saudi, ya di Mekah dan Madinah, karena saya sehari-hari memang melayani tamu-tamu jemaah umrah seperti itu,” ujar Randy.
Ia menjelaskan, program wakaf tersebut mulai berjalan pada 2023, ketika Taqy mulai membuka donasi wakaf Al-Qur’an yang dibeli langsung dari percetakan resmi di Madinah. “Nah, singkat cerita, di tahun pertama kalau enggak salah, waktu itu 2023, A Taqy mulai membuka wakaf Quran, yang di mana saat itu ketika kita berwakaf Quran, kita itu masih bisa satu orang membeli dua tiga karton di pabrik percetakannya di Madinah, yang harga memang harga pabrik itu sekitar 25 riyal di sana.”
Namun, pembelian dalam jumlah besar itu kemudian memicu perhatian pihak otoritas. “Ketika Taqy membuka itu, masuklah kurang lebih ada yang menitipkan amanah wakaf itu hampir sekitar 3.000 mushaf saat itu, 3.000 Quran. Belilah dia di sana.”
Randy menjelaskan bahwa mushaf wakaf di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi umumnya berasal dari percetakan resmi pemerintah Arab Saudi. “Saudi memperbolehkan. Memang banyak toko-toko di area masjid, terus di sekitar Makkah atau Madinah itu menjual mushaf yang memang diperuntukkan untuk wakaf.”
Setelah adanya pembatasan, pembelian mushaf dalam jumlah besar menjadi sulit dilakukan, terutama bagi jemaah yang datang menggunakan visa umrah. “Kemudian akhirnya dari situ kita sudah tidak bisa membeli ketika saya mendapat titipan dari jemaah. Misal saya membawa jemaah satu bis, biasanya titip untuk wakaf. Saya membeli itu untuk 200–300 itu enggak bisa, sudah dibatasi.”
Meski demikian, Randy mengaku telah mengingatkan Taqy agar lebih berhati-hati dalam menjalankan program tersebut. “Singkat cerita, tahun kedua dia melakukan itu lagi. Saya sudah bilangin, ‘Bro, hati-hati ya. Jangan terang-terangan. Jangan. Saya sendiri juga melakukan untuk menyalurkan wakaf, tapi saya memang dari jemaah yang saya bawa, dan itu jemaah kadang saya ajak belanja juga di tempatnya.'”
Ia bahkan menyarankan agar distribusi mushaf dilakukan secara bertahap untuk menghindari kecurigaan otoritas. “Karena tahun kedua saya sudah bilangin, ‘Bro, kalau kamu mewakafkan mushaf, menyalurkan mushaf, dicicil saja 50, 100 antar ke masjid. Jangan langsung ribuan seperti itu.”
Tak hanya program wakaf mushaf, Randy juga menyinggung program sedekah makanan yang disebut-sebut memiliki selisih harga cukup signifikan. “Sampai di tahun lalu itu di Madinah itu Taqy memang lagi sama saya. Saya sudah bilangin lagi. Dia buka sedekah makanan juga, yang di mana rata-rata harga sedekah makanan di sana itu kurang lebih sekitar 10 riyal, mungkin ada dari 8 riyal, 10 riyal, sampai 15 riyal.”
Situasi tersebut bahkan sempat menarik perhatian aparat setempat. “Dicarilah dia oleh polisi di sekitar. Sampai yang awalnya dia stay di hotel, dia kabur. Dia cari apartemen yang jauh dari masjid saat itu.”
Menurut Randy, program serupa kembali dibuka menjelang Ramadan tahun ini. Namun, upaya komunikasinya kepada Taqy tidak mendapat respons. “Nah, tahun ini dia membuka lagi. Ramadan masih 2–3 minggu lagi, tapi dia sudah membuka peluang itu lagi.”
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











