My WordPress Blog
Opini  

Ingin Tukar Iman dengan Uang?

Perjalanan Seorang Perempuan yang Menemukan Iman

Kamera menyala. Sydney, Australia, kota pelabuhan yang berkilau di bawah matahari belahan bumi selatan, tempat di mana sekularisme bukan sekadar tren, melainkan udara yang dihirup setiap hari. Seorang perempuan muda berdiri di trotoar, mikrofon di satu tangan, selembar uang seratus dolar di tangan lainnya. Namanya Lily Jay, @real.lilyjay, seorang aktris dan content creator asal Queensland yang videonya telah ditonton lebih dari 200 juta kali. Tapi detail tentang Lily Jay yang paling penting untuk cerita ini akan kita simpan dulu. Nanti.

Ia menghampiri seorang pria di halaman sebuah kuil Hindu, lalu melempar tantangan sederhana, atau begitulah kelihatannya:
“Seratus dolar. Cuma minta kamu berdoa sebentar sama tuhan agama lain. Mau?”

Pria itu melirik uang itu. Tersenyum. Mengangguk. Tangannya ditangkupkan mengikuti instruksi Lily, mulutnya mengucapkan kata-kata yang bukan milik tradisinya. Selesai. Seratus dolar berpindah tangan. Tidak ada drama. Tidak ada keraguan yang berarti.

Adegan berganti. Vihara. Tantangan yang sama, amplop yang sama. Respons yang kurang lebih serupa. Ada tawa kecil, ada rasa penasaran, ada sikap “ya sudah, seratus dolar ya seratus dolar.” Satu per satu menerima tantangan, mengambil uangnya, dan kamera merekam semuanya dengan puas.

Lalu Lily melangkah ke halaman masjid.

Dan di sanalah segalanya berubah.

“Seratus dolar, brother. Tinggal berdoa sebentar dengan tuhan agama lain.”

Seorang pria berjenggot rapi menggeleng tanpa jeda. Bahkan belum selesai kalimatnya.

Lily menaikkan tawarannya. Lima ratus dolar. Gelengan yang sama. Seribu dolar. Gelengan yang sama, kali ini disertai senyum tipis, seolah angka itu bahkan tidak relevan.

Kamera berpindah ke orang lain. Seorang pemuda bertopi kufi, jaket tipis, sepatu yang sudah pudar warnanya, wajah yang jelas bukan wajah orang berkecukupan di kota Australia yang mahal ini. Lily mengeluarkan tawaran besarnya, lima ribu dolar. Jumlah yang untuk sebagian orang setara dengan penghasilan berbulan-bulan. Pemuda itu menatap uang di tangan Lily, lalu menatap matanya, lalu menggeleng pelan.

“No, brother. I can’t.”

Empat kata. Tanpa penjelasan. Tanpa negosiasi.

Lily belum menyerah. Ia menghampiri seorang pria tua yang baru selesai shalat, sorbannya masih tersampir di bahu, wajahnya teduh seperti orang yang sudah lama hidup jauh dari tanah kelahiran tapi tidak pernah kehilangan arah. Kali ini ia melempar angka terbesarnya: sepuluh ribu dolar.

Selembar cek ditunjukkan ke kamera, lalu ke wajah si bapak. Sepuluh ribu dolar, di kota Australia yang mahal ini, jumlah itu tetap berarti. Cukup untuk menutupi sewa berbulan-bulan, cukup untuk mengirim uang ke keluarga di kampung halaman, cukup untuk mengubah hidup seseorang yang merantau ribuan kilometer dari rumah.

Bapak itu diam sejenak. Bukan diam karena ragu. Diam, karena begitulah kesan yang tertangkap kamera, ia tidak mengerti mengapa pertanyaan itu perlu ditanyakan.

“If I trade my iman for that money,” katanya pelan, dalam bahasa Inggris yang beraksen tapi penuh keyakinan, “then what do I have?”

Lily tidak punya jawaban.

Video itu viral. Jutaan views, sesuai dengan reputasi Lily Jay yang kontennya memang telah menjangkau ratusan juta pasang mata di seluruh dunia. Kolom komentar meledak. Sebagian orang terpukau oleh angka yang ditolak. Sebagian kagum. Sebagian bertanya-tanya. Dan di antara semua reaksi itu, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan lebih dalam, bukan soal siapa yang benar atau siapa yang salah, tapi: apa yang membuat jawaban “tidak” itu begitu solid, bahkan ketika harganya terus dinaikkan?

Apa yang dimiliki orang-orang itu, sesuatu yang bahkan sepuluh ribu dolar tidak cukup untuk membelinya?

Konteks Australia: Negara Paling Sekuler di Dunia

Australia adalah salah satu negara paling sekuler di dunia. Sensus demi sensus menunjukkan tren yang sama: proporsi warga yang mengaku “no religion” terus melonjak, dari 19% pada tahun 2006 menjadi lebih dari 38% pada sensus terakhir, menjadikan “tidak beragama” sebagai kategori tunggal terbesar, mengalahkan denominasi Kristen mana pun. Di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne, agama bagi kebanyakan orang sudah menjadi urusan privat yang nyaris tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka orang-orang yang menerima tantangan di kuil dan vihara itu, kemungkinan besar, bukan pemeluk agama yang taat. Mereka bisa jadi turis yang kebetulan lewat. Bisa jadi orang yang secara kultural terasosiasi dengan suatu tradisi keagamaan, culturally Hindu, culturally Buddhist, tapi secara personal sudah lama hidup dalam kerangka sekuler khas Australia. Bisa jadi mereka bahkan tidak punya keyakinan teologis apa pun, dan berdoa di kuil bagi mereka tidak lebih dari experience yang layak dicoba demi seratus dolar dan lima belas detik ketenaran di TikTok.

Ini bukan tuduhan. Ini adalah realitas sosiologis Australia modern. Agama, bagi sebagian besar masyarakatnya, sudah bergeser dari keyakinan yang dihidupi menjadi warisan budaya yang dihormati dari kejauhan, kalau pun dihormati.

Kontras yang Tajam: Komunitas Muslim di Australia

Di sinilah kontrasnya menjadi sangat tajam. Komunitas Muslim di Australia, yang mayoritas adalah imigran atau keturunan imigran dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, hidup sebagai minoritas kecil (sekitar 3,2% populasi) di tengah lautan sekularisme. Dan fenomena yang menarik adalah: alih-alih terlarut, identitas keagamaan mereka justru menguat. Sosiolog menyebut ini reactive religiosity, religiusitas reaktif. Ketika identitas seseorang terus-menerus bergesekan dengan lingkungan yang berbeda, bahkan yang kadang hostil, identitas itu tidak melemah, ia mengkristal.

Seorang Muslim muda di Western Sydney atau Lakemba yang setiap hari bernavigasi antara dua dunia, sekuler di sekolah dan kantor, Islami di rumah dan masjid, pada akhirnya mengembangkan kesadaran yang sangat tajam tentang siapa dirinya dan apa yang tidak bisa ia kompromikan.

Garis yang Tak Bisa Digeser

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu membaca dari dua arah sekaligus: memahami lanskap sekuler yang melatarbelakangi mereka yang menerima tantangan, dan memahami struktur teologis yang melatarbelakangi mereka yang menolak.

Dari sisi teologis, setiap tradisi keagamaan memang punya cara berbeda dalam menarik garis batas, dan ini penting dipahami terlepas dari konteks sekularisme Australia. Hinduisme, misalnya, mengenal filosofi Ekam Sat Viprā Bahudhā Vadanti, kebenaran itu satu, para bijak menyebutnya dengan banyak nama. Dalam kerangka ini, berdoa di tempat ibadah lain tidak serta-merta melanggar prinsip dasar. Bahkan bagi seorang Hindu yang taat sekalipun, garis batasnya lebih lentur, dan kelentukan itu bukan kelemahan, ia adalah konsekuensi logis dari teologi yang memang dirancang inklusif.

Buddhisme, di sisi lain, secara fundamental bukan sistem teistik. Tidak ada konsep “tuhan pencipta” yang menjadi pusat doktrin. Maka “berdoa dengan tuhan lain” bahkan tidak menyentuh inti ajaran. Garisnya bukan lentur, ia memang tidak ditarik di tempat yang sama.

Islam bermain di lapangan yang berbeda sama sekali.

Lā ilāha illallāh. Kalimat yang diucapkan seorang Muslim setiap hari ini dimulai bukan dengan afirmasi, melainkan dengan negasi. Tidak ada tuhan, baru kemudian, kecuali Allah. Struktur ini bukan kebetulan linguistik. Ia adalah pernyataan teologis yang membangun tembok sebelum membuka pintu.

Seorang Muslim, sejak detik pertama mengucapkan syahadat, telah mendeklarasikan bahwa segala bentuk penyembahan kepada selain Allah bukan sekadar “kurang tepat” atau “tidak ideal.” Ia adalah syirik, dan dalam hierarki dosa dalam Islam, syirik menempati posisi paling atas. Bukan dosa biasa. Bukan pelanggaran ringan. Ia adalah satu-satunya dosa yang Alquran nyatakan tidak akan diampuni jika pelakunya tidak bertaubat.

Maka ketika Lily mendekati orang-orang di masjid, di sebuah kota Australia, jauh dari tanah kelahiran Islam, ia tanpa sadar sedang meminta mereka melakukan sesuatu yang dalam kalkulus spiritual mereka setara dengan membuang segalanya.

Lebih dari Sekadar Doktrin

Tapi penjelasan teologis saja tidak cukup. Banyak agama punya doktrin ketat yang tidak selalu dipatuhi pemeluknya. Lalu apa yang membuat doktrin ini begitu hidup di kalangan Muslim, bahkan Muslim yang mungkin tidak terlalu taat dalam aspek ibadah lainnya?

Salah satu jawabannya terletak pada kesederhanaan pesan.

Konsep tauhid dalam Islam tidak membutuhkan gelar akademik untuk dipahami. Seorang anak kecil yang baru belajar mengaji sudah memahami bahwa menyembah selain Allah itu salah. Tidak ada lapisan teologis yang perlu dikupas, tidak ada nuansa filosofis yang membuat seseorang ragu-ragu. Pesannya satu, jelas, dan final.

Kejelasan ini membuat doktrin tauhid tertanam sangat dalam, bukan hanya di level intelektual, tapi di level identitas.

Dan di sinilah faktor kedua berperan: Islam bukan sekadar sistem kepercayaan. Ia adalah sistem hidup yang total. Sosiolog agama sering menyebutnya sebagai agama yang bersifat totalistik, ia mengatur bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga hubungan manusia dengan manusia, dengan harta, dengan waktu, dengan makanan, dengan tubuh. Ketika seseorang menjadi Muslim, ia tidak hanya “percaya kepada Allah.” Ia memasuki sebuah ekosistem lengkap yang punya hukum, etika, ritual, dan komunitas. Keluar dari satu titik fundamental berarti mengguncang seluruh ekosistem itu.

Bandingkan dengan fenomena yang oleh sosiolog disebut religious fluidity, di Jepang, misalnya, seseorang bisa lahir dengan ritual Shinto, menikah secara Kristen, dan dimakamkan secara Buddha. Ini bukan tanda dangkalnya keberagamaan mereka; ini adalah konsekuensi dari sistem yang memang memungkinkan fluiditas semacam itu. Islam, secara desain, tidak memiliki ruang untuk itu.

Dan di Australia, faktor ini berlapis dengan dinamika diaspora. Seorang Muslim di Lakemba atau Bankstown tidak hanya memegang identitas keagamaan, ia memegang identitas yang sekaligus merupakan penanda kultural, etnis, dan komunal di tengah masyarakat yang mayoritas sudah meninggalkan agama.

Rezeki di Balik Penolakan

Ada sesuatu yang mungkin luput dari perhatian kebanyakan penonton video itu. Mereka melihat penolakan. Mereka melihat uang yang dikembalikan. Mereka melihat orang-orang yang mengatakan “tidak” kepada jumlah yang bisa mengubah hidup mereka. Tapi di balik kata “tidak” itu ada sesuatu yang sangat personal, sesuatu yang dalam tradisi Islam disebut sebagai nikmat terbesar yang bisa dimiliki seorang manusia.

Sesuatu yang, di mata mereka, membuat sepuluh ribu dolar terlihat seperti recehan.

Alquran mencatat sebuah percakapan yang menarik. Sebagian orang datang kepada Nabi Muhammad dan seolah berkata, “Kami sudah memeluk Islam, berbangga-banggalah.” Tuhan menjawab melalui wahyu: “Jangan kalian merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislaman kalian. Justru Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjuki kalian kepada iman.”

Iman, dalam perspektif ini, bukan prestasi. Bukan hasil kerja keras intelektual semata. Ia adalah pemberian, sebuah hidayah yang datang dari luar diri manusia. Dan karena ia pemberian, ia juga bisa dicabut. Inilah mengapa doa yang diajarkan dalam Alquran berbunyi: “Ya Tuhan kami, jangan Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.” Bahkan setelah memiliki iman, seorang Muslim diajarkan untuk terus memohon agar iman itu tidak pergi.

Nabi sendiri pernah menyebut frasa yang indah: halāwatul īmān, manisnya iman. Kata “manis” di sini bukan metafora kosong. Ia menggambarkan sebuah pengalaman, bahwa ketika seseorang benar-benar ridha dengan Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai jalannya, dan Muhammad sebagai utusannya, ada semacam kelezatan batin yang muncul. Sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa ditukar, dan tidak bisa ditiru oleh kenikmatan duniawi mana pun.

Epilog: Perempuan di Balik Kamera

Dan sekarang, detail yang tadi kita tunda.

Lily Jay, perempuan yang mengajukan tantangan itu, yang berdiri di balik kamera sambil menyodorkan lembaran dolar, bukanlah orang luar yang sedang menguji agama orang lain dari posisi netral.

Lily Jay adalah seorang aktris dan penyanyi dari Queensland, Australia. Ia tampil di panggung musikal Chicago dan Hairspray, muncul di layar lebar dalam The Great Gatsby dan Pirates of the Caribbean. Selama 19 tahun hidupnya, ia adalah seorang ateis. Bukan ateis yang diam, tapi ateis yang yakin. Ia tidak tumbuh di keluarga religius. Ia percaya pada logika, sains, dan kemandirian. Tuhan, baginya, adalah konsep yang tidak ia butuhkan.

Lalu sesuatu bergeser.

Pertanyaan-pertanyaan yang dulu ia kira sudah terjawab mulai kembali mengetuk. Apa tujuan hidup ini? Mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan? Apakah kematian benar-benar akhir dari segalanya? Ia mulai mencari, bukan karena tekanan, bukan karena krisis, tapi karena rasa penasaran yang jujur. Ia mempelajari berbagai tradisi keagamaan. Hinduisme. Buddhisme. Kristen. Dan yang paling terakhir, karena stereotip dan prasangka yang ia serap dari media, Islam.

Tapi ketika ia akhirnya membuka Alquran dan membacanya sendiri, sesuatu terjadi.

Kejelasan. Kedalaman. Konsistensi. Konsep tauhid, satu Tuhan, tanpa perantara, tanpa kompromi, menembus lapisan demi lapisan keraguan yang selama 19 tahun ia bangun. Pada akhir Ramadhan 2025, Lily Jay berdiri di depan kamera TikTok-nya, air mata mengalir, dan mengucapkan kalimat yang mengubah hidupnya:
“Ashhadu an lā ilāha illallāh, wa ashhadu anna Muhammadan rasūlullāh.”

Perempuan yang 19 tahun hidup tanpa Tuhan itu kini menemukan-Nya.

Maka ketika Lily Jay membuat video tantangan doa itu, ia bukan sedang menguji orang lain dari luar. Ia sedang menyaksikan, dari dalam, sesuatu yang sangat ia pahami secara personal: kekuatan iman yang tak bisa ditukar. Ia tahu rasanya hidup tanpa itu. Dan ia tahu rasanya ketika itu akhirnya datang.

Video itu bukan sekadar konten viral. Bagi Lily, itu adalah cermin. Orang-orang yang menerima seratus dolar dan berdoa tanpa berpikir? Itu adalah dirinya yang dulu, hidup di dunia di mana agama tidak punya bobot, di mana keyakinan bisa dinegosiasikan, di mana Tuhan adalah ide yang bisa diambil atau ditinggalkan sesuka hati.

Dan orang-orang yang menggeleng di masjid? Yang menolak sepuluh ribu dolar tanpa berkedip?
Itu adalah sesuatu yang kini ia pahami dari dalam. Sesuatu yang ia rasakan sendiri setelah 19 tahun mencari.

Mereka sedang menjaga rezeki terbaik yang pernah mereka terima. Rezeki yang sama yang akhirnya, setelah perjalanan panjang melewati panggung teater, set film Hollywood, dan 19 tahun ateisme, juga menemukan jalan ke hati seorang perempuan Queensland bernama Lily Jay.

Rezeki yang tidak bisa dibeli, tidak bisa ditukar, dan tidak punya harga, di negara mana pun, di peradaban mana pun, di zaman mana pun.

Dan untuk itu, mereka, dan kini Lily, tidak butuh berpikir panjang.
Wallāhu a’lam.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *