Kehidupan di Balik Romantisme Yogyakarta

Di balik keindahan dan romansa kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar, tersembunyi para pahlawan yang selalu siaga sepanjang waktu. Mereka menjaga langit Yogyakarta dari berbagai ancaman udara. Mereka adalah Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) 21/Pasgat, yang menjadi garda terakhir dalam pertahanan udara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Batalyon ini bermarkas di Depok, Sleman, dan merupakan bagian dari Resimen 2 Arhanud yang berada di bawah jajaran Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI Angkatan Udara. Tugas utama mereka adalah menjaga objek vital nasional dari ancaman aktivitas udara musuh, mulai dari pesawat tempur, helikopter hingga drone.

Komandan Batalyon Arhanud 21/Pasgat, Letkol Pas Yosef Y. Abidindifu, menjelaskan bahwa posisi satuan ini sangat penting dalam skema pertahanan nasional. “Kami bertugas menjaga objek vital TNI Angkatan Udara dari ancaman udara. Ancaman tersebut bisa berupa pesawat tempur, UAV, atau helikopter yang masuk ke wilayah udara yurisdiksi nasional,” ujarnya saat ditemui di markasnya.

Sistem pertahanan udara Indonesia terbagi menjadi tiga lapisan utama: area, terminal, dan titik. Arhanud 21 berada di lapisan paling dalam. Jika pesawat musuh berhasil menembus radar jarak jauh dan pesawat pencegat, maka personel Arhanud 21-lah yang harus melakukan eksekusi terakhir. “Kami adalah garda terakhir. Jika ancaman sudah masuk ke dalam sistem pertahanan kita, kami akan menjadi jawaban akhir,” tegas Letkol Pas Yosef.

Ia mengibaratkan, ketika musuh sudah masuk ke area terminal dan tidak bisa dibendung, senjata mereka akan menjadi jawaban penutup. “Kami adalah senjata terakhir yang dimiliki oleh pertahanan udara kita untuk menghantam musuh ketika sudah ada di dalam titik,” tambahnya.
‘Iron Dome’ Yogyakarta yang Terkoneksi Radar
Meski kalah canggih daripada Iron Dome milik Israel, sistem pertahanan udara Arhanud memiliki tugas yang serupa. Mereka dilengkapi rudal-rudal QW-3 yang ditugaskan untuk mencegat objek-objek udara yang mengancam. Selain itu, mereka juga punya tanggung jawab melindungi sejumlah obyek vital.

Pasi Ops Arhanud 21 Batalyon Pasgat, Kapten Tarju, menyebutkan bahwa cakupan perlindungan mereka tidak hanya terbatas pada Pangkalan Udara Adisutjipto saja. “Selain dari Pangkalan Udara Lanud Adisutjipto, Gedung Agung, YIA (Yogyakarta International Airport), maupun yang lain-lainnya seperti Pertamina, kita juga jaga. Karena itu aset negara,” ungkap Kapten Tarju.
Sistem ini didukung oleh konektivitas radar yang luas. Arhanud 21 terintegrasi dengan Satuan Radar (Satrad) 215 Congot di Kulon Progo, serta radar di Tegal dan Cibalimbing. Informasi dari radar-radar ini akan diteruskan melalui sistem Smart Hunter yang mereka miliki.

“Radar kita terkoneksi dengan Satuan Radar yang ada di Congot. Kapasitasnya sampai 200 kilo atau 300 kilo. Dengan demikian, jika ada indikasi ancaman dari luar, dia kesempatan pertama akan disampaikan. Sehingga kita langsung gelar pasukan,” jelas Kapten Tarju.
Senjata yang Efektif dan Canggih
Bicara soal taring, Arhanud 21 dibekali rudal pencari panas QW-3. Rudal ini mampu mengejar sasaran sejauh 6 kilometer dengan kecepatan 750 meter/detik. Selama latihan, rudal ini telah terbukti efektif dalam menembakkan sasaran seperti drone atau flare.

Selain rudal, satuan ini juga menyiagakan Kanon Otomatis Oerlikon Skyshield buatan Swiss yang dikenal sangat relevan menghadapi ancaman udara modern. Kanon berkaliber 35 mm ini mampu menembakkan 1.000 peluru per menit, dengan jangkauan 4 kilometer.
Perubahan dan Penambahan Personel
Seiring dengan validasi organisasi di tubuh Kopasgat, Arhanud 21 yang sebelumnya berbentuk Detasemen kini telah berkembang menjadi Batalyon. Perubahan ini membawa konsekuensi pada penambahan kekuatan personel.

Letkol Pas Yosef menyebutkan bahwa jumlah personel saat ini mencapai 259 orang dan diproyeksikan akan terus bertambah hingga mencapai standar batalyon penuh. “Penambahan personel ini dilakukan melalui percepatan rekrutmen Bintara dan Tamtama yang kini dilakukan dalam tiga gelombang setiap tahunnya. Tujuannya agar seluruh pos operator radar dan pengawak alutsista dapat terisi secara optimal demi menjaga kedaulatan udara Indonesia, khususnya di langit Yogyakarta.”
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











