Pengertian Sholat Tarawih
Sholat Tarawih merupakan salah satu bentuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dilakukan selama bulan Ramadhan. Ibadah ini biasanya dilaksanakan setelah sholat Isya dan menjadi bagian dari qiyamul lail, yaitu sholat malam yang dianjurkan dalam Islam. Sholat Tarawih memiliki keistimewaan karena dilakukan khusus pada bulan suci ini dan memiliki nilai pahala yang besar.
Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa siapa pun yang melaksanakan sholat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sholat Tarawih dalam menjaga kesucian diri dan meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT.
Perbedaan Jumlah Rakaat dalam Sholat Tarawih
Salah satu hal yang sering memunculkan pertanyaan adalah jumlah rakaat dalam sholat Tarawih. Beberapa orang melakukan 8 rakaat, ada juga yang melaksanakan 20 rakaat, bahkan ada yang mengerjakan lebih dari 20 rakaat seperti 36 atau 40 rakaat. Perbedaan ini terkadang menimbulkan kebingungan bagi sebagian umat Islam.
Namun, perlu dipahami bahwa baik 8 rakaat maupun 20 rakaat sama-sama sah dan bernilai pahala selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat. Perbedaan ini tidak harus menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi bentuk keberagaman dalam praktik ibadah yang disesuaikan dengan kemampuan dan kenyamanan masing-masing individu.
Sejarah Perbedaan Rakaat Sholat Tarawih
-
Sholat Tarawih 8 Rakaat
Pendapat tentang 8 rakaat merujuk pada hadis Aisyah radhiyallahu anha yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menambah sholat malam lebih dari 11 rakaat, termasuk Witir. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan menjadi dasar bagi sebagian ulama bahwa 8 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir adalah praktik yang paling dekat dengan sunnah Rasulullah. -
Sholat Tarawih 20 Rakaat
Pendapat 20 rakaat didasarkan pada praktik para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa itu, Umar mengumpulkan umat Islam untuk melaksanakan sholat Tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat. Praktik ini juga terjadi pada masa Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thallib. Riwayat ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab hadis dan fiqih, serta diamalkan secara luas oleh mayoritas umat Islam, terutama mereka yang mengikuti mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. -
Sholat Tarawih Lebih dari 20 Rakaat
Dalam beberapa riwayat dan praktik ulama salaf, sholat Tarawih juga dilakukan lebih dari 20 rakaat, seperti 36 atau 40 rakaat. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah rakaat Tarawih bersifat fleksibel dan tidak dibatasi secara mutlak. Setiap praktik ibadah bisa disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
Mengapa Terjadi Perbedaan Rakaat?
Perbedaan jumlah rakaat dalam sholat Tarawih terjadi karena sholat ini adalah ibadah sunnah dan tidak ada penetapan jumlah rakaat secara tegas dari Rasulullah. Selain itu, perbedaan cara memahami hadis tentang sholat malam juga turut memengaruhi jumlah rakaat yang dilakukan. Sahabat Nabi juga memiliki praktek ibadah yang berbeda-beda.
Namun, yang pasti, baik 8 rakaat maupun 20 rakaat dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan dan kenyamanan masing-masing. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan ketenangan dalam beribadah.
Mana yang Lebih Utama: 8 atau 20 Rakaat?
Para ulama sepakat bahwa kualitas sholat lebih utama daripada jumlah rakaat. Kekhusyukan, ketenangan, dan konsistensi dalam beribadah jauh lebih penting dibanding memperdebatkan jumlah rakaat. Sholat Tarawih boleh dilakukan sedikit atau banyak, sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing jamaah.
Agar bulan Ramadhan tetap penuh dengan keberkahan, umat Islam dianjurkan untuk tidak saling menyalahkan terkait perbedaan jumlah rakaat dan menghormati tradisi yang biasa dilakukan masyarakat di masing-masing daerah. Karena sejatinya perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih adalah rahmat, bukan sumber perpecahan.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











