Peran CSR dalam Pembangunan Berkelanjutan
Dunia usaha tidak hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga harus menyeimbangkan tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR). Hal ini harus dilakukan secara terus-menerus dengan tujuan yang jelas dan dampak nyata bagi masyarakat. Itulah yang menjadi dasar dari Rio Zakarias Widyandaru, selaku Founder Social Impact Indonesia sekaligus alumni angkatan keenam SDG Academy Indonesia.
Dalam wawancara, Rio bercerita bahwa ia memulai kiprahnya di bidang CSR sejak 2013 saat menempuh Magister Manajemen CSR di Universitas Trisakti. Dari situ, fokusnya berkembang dari CSR menuju pendekatan yang lebih luas, yaitu Environment, Social, and Governance (ESG) serta pembangunan berkelanjutan.
Menurut Rio, esensi pembangunan berkelanjutan harus selalu diingat sebagai tujuan sekaligus jalan, yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang.
“Oleh karena itu, ini semakin memperkuat saya bahwa ketika saya mengambil bidang ini, ada istilah dua, selain kita berlomba-lomba di kebaikan, kita juga bagaimana membantu sesama,” kata Rio.
Masalah dalam Pemahaman CSR di Indonesia
Dalam perjalanannya, Rio mengakui masih banyak organisasi dan perusahaan di Indonesia yang belum memahami cara merancang program pemberdayaan masyarakat, CSR, maupun strategi ESG yang tepat sasaran. Mindset orang Indonesia terkait CSR sering kali terbatas pada donasi seperti memberi sembako.
Untuk memperkuat pemahaman CSR, Rio ikut dalam SDGs Academy Indonesia. Ia ingin memastikan apakah pemahamannya selama ini sudah selaras dengan konsep yang dianut oleh SDGs.
“Waktu itu saya lihat kalau SDG Academy buka nih, coba deh apa pemahaman saya, benar nggak ya,” ujar Rio.
Ia masuk dalam angkatan keenam SDGs Academy Indonesia. Meski sebagian materi sudah ia kuasai sebagai peneliti dan konsultan, ia mengaku mendapat banyak ilmu tambahan, terutama dalam merumuskan strategi hingga detail implementasi SDGs di Indonesia.
Momen paling berkesan bagi Rio adalah saat menyusun praktik Social Business Model Canvas (SBMC) ke proyek percontohan. Praktik SBMC itu kemudian ia integrasikan ke dalam proyek pemberdayaan masyarakat yang dijalankan bersama para mitranya.
Selain itu, pendekatan pelaporan berbasis SDGs dan manajemen dampak juga semakin ia perkuat, termasuk melalui pembelajaran lanjutan seperti Impact Management for SDGs. Hasilnya, perencanaan program yang digarap kini lebih fokus pada kontribusi terhadap target dan indikator SDGs.
“Jadi program-program yang saya lakukan bersama mitra kerja didekatkan dengan bagaimana seharusnya program itu menjawab terkait dengan kebutuhan sosial, circular economy, dan terkait dengan menjawab tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs itu sendiri,” ujarnya.
Pentingnya SDG Academy dalam Mencapai Tujuan SDGs
Bagi Rio, SDG Academy sangat penting dalam mempercepat pencapaian SDGs nasional. Program ini, lanjut dia, mampu meningkatkan pemahaman, keterampilan, hingga sikap peserta dalam melihat risiko dan peluang keberlanjutan.
“Seharusnya SDGs ini disepakati sebagai ambang batas minimum yang disepakati oleh seluruh negara di dunia agar tujuan dari SDGs di tahun 2030 itu tercapai. Oleh karena itu, penting sekali,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengaku masih banyak masyarakat atau profesional yang minim literasi mengenai SDGs. Ia berharap kelas dan konten SDG Academy semakin diperluas agar lebih banyak profesional mampu mempraktikkan dan menularkan pemahaman SDGs di lingkungan kerja masing-masing.
Jangkauan Program SDG Academy Indonesia
Program SDG Academy Indonesia terus memperluas jangkauan pesertanya. Sejak berdiri pada 2019, program yang didukung oleh UNDP, Bappenas RI, dan Tanoto Education ini telah menjangkau 250 alumni.
“Jadi itu dari salah satu program saja. Tentu itu tidak termasuk teman-teman yang menyelesaikan program belajar online atau daring tadi yang jumlahnya lebih dari 26.000 kalau tidak salah sekarang sudah diselesaikan atau sudah mendaftar,” jelas Project Associate (Learning) SDG Academy Indonesia 2022–2024, Agung Prasetyo.
Ia mengakui, pada tahap awal pelaksanaan program, tantangan terbesar adalah menjangkau wilayah Indonesia Timur. Faktor akses menjadi kendala utama, terutama terkait internet dan informasi. Meski demikian, proses seleksi peserta setiap angkatan dilakukan dengan berbagai pertimbangan agar komposisi tetap beragam.
“Tapi dari prosesnya, dari angkatan pertama sampai angkatan ketujuh terakhir, itu kalau dia sifatnya seleksi atau open to public, kami selalu mempertimbangkan banyak macam pertimbangan atau consideration gitu ya. Bisa dari salah satunya geographical distribution-nya, kemudian juga sektornya supaya tetap lintas sektor, dan juga dari idenya, gagasannya seperti apa di lapangan,” paparnya.
Mendorong Generasi Muda Terlibat dalam SDGs
Sementara itu, Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Arifin Rudiyanto, mengatakan pemerintah tengah melakukan berbagai cara mendorong generasi muda untuk terlibat dalam SDGs.
Pertama, melakukan kerja sama dengan kampus untuk membuat satu mata kuliah terkait SDGs agar dipahami oleh mahasiswa.
Kedua, mengajak para mahasiswa untuk membentuk atau memilih duta SDGs di kampus masing-masing. “Dan nanti kami akan memberikan apresiasi dan penghargaan atas kreativitas dari para Duta SDGs ini,” lanjutnya.
Ketiga, bekerja sama dengan media untuk memberikan literasi yang luas terkait SDGs, dengan harapan menjangkau ke komunitas yang lebih luas. Terakhir, pihaknya juga menyiapkan Buku Biru SDGs dengan mengundang semua pihak yang memiliki proposal atau rencana proyek yang bagus untuk mengusulkannya kepada Seknas SDGs.
“Nah, itu akan menjadi semacam informasi untuk semua pihak dari luar yang punya pendanaan, yang punya mungkin niat untuk membangun, sehingga ada komunikasi. Jadi kami berfungsi sebagai matchmaking untuk demand di level lapangan terkait berbagai aktivitas yang akan dilakukan dan kepada donor yang akan memberikan bantuan,” ungkapnya.
Di sisi lain, pihaknya juga menyiapkan SDG Entrepreneur Center untuk membentuk generasi muda menjadi entrepreneur yang berbasis SDGs. Menurut Rudi, saat ini banyak teknologi yang siap untuk dikembangkan, banyak sumber daya menunggu untuk diberikan nilai tambah, dan banyak talenta-talenta muda yang punya ide. Namun, yang belum adalah platform untuk mempertemukan hal ini.
“Nah, kami bekerja sama dengan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) membuat semacam inkubator untuk mempertemukan demand dari lapangan terkait talenta muda yang punya inovasi, dan teknologi yang ada, dan sumber daya alam yang tersedia,” pungkasnya.











