JAKARTA – Ancaman penurunan peringkat pasar saham Indonesia menjadi berisiko tinggi alias frontier market oleh MSCI Inc. telah mengguncang Bursa Efek Indonesia dan memicu aksi jual yang dinilai jarang terjadi. Tekanan tersebut sekaligus memperkuat sorotan dari pelaku pasar agar pembuat kebijakan melakukan reformasi struktural agar pasar domestik tetap relevan bagi investor asing.
Masalah struktural seperti rendahnya saham beredar bebas (free float) dan kedalaman likuiditas pasar telah lama menjadi beban bagi daya tarik pasar saham Indonesia. Sejumlah investor menilai, pembenahan atas dua isu tersebut dapat membuka peluang peningkatan peringkat pasar secara menyeluruh. India menjadi contoh yang patut diperhatikan.
“Ikuti saja persis apa yang dilakukan India, pasar di sana berkembang pesat,” kata John Foo, pendiri Valverde Investment Partners Pte. yang berfokus pada Asia Tenggara.
Perbandingan dengan India
India saat ini menjadi salah satu tujuan utama investor global untuk pasar negara berkembang. Pasar sahamnya tengah mengalami lonjakan, penawaran umum perdana (IPO) mencetak rekor, dan jumlah investor ritel terus bertambah. Namun, kondisi tersebut merupakan hasil reformasi panjang sejak 2010, ketika India menghadapi persoalan serupa dengan Indonesia.
Pada periode tersebut, otoritas India mengambil langkah tegas untuk mengatasi dominasi pemegang saham pengendali, keterbatasan saham publik, dan ketergantungan pasar pada dana spekulatif. Inti reformasi adalah kewajiban bagi perusahaan tercatat untuk mempertahankan kepemilikan saham publik minimum 25%.
Perusahaan yang berada di bawah ambang batas diwajibkan meningkatkan porsi saham publik setidaknya lima poin persentase per tahun. Sementara itu, emiten baru diberi waktu tiga tahun untuk memenuhi ketentuan tersebut. Kebijakan itu diperkuat dengan peningkatan transparansi dan perluasan akses bagi investor asing.
Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi bagi revaluasi pasar saham India. Sejak 2010, India mencatat arus masuk investasi asing sebesar US$1,25 triliun dan membangun salah satu basis investor ritel terbesar di dunia. Status India sebagai tujuan utama alokasi pasar negara berkembang pun semakin menguat.
“Dalam jangka menengah hingga panjang, aturan float yang lebih kuat dan transparansi cenderung memperluas cakupan investasi, mengurangi premi risiko yang diminta oleh investor, dan menarik modal yang lebih berkelanjutan,” kata Direktur Investasi PT BNP Paribas Asset Management di Jakarta, Djumala Sutedja.
Langkah Indonesia
Indonesia sejauh ini mulai menempuh jalur serupa. Otoritas pasar modal mendorong penerapan free float minimum 15% yang ditargetkan mulai berlaku pada Maret mendatang. Selain itu, porsi free float untuk IPO direncanakan naik menjadi 15–25% dari sebelumnya 10–20%.
Namun, keberhasilan reformasi ini sangat bergantung pada respons sektor korporasi. Banyak konglomerat di Indonesia masih dikendalikan oleh keluarga tertutup dengan kepemilikan saham yang terkonsentrasi. Setidaknya satu pengendali memilih melakukan pembelian kembali saham, yang dinilai dapat menopang harga, tetapi justru menekan free float.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai peringatan dari MSCI sebagai momentum perbaikan. “Peringatan MSCI ‘adalah hal yang baik’ untuk perilaku pasar yang lebih baik,” katanya. Ia menambahkan telah berulang kali meminta regulator pasar saham untuk membersihkan pasar dari ‘praktik manipulasi’ harga saham.
Di sisi lain, investor institusional domestik menyambut baik rencana peningkatan free float, tetapi mengingatkan agar implementasinya tidak tergesa-gesa. “Mereka harus memberikan waktu yang cukup bagi perusahaan untuk mematuhi peraturan tanpa menciptakan pasar yang kacau,” kata Kepala Riset Maybank Sekuritas di Kuala Lumpur, Jeffrosenberg Chen Lim. Menurut dia, tenggat yang terlalu singkat berisiko memicu gelombang penjualan saham.
Pengalaman India dan Pelajaran untuk Indonesia
Pengalaman India menunjukkan bahwa peningkatan free float tidak berdiri sendiri. Pemerintah India juga melonggaskan pembatasan investasi asing di berbagai sektor, termasuk pertahanan, konstruksi, pertambangan batubara, manufaktur kontrak, dan perantara asuransi, dengan membuka kepemilikan asing hingga 100%.
Hasil reformasi tersebut bersifat struktural. Bobot India dalam Indeks Pasar Berkembang MSCI meningkat dari 8,3% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 18 persen pada akhir 2024. Meski sempat tertunda pada 2020, arah kebijakan dinilai konsisten.
Analis menilai Indonesia dan India memulai dari posisi yang berbeda. “Posisi pasar India saat ini adalah hasil dari reformasi selama bertahun-tahun,” kata analis portofolio senior T. Rowe Price, Clarence Li.
Untuk saat ini, tekanan di pasar saham Indonesia dinilai lebih mencerminkan ujian terhadap kredibilitas kebijakan dibandingkan penilaian terhadap fundamental emiten. Sebagian investor menilai koreksi pasar justru membuka peluang masuk.
“Sebelum Mei tahun ini, kami akan memenuhi apa yang diinginkan MSCI,” kata Purbaya.
Pengalaman India menjadi cermin sekaligus peringatan bagi Indonesia bahwa reformasi pasar membutuhkan konsistensi dan ketekunan jangka panjang. “Indonesia ‘sudah bergerak di jalur yang serupa dan menggembirakan’ seperti yang dilakukan India,” kata Djumala.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











