My WordPress Blog

Misi Dedolarisasi Tiongkok: Xi Jinping Mendorong Yuan Jadi Mata Uang Cadangan Global

Presiden China Xi Jinping Mendorong Yuan Menjadi Mata Uang Cadangan Global

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menyerukan agar yuan menjadi mata uang cadangan global dalam pidato yang diterbitkan kembali. Pidato tersebut disampaikan pada 2024 kepada para pejabat provinsi dan kementerian, saat ia mengungkapkan ambisinya untuk menjadikan Tiongkok sebagai kekuatan keuangan global.

Mata uang cadangan global adalah mata uang asing yang disimpan dalam jumlah besar oleh bank sentral dan pemerintah di seluruh dunia untuk digunakan dalam perdagangan internasional, investasi, dan stabilisasi ekonomi. Xi Jinping mengungkapkan harapannya agar yuan digunakan secara luas dalam perdagangan internasional, investasi, dan pasar valuta asing.

Dalam pidato itu, Xi bertanya, “Apa yang dimaksud dengan negara keuangan yang kuat?” Ia menjawab bahwa negara tersebut harus memiliki mata uang yang kuat, yang digunakan secara luas dalam perdagangan internasional, investasi, dan pasar valuta asing, serta memiliki status sebagai mata uang cadangan global.

Kekuatan Yuan dalam Perdagangan Internasional

Selama setahun terakhir, yuan secara umum menguat terhadap dolar. Namun, bank investasi internasional menilai mata uang China tersebut masih berada di bawah nilai wajarnya dalam jangka panjang. Pemilihan waktu publikasi pidato itu dinilai penting karena daya tarik dolar sebagai aset aman memudar di tengah kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan fluktuasi pasar global akibat risiko geopolitik.

Ahli strategi senior China di Australia & New Zealand Banking Group, Xing Zhaopeng, menyatakan bahwa pimpinan tertinggi sedang bersiap melakukan lebih banyak reformasi keuangan. Para pembuat kebijakan mungkin menilai ini sebagai waktu yang tepat karena lembaga keuangan memiliki konsensus yang kuat bahwa dolar sedang melemah.

Sistem keuangan Tiongkok kini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu, dengan risiko yang semakin saling terkait, sehingga pencegahan risiko menjadi tema abadi.

Penurunan Nilai Dolar dan Pengaruhnya terhadap Yuan

China mempercepat upaya meningkatkan popularitas yuan karena investor beralih dari dolar di tengah ketidakpastian politik AS dan kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve. Federal Reserve merupakan bank sentral Amerika Serikat yang bertugas menjaga stabilitas sistem moneter dan keuangan negara.

Minat pedagang terhadap yuan melonjak pada Januari 2026, ketika volume transaksi terhadap mata uang asing mencapai level tertinggi sejak Agustus 2024, menurut data resmi. Yuan domestik naik 0,1 persen terhadap dolar pada Senin (2/2/2026), sehingga memperbesar kenaikan sejak awal tahun menjadi 0,5 persen.

Kekuatan yuan mencerminkan pelemahan dolar dan taruhan investor bahwa mata uang China tersebut sangat undervalued, artinya nilainya di pasar lebih rendah dibandingkan kekuatan ekonomi atau fundamental negara tersebut.

Yuan Masih Jauh Tertinggal dari Dollar AS

Setiap negara memiliki mata uang sendiri, tetapi hanya beberapa di antaranya yang mendominasi perdagangan dan sistem keuangan global. Untuk dapat menerbitkan salah satu “mata uang cadangan global”, suatu negara harus memiliki perekonomian yang cukup besar serta pasar keuangan yang berkembang dengan baik.

Pada era kolonial, mata uang cadangan global adalah dolar Spanyol, franc Prancis, dan guilder Belanda. Pada abad ke-19, ketiga mata uang tersebut digantikan oleh pound sterling Inggris. Namun, pada tahun 1944, sistem moneter internasional baru diadopsi, membuka jalan bagi dolar AS untuk menjadi mata uang cadangan global utama.

Hingga kini, dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan global utama, meskipun mata uang cadangan lainnya juga digunakan. Pada Juli 2025, dolar AS memiliki sekitar 58 persen pangsa dari total cadangan devisa dunia. Sementara itu, euro menguasai sekitar 20 persen, sedangkan yen Jepang dan pound sterling masing-masing memiliki sekitar 5 persen. Yuan China masih tertinggal jauh, dengan pangsa hanya sekitar 3 persen.

Langkah Kecil Menuju Dedolarisasi

Upaya China dalam dedolarisasi tampaknya mulai membuahkan hasil. Mengutip Business Insider Africa, Zambia kini menjadi negara Afrika pertama yang memungut pajak pertambangan dalam mata uang yuan. Bank Sentral Zambia mengonfirmasi bahwa pembayaran dalam yuan dimulai pada Oktober 2025, menandai perubahan signifikan dalam cara produsen tembaga terbesar kedua di Afrika tersebut mengelola pendapatan sektor pertambangannya.

Bloomberg melaporkan bahwa operator tambang asal China kini menyelesaikan sebagian kewajiban pajak mereka dalam yuan, mencerminkan peran China yang semakin besar sebagai pembeli tembaga terbesar Zambia sekaligus salah satu kreditornya yang utama.

Bank Sentral Zambia menyatakan perubahan tersebut sejalan dengan strategi pengelolaan cadangan devisa dan realitas struktur ekspor negara itu. Sebagian besar ekspor tembaga menuju China, dan perusahaan pertambangan China telah menerima sebagian, jika tidak seluruh, pembayaran ekspor mereka ke China dalam renminbi (yuan).

Bank tersebut menambahkan bahwa kepemilikan yuan juga membuat pembayaran utang kepada China menjadi lebih murah, serta memungkinkan Zambia melunasi kewajibannya dengan cara yang lebih efisien dari segi biaya.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *