My WordPress Blog
Budaya  

Mengapa Puasa Tasu’a Wajib Dilakukan? Ini Manfaatnya

Puasa Tasu’a: Keutamaan dan Sejarah yang Perlu Diketahui

Puasa Tasu’a sering kali disebut sebagai salah satu puasa sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Muharram. Meski begitu, masih banyak orang yang belum memahami alasan di balik anjuran tersebut serta keistimewaan yang terkandung di dalamnya. Bulan Muharram sendiri dikenal sebagai bulan yang dimuliakan dalam Islam. Berbagai amalan ibadah, termasuk puasa sunnah, memiliki nilai pahala yang istimewa ketika dilakukan pada waktu ini, sehingga menarik untuk dikaji lebih dalam.

Mengapa Puasa Tasu’a Disunnahkan?



Berikut beberapa keistimewaan yang bisa diperoleh ketika melaksanakan puasa Tasu’a:

  1. Puasa terbaik setelah puasa Ramadan

    Puasa Tasu’a dan puasa Asyura termasuk di antara puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadan. Keduanya dilaksanakan di bulan Muharram, yang dikenal sebagai Syahrullah atau bulan Allah, sehingga memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam.

    Keutamaan ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau bersabda yang artinya:

    “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah), yaitu bulan Muharram. Sedangkan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR.Muslim).

  2. Dilaksanakan di bulan mulia (al-asyhurul hurum)

    Bulan Muharram termasuk dalam al-asyhurul hurum, yaitu empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebaikan, termasuk puasa sunnah.

    Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk berpuasa di keempat bulan suci ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah.

    “Berpuasalah di bulan Ramadan dan tiga hari setelahnya, dan berpuasalah di bulan-bulan suci.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan lainnya).

  3. Pahala puasa sehari setara dengan puasa 30 hari

    Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Barang siapa berpuasa pada hari Arafah, maka ia akan menghapus dosa-dosa selama dua tahun, dan barang siapa berpuasa satu hari di bulan Muharram, maka ia akan mendapatkan pahala berpuasa 30 hari untuk setiap hari ia berpuasa.” (Diriwayatkan oleh at-Tabarani dalam al-Mu’jamus Shaghir).

    Oleh karena itu, meski hanya dilakukan satu hari, puasa Tasu’a tetap bernilai sangat besar dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.

  4. Menyempurnakan puasa Asyura dan membedakan dari kaum lain

    Puasa Tasu’a dilaksanakan sehari sebelum puasa Asyura, yakni pada tanggal 9 Muharram. Puasa ini dianjurkan untuk menyempurnakan puasa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk berpuasa sehari sebelum atau sesudah Asyura sebagai bentuk pembeda dari kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10 Muharram.

    Dengan menggabungkan puasa Tasu’a dan Asyura, umat Islam tidak hanya memperoleh keutamaan puasa, tetapi juga menjalankan sunnah Rasulullah SAW secara lebih sempurna.

Sejarah Puasa Tasu’a



Berdasarkan hadits Imam Bukhari, saat Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Penasaran, Beliau bertanya:

“Hari apa ini?”

Mereka menjawab,

“Hari yang baik, ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Nabi Musa pun berpuasa sebagai ucapan syukur.”

Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda:

“Kami (kaum Muslimin) lebih layak menghormati Musa daripada kalian.”

Lalu Beliau memerintahkan sahabat untuk berpuasa pada hari itu. (HR.Bukhari)

Puasa Asyura awalnya diperingati oleh umat Yahudi untuk mengenang penyelamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa umat Islam juga berhak melestarikan dan menyempurnakan syariat Nabi Musa melalui puasa pada hari yang sama. Namun, agar tidak sama dengan kaum Yahudi, Nabi SAW menambahkan satu hari sebelum Asyura, yaitu tanggal 9 Muharram, yang dikenal dengan puasa Tasu’a. Beliau bersabda:

Hadits Rasulullah dari Abdullah bin Abbas RA berkata:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

Saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa pada hari Asyura dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah bersabda: “Pada tahun depan insyaallah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharam).” Tahun depan itupun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah wafat. (HR Muslim).

Dengan demikian, Puasa Tasu’a menjadi pelengkap Puasa Asyura, sekaligus wujud penghormatan terhadap sejarah para nabi dan memperbanyak amal sunnah bagi umat Islam.

Kapan Puasa Tasu’a 2026?



Berdasarkan penjelasan di atas, puasa Tasu’a dilaksanakan sehari sebelum Hari Asyura, yakni pada tanggal 9 Muharram.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, puasa Tasu’a tahun ini akan jatuh pada hari Rabu, 24 Juni 2026.

Niat Puasa Tasu’a



Berikut ini adalah niat puasa Tasua:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ تَسُوْعَاءٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin minyaumi tasuu-‘aa-in sunnatan lillahi ta’aalaa.

Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah hari Tasua esok hari karena Allah Ta’ala.”

FAQ tentang Puasa Tasu’a

  • Apakah niat Puasa Tasu’a harus diucapkan?

    Tidak harus diucapkan. Niat di dalam hati sudah cukup, sebagaimana niat puasa sunnah lainnya.

  • Apakah Puasa Tasu’a sama dengan Puasa Asyura?

    Tidak. Puasa Tasu’a dilakukan tanggal 9 Muharram, sedangkan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

  • Bolehkah hanya berpuasa Tasu’a tanpa Asyura?

    Boleh, namun lebih utama jika digabung dengan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

  • Keutamaaan Puasa Arafah, Benarkah Menghapus Dosa 2 Tahun?

    Ya, puasa Arafah memiliki keutamaan menghapus dosa selama dua tahun.

  • Niat Puasa 1 Muharam, Apa Manfaatnya?

    Puasa 1 Muharam memiliki keutamaan seperti puasa di bulan Muharram yang merupakan bulan suci.

  • Niat Puasa Akhir Tahun Islam, Amalkan untuk Sambut Tahun Baru Hijriah

    Niat puasa akhir tahun Islam dapat dilakukan sebagai bentuk persiapan menyambut Tahun Baru Hijriah.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *