My WordPress Blog
Bisnis  

Ciayumajakuning Berkontribusi Rp12,79 Triliun pada Investasi Rebana

Realisasi Investasi di Kawasan Rebana Tahun 2025

Realisasi investasi di Kawasan Rebana pada tahun 2025 mencapai angka yang sangat signifikan, yaitu sebesar Rp36,67 triliun. Dari total tersebut, wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan (dikenal sebagai Ciayumajakuning) berkontribusi sekitar Rp12,79 triliun atau setara dengan 34,9% dari total investasi kawasan metropolitan baru di Jawa Barat ini.

Capaian ini menempatkan Ciayumajakuning sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan investasi Rebana. Meskipun Kabupaten Subang dan Kabupaten Sumedang mendominasi jumlah investasi secara keseluruhan, akumulasi investasi di Ciayumajakuning memiliki bobot strategis dalam struktur ekonomi kawasan tersebut.

Kontribusi Wilayah Ciayumajakuning

Kabupaten Cirebon menjadi kontributor terbesar di wilayah Ciayumajakuning dengan realisasi investasi sebesar Rp4,01 triliun. Angka ini menjadikan Kabupaten Cirebon berada di peringkat ketiga tertinggi di Kawasan Rebana. Perannya sebagai pusat industri pengolahan, perdagangan, dan logistik yang terhubung langsung dengan jalur Pantura serta pelabuhan di pesisir utara Jawa semakin memperkuat posisinya.

Kabupaten Majalengka mencatatkan investasi sebesar Rp3,36 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Indramayu yang mencapai Rp3,35 triliun. Investasi di Majalengka banyak berkaitan dengan pengembangan kawasan industri dan aktivitas ekonomi turunan dari keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Sementara itu, Indramayu masih mengandalkan sektor energi, migas, serta industri penunjang sebagai motor utama arus modal masuk. Kota Cirebon juga menyumbang investasi sebesar Rp1,85 triliun. Meski nilainya lebih kecil dibandingkan wilayah kabupaten di sekitarnya, Kota Cirebon memiliki fungsi penting sebagai pusat jasa, perdagangan, dan distribusi regional yang menopang aktivitas ekonomi Ciayumajakuning secara keseluruhan.

Di sisi lain, Kabupaten Kuningan mencatatkan realisasi investasi paling rendah di Ciayumajakuning, yakni Rp253 miliar. Rendahnya angka tersebut mencerminkan struktur ekonomi Kuningan yang masih didominasi sektor pertanian, pariwisata alam, dan usaha skala kecil, serta belum terintegrasi secara optimal dengan arus investasi industri di Kawasan Rebana.

Pandangan Kepala BP Rebana

Kepala Badan Pengelola Kawasan Rebana (BP Rebana), Helmy Yahya, menilai bahwa ekonomi Rebana masih menyimpan potensi besar yang belum digarap maksimal. Ia menyebut kawasan ini ibarat “mutiara terpendam”, terutama di wilayah Indramayu dan Cirebon yang dinilai tertinggal dibandingkan daerah lain.

Dalam acara Cirebon Invesment Summit di Kabupaten Cirebon, Helmy mengungkap bahwa koridor ekonomi terbesar di Jawa Barat tersebut memiliki infrastruktur kelas nasional, namun perkembangan antarwilayah belum berjalan seimbang. Ia menyebut ada daerah yang sudah sprint menarik modal, tapi Indramayu dan Cirebon masih menjadi PR paling serius.

Potensi dan Tantangan di Kawasan Rebana

Helmy memaparkan konsep Rebana sebagai pusat pertumbuhan baru Jawa Barat mulai terbentuk di Subang, Majalengka, dan Sumedang. Ketiga wilayah ini menikmati dorongan kuat dari hadirnya Pelabuhan Patimban, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, serta Tol Cisumdawu.

Subang kini berkembang sebagai pusat logistik dan ekspor otomotif berkat Patimban. Majalengka menikmati pertumbuhan investasi melalui Aerocity Kertajati yang disiapkan menjadi simpul industri penerbangan dan logistik udara.

Sementara itu, Sumedang semakin terintegrasi dengan kawasan pendidikan Jatinangor serta akses langsung menuju Kertajati melalui Tol Cisumdawu. Kombinasi tersebut menjadikan ketiganya magnet bagi modal baru di sektor industri terintegrasi, manufaktur, teknologi, hingga logistik.

Berbeda dengan tiga wilayah tersebut, Helmy memotret Indramayu dan Cirebon sebagai dua daerah yang belum mampu menampilkan daya saing kuat. Indramayu masih bergantung pada migas dan pembangkit listrik, sehingga ruang untuk mengembangkan industri baru terbatas. Rencana kawasan industri belum menunjukkan percepatan signifikan, ditambah hambatan birokrasi perizinan yang dinilai belum cukup ramah bagi investor. Helmy menekankan perlunya lompatan besar agar Indramayu bisa membangun kawasan logistik dan industri yang menyerap tenaga kerja lokal.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *