Pengalaman Bertemu dengan Ayah Tjipta dan Bunda Roselina
Lobi apartemen sore itu terasa sunyi. Suara langkah kaki sesekali terdengar, bercampur dengan dengung pintu otomatis yang terbuka dan tertutup. Di tempat itu, saya bersama Mbak Muthia Alhasany, Mas Budi Susilo, dan Kang Fery Widiatmoko menunggu dengan perasaan campuran antara gugup dan hangat, seperti akan bertemu orang tua sendiri setelah lama hanya berkomunikasi melalui layar.
Tidak lama kemudian, Ayah Tjiptadinata Effendi dan Bunda Roselina muncul dari pintu penghubung menuju lobi. Saya segera menghampiri mereka, mencium tangan, lalu memeluknya. Betapa benar apa yang sering disampaikan para Kompasianer: kehangatan mereka tetap sama meskipun di dunia nyata.
Kami diajak menuju area komunal di sudut lobi apartemen. Ruang sederhana yang menjajakan produk UMKM. Di sanalah, pertemuan yang sejak lama dinantikan akhirnya dimulai. “Mari masuk, Ananda.” Sapaan yang sudah sangat akrab di telinga para Kompasianer terasa lebih dekat—lebih manusiawi dan penuh kehangatan.
Sore itu, 21 Januari pukul 18.00, sebuah janji yang bermula dari percakapan singkat dengan Mbak Ika Ayra berubah menjadi nyata. Niat sederhana untuk bertemu, yang sebelumnya hanya terucap lewat pesan, mendapat sambutan hangat dari Ayah dan Bunda. Kini, saya benar-benar berada di hadapan mereka—merasakan langsung keramahan yang selama ini hanya saya kenal lewat tulisan dan sapaan.
Beliau berdua baru saja kembali dari perjalanan menengok kakak di Bandung. Meski tampak lelah, binar di mata mereka saat menyambut kami berempat sangat jelas terlihat. Ada kehangatan yang lebih tulus daripada uap teh yang mungkin tersaji di meja mana pun. Kami pun mengobrol santai di area tersebut.
Ayah Tjipta sengaja tidak mengajak kami masuk ke unit apartemen demi menghargai privasi adik-adik beliau yang sedang berkunjung. Sebuah pelajaran etika yang mahal: beliau sangat menjaga kenyamanan keluarga sekaligus tetap menghargai tamu yang datang. Beliau juga tidak membuat undangan terbuka karena tak ingin pertemuan hanya menjadi seremoni singkat yang melelahkan bagi banyak orang. Beliau ingin setiap detik pertemuan berkualitas. Begitu humble, begitu memikirkan orang lain.
Kehangatan itu juga terlihat dari hal-hal kecil yang nyaris luput jika tidak diperhatikan dengan hati. Saat berjalan, Ayah Tjipta selalu menggandeng Bunda Rose. Ketika hendak minum, beliau memastikan Bunda telah lebih dulu meneguk minumannya. Sebaliknya, Bunda Rose pun tak kalah penuh perhatian. Beliau memastikan kami berempat sudah memesan makanan dan minuman, seolah kami adalah bagian dari lingkar keluarga kecil yang sedang dijaganya.
Di sela obrolan yang kami sebut sebagai “obrolan daging” karena sarat makna, Ayah Tjipta menyampaikan filosofi menulisnya yang sangat bersahaja, tetapi mendalam. “Menulis itu berbagi pengalaman. Sekecil apa pun, sesederhana apa pun, sebuah tulisan tetap akan memberikan manfaat. Menulis membantu pikiran tidak beku,” tutur beliau sembari tersenyum.
Kalimat “pikiran tidak beku” terus terngiang di kepala saya. Bagi beliau, menulis bukan soal mengejar validasi atau ketenaran, melainkan sebuah ikhtiar untuk terus mengalirkan energi kehidupan. Nasihat ini menegaskan bahwa dalam dunia literasi, tidak ada istilah “inflasi” makna. Makin banyak pengalaman yang dituliskan, makin tinggi nilai manfaat yang ada.
Pikiran yang terus diasah melalui tulisan adalah rumah kecil bagi ingatan yang menua agar tidak mengeraskan diri dalam kepikunan. Setiap kata yang diketik adalah detak jantung yang memastikan kognisi tetap hidup dan relevan bagi orang lain.
Pertemuan itu tidak berlangsung lama karena kami sadar beliau butuh istirahat. Namun, dalam waktu yang singkat itu, saya beruntung mendapatkan dua buah buku yang langsung ditandatangani oleh beliau berdua. Guratan pena di atas kertas itu terasa seperti estafet semangat yang diberikan dari orang tua kepada anaknya.
Bagi saya, itu bukan sekadar buku, melainkan aset inspirasi yang tak ternilai harganya. Selain itu, oleh-oleh lain yang kudapat adalah sebuah kesadaran baru: menulis adalah cara paling jujur untuk tetap muda—bukan pada usia, melainkan pada cara berpikir dan berbagi.
Di tengah aroma tekwan dan suasana kantin yang bersahaja, saya belajar bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari megahnya tempat ia menyambut tamu, melainkan dari seberapa hangat ia merangkul sesama dengan sebutan “Ananda” dan seberapa konsisten ia menjaga pikirannya agar tidak pernah membeku melalui tulisan.
Terima kasih, Ayahanda Tjipta dan Bunda Roselina. Dari kalian, saya belajar:
- Bahwa setiap pengalaman adalah harta yang layak dibagikan.
- Bahwa untuk tetap hidup, saya hanya perlu terus mengalirkan apa yang saya punya, bukan menyimpannya sampai membeku.











