Pemerintah Berupaya Perbaiki Layanan Kesehatan Nasional
SURABAYA – Pemerintah terus berupaya mendorong perubahan besar dalam layanan kesehatan nasional, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia tidak lagi bergantung pada pengobatan ke luar negeri, khususnya untuk penyakit berat seperti kanker. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa upaya ini hanya dapat tercapai jika fasilitas medis dan kualitas layanan di dalam negeri benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Salah satu langkah konkret yang kini mulai dirasakan adalah pemerataan teknologi kesehatan canggih di luar Jakarta. Rumah Sakit Kemenkes Surabaya menjadi salah satu rumah sakit rujukan yang kini telah dilengkapi peralatan berteknologi tinggi untuk diagnosis kanker. Menkes menjelaskan bahwa pemerintah secara bertahap menempatkan alat PET Scan untuk mendeteksi penyebaran kanker dengan resolusi tinggi. Alat tersebut sebelumnya hanya tersedia di Jakarta, namun kini telah hadir di Surabaya.
“Dengan ini, orang enggak usah (berobat) ke luar negeri,” kata Budi Gunadi kepada jurnalis usai mengunjungi RS Kemenkes Surabaya, Kamis (22/1/2026) malam.
Ke depan, menurut Menkes, pemerintah berencana menempatkan PET Scan di 16 kota di seluruh Indonesia, termasuk Kalimantan dan Papua. Dengan pemerataan ini, masyarakat tidak perlu lagi datang ke Jakarta atau Surabaya untuk mendapatkan layanan diagnosis kanker yang presisi.
Selain akses yang lebih dekat, Budi Gunadi menilai berobat di dalam negeri memiliki keunggulan dari sisi biaya.
Tantangan Besar, Menyiapkan Tenaga Medis
Meski fasilitas terus diperkuat, Menkes juga mengakui bahwa tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi medis canggih tersebut. “Dari sisi kompleksitas kita memang memprioritaskan mendidik dokter muda supaya cepat keahliannya,” ujar Budi Gunadi.
Oleh karenanya, Menkes menyebut, penguatan sumber daya manusia menjadi kunci agar investasi peralatan medis tidak sia-sia dan layanan kesehatan benar-benar optimal. Untuk menjawab persoalan keterbatasan tenaga ahli, dia mengatakan, pemerintah kini mengakselerasi peningkatan kompetensi dokter spesialis melalui program fellowship selama satu tahun.
Program ini dirancang untuk memangkas waktu pendidikan medis yang selama ini dinilai terlalu panjang. “Kebijakan ini kami tempuh untuk mengejar ketertinggalan layanan kesehatan nasional dibanding negara tetangga sekaligus mempercepat ketersediaan tenaga ahli pada layanan berteknologi tinggi,” kata Menkes.
Budi Gunadi menyebut, tanpa terobosan, seorang dokter membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai kompetensi penuh. Bahkan, dalam pendidikan sebelumnya, banyak dokter baru dapat menjadi ahli pemasangan ring jantung setelah menempuh waktu hingga sekitar 20 tahun. Dengan program fellowship satu tahun ini, pemerintah menargetkan dapat mencetak sekitar 50 hingga 80 tenaga ahli, dengan pelaksanaan yang tetap melibatkan kolegium agar standar kompetensi tetap terjaga.
“Prioritas kita adalah bagaimana dokter-dokter muda ini tingkat karyanya sama. Mereka lebih cepat dan kalau bisa lebih tinggi kemampuannya karena terekspos teknologi baru,” tutur Budi Gunadi.
4 Pilar Peningkatan Layanan Kesehatan Menuju Indonesia Emas
Sementara itu Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus, Aris Marsudiyanto, mengatakan bahwa peningkatan layanan kesehatan harus dibangun di atas empat pilar utama. Pilar pertama adalah infrastruktur rumah sakit, disusul peralatan medis berteknologi tinggi. Pilar ketiga adalah sumber daya manusia yang kompeten. Dia mengakui, mencetak dokter ahli bukan perkara mudah karena membutuhkan waktu panjang.
“Keempat adalah iklan. Jangan sampai punya rumah sakit peralatan lengkap tapi enggak ada ada iklan, percuma,” kata Aris. “Ada alat, tidak ada orang, itu percuma. Maka pemerintah fokus mencetak SDM-nya, termasuk meningkatkan beasiswa LPDP untuk dokter-dokter berkualitas agar belajar ke luar negeri,” ujarnya lagi.
Saat ini, dia berharap langkah-langkah yang ditempuh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dapat mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. “Sekarang saatnya kita harus menciptakan generasi emas, karena pada tahun 2030-2035 akan ada bonus demografi yang manusia produktif akan lebih banyak dibanding yang tidak, jadi ayo hidup sehat dan menjadi pintar,” pungkas Aris Marsudiyanto.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.









