My WordPress Blog

Perjuangan Nani: Jual Kue Balok, Suami Kerja Serabutan, Anak Sekolah

Kehidupan Nani Nur Hayati: Seorang Ibu yang Bertahan dengan Kue Balok

Nani Nur Hayati (44) adalah seorang penjual kue balok yang setiap hari menjajakan dagangannya di jalanan. Baginya, berdagang bukan hanya sebagai pekerjaan, tetapi juga menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup dalam situasi ekonomi yang semakin sulit.

Dulu, suaminya bekerja di pabrik, namun kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat perusahaan tersebut mulai mengurangi jumlah buruh tanpa kepastian. Hal ini memaksa Nani untuk turun ke jalan dan mencari nafkah sendiri. Ia melihat adonan kuning keemasan dari kue baloknya, yang terasa lembut di tangan, namun di balik itu ada realitas keras yang harus ia hadapi.

“Sekarang suami kerja serabutan, ya alhamdulillah ada saja, kadang juga bantu di sini,” ujarnya dengan nada tenang saat dijumpai, Kamis (22/1/2026). Biaya hidup di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terasa seperti monster yang tak pernah berhenti menuntut. Setiap bulan, Nani harus berpikir keras, seperti seorang alkemis, untuk mengubah recehan menjadi kelangsungan hidup.

Peningkatan biaya hidup belakangan ini terasa sangat cepat, sedangkan pendapatan Nani hanya merangkak pelan. Ia menceritakan dengan suara lirih tetapi tegar bagaimana upah dari kue baloknya tidak cukup untuk mengejar harga kebutuhan pokok yang semakin mahal.

“Dulu, sepuluh ribu masih bisa membawa pulang sekantung sayur, kini ia hanya cukup untuk menebus segenggam cabai,” ucapnya dengan nada getir.

Menghadapi Kesulitan dengan Keteguhan

Beras, minyak, dan telur kini terasa seperti barang mewah yang harganya selalu membuat jantungnya berdebar lebih cepat daripada deru kendaraan di depannya. Belum lagi transportasi dan sewa tempat tinggal yang terus meningkat tanpa memandang apakah dagangannya laku atau tidak.

“Enggak tahu, kayanya uang sekarang mah enggak ada harganya. Cuma kelihatan besar di hitungan, kalau dibelanjakan mah semakin berkurang,” keluhnya.

Namun, di tengah kesulitan tersebut, Nani tidak pernah menyerah. Ia menjalani strategi bertahan hidup dengan disiplin tinggi. Ia rela memangkas porsi makannya sendiri agar anak-anaknya tetap bisa sarapan. Ia juga belajar berteman dengan kekurangan, merajut pakaian koyak, dan berjalan kaki untuk menghemat ongkos.

Yang membuatnya tetap kuat adalah binar mata anak-anaknya. Setiap pagi, saat melihat putra-putrinya mengenakan seragam rapi dan menyambutnya dengan hormat, Nani merasa ada energi purba yang mengalir ke dalam dirinya.

Harapan untuk Masa Depan Anak

Keinginan Nani sederhana namun luhur. Ia ingin anak-anaknya tidak melepuh karena api tungku seperti dirinya. Ia bermimpi mereka bisa duduk di ruang kelas yang sejuk, membaca buku-buku tebal, dan memiliki jaminan masa depan yang lebih baik daripada gerobak kayu di pinggir jalan.

“Pendikan bagi anak-anak saya adalah harga mati, sebuah paspor untuk keluar dari lingkaran kemiskinan,” kata Nani. Selama bertahun-tahun, ia telah menabung dari sisa penghematan yang menyiksa. Setiap keping logam yang masuk ke celengan ayamnya adalah simbol dari tetes keringat dan doa-doa panjang di sepertiga malam.

Ia ingin memastikan bahwa meskipun hidup dalam keterbatasan, anak-anaknya tidak akan kehilangan hak untuk bermimpi menjadi dokter, guru, atau insinyur. “Saya mampu ngumpulin ‘receh’, sisanya saya upayakan lewat sujud,” katanya.

Kepercayaan pada Tuhan dan Ketulusan

Ada satu kekuatan magis yang membuatnya tetap tersenyum di balik kepulan asap, yaitu rasa syukur yang tak bertepi. Meski hidup dalam kondisi yang mungkin memprihatinkan bagi orang lain, Nani merasa dirinya tetaplah orang yang beruntung.

“Tuhan masih memberi saya tenaga untuk bekerja dan orang-orang masih mau membeli kue saya. Itu sudah lebih dari cukup,” bisiknya sambil mengelap keringat di dahi.

Ia tak pernah mengutuk nasib, meski debu jalanan sering kali membuat napasnya sesak. Baginya, setiap kue balok yang terjual adalah bukti cinta Tuhan yang nyata. Ketulusannya melayani pembeli, dari sopir angkot hingga pegawai kantoran, adalah bentuk ibadah yang ia manifestasikan dalam pelayanan.

Menurutnya, kemiskinan materi tidak boleh dibarengi dengan kemiskinan jiwa. Di sela-sela melayani pembeli, ia sering bergumam kecil—sebuah zikir yang ia selipkan di antara bunyi denting logam.

Harapan untuk Masa Depan

Harapannya terhadap masa depan bukanlah kemewahan yang muluk-muluk. Ia hanya berharap agar kebijakan penguasa bisa lebih memihak pada rakyat kecil seperti dirinya. Nani mendamba hari di mana harga-harga pangan kembali stabil sehingga ia tidak perlu lagi gemetar saat membeli beras berkualitas layak bagi keluarganya.

Ia rindu akan jaminan kesehatan yang benar-benar bisa ia akses tanpa merasa sebagai beban bagi negara. “Ya semoga pemerintah bisa lihat warga kecil kaya saya,” imbuhnya.

Namun, di atas segala harapan duniawi itu, harapannya yang paling besar adalah melihat anak-anaknya menjadi pribadi yang jujur dan tangguh. Ia ingin mereka belajar dari gerobak kue balok ini tentang arti kerja keras, tentang bagaimana mempertahankan martabat di tengah badai ekonomi, dan tentang bagaimana tetap menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama meskipun dalam kekurangan.

“Jujur itu modal yang paling besar buat saya. Semoga anak saya akhlaknya bisa lebih baik dari saya,” kata dia pelan.

Jelang fajar mulai memuncak, Nani bersiap merapikan gerobaknya. Wajahnya tampak lelah, namun ada kepuasan yang terpancar dari sana. Hari ini, ia berhasil membawa pulang uang untuk membayar cicilan sekolah anaknya besok pagi. Itu adalah kemenangan kecil, tetapi bagi seorang ibu, itu adalah kemenangan semesta.

“Alhamdulillah, dapat lumayan sekarang, semoga nanti malam giliran suami bisa dapet lebih juga,” harapnya.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *