Pesantren Tua di Jawa Tengah: Saksi Bisu Perjalanan Islam Nusantara
Jawa Tengah tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang kaya akan budaya, tetapi juga menjadi tempat lahirnya banyak pesantren tua yang telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang Islam di Nusantara. Dari berdirinya pada abad ke-15 hingga akhir abad ke-19, sembilan pesantren ini memiliki kisah unik tentang perjuangan, ketekunan, dan warisan ilmu yang terus dijaga hingga saat ini.
Berikut adalah daftar sembilan pesantren tertua di Jawa Tengah:
-
Pondok Pesantren Andur Kersan, Kendal (1884)
Berlokasi di Tegorjo, Pegandon, Kabupaten Kendal, pesantren ini didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Nur pada tahun 1884. Saat ini, pesantren diasuh oleh generasi keempat pendiri, Kyai Haji Izzudin Abdussalam. Salah satu ciri khasnya adalah arsitektur rumah panggung dari kayu jati tua yang sarat nilai sejarah. Andur Kersan sering disebut sebagai “ibu dari pesantren-pesantren di Kendal” karena banyak alumninya mendirikan pesantren baru di sekitar wilayah tersebut. -
Pondok Pesantren Raudodulmubetadiin, Balekambang, Jepara (1884)
Didirikan oleh C.I.H.G. Hasbullah pada tahun 1884, pesantren ini kini dikembangkan oleh generasi ketiga, C.I.H.G. Makmun Abdullah. Pesantren ini menampung ribuan santri dalam sistem asrama terpadu yang memadukan kurikulum salaf dengan pendidikan modern dan vokasi. Salah satu alumni terkenalnya adalah Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan. -
Pondok Pesantren Giri Kusumo, Demak (1868)
Didirikan oleh Syekh Muhammad Hadi bin Tahir pada tahun 1868, pesantren ini menjadi pusat pendidikan Tasawuf Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pengasuh saat ini adalah generasi keempat, C.I.H.G. Munif Muhammad Juri, yang juga berperan sebagai Mursyid Tarekat. Salah satu tokoh yang lahir dari pesantren ini adalah putra pendiri, C.I. Bansur Popongan. -
Pondok Pesantren Al-Ash’ariyah, Kalibeber, Wonosobo (1832)
Berlokasi di Jalan Raya Kalibeber, pesantren ini didirikan oleh Kyai Muntaha bin Nida Muhammad sekitar tahun 1832. Pesantren ini kini dikelola oleh Dewan Pengasuh, dengan otoritas spiritual dipegang oleh Kyai Haji Khairullah Al-Mujtaba. Salah satu tokoh alumni yang menjadi representasi visi pesantren ini adalah Kyai Haji Muhattab Hamzah, MM (Rektor UNSIQ). -
Pondok Pesantren Watu Congol, Magelang (1830)
Didirikan oleh Kyai Abdurra’us bin Hasan Tuka pada tahun 1830, pesantren ini memiliki jumlah santri mukim sekitar 900 orang. Pengasuh saat ini adalah cucu pendiri, Kyai Haji Agus Ali Khoysor. Beberapa tokoh besar yang lahir dari pesantren ini antara lain Kyai Haji Mahrus Ali Lirboyo dan Abuya Muhammad Ilyas. -
Pondok Pesantren MIS, Sarang, Rembang (1810)
Dirintis oleh Kyai Haji Rugozali pada tahun 1810, pesantren ini diyakini sebagai pondok pesantren pertama dan tertua di Kecamatan Sarang. Pengasuh saat ini adalah Kyai Haji Muhammad Rogib Mabrur. Pesantren ini merupakan cikal bakal genealogis pesantren besar Sarang dan menjadi tempat salah satu pendiri NU, Kyai Haji Wahab Chasbullah, menimba ilmu. -
Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta (1750)
Berdiri pada tahun 1750 atas prakarsa Sunan Pakubuwana IV, pesantren ini sempat terhenti selama lebih dari 50 tahun akibat keterlibatannya dalam Perang Diponegoro. Kebangkitan Jamsaren bermula pada tahun 1878 ketika Kyai Haji Idris membangun kembali pesantren. Pesantren ini melahirkan tokoh besar seperti Kyai Haji Masykur dan Nyai Haji Mahmudah Mawardi. -
Pondok Pesantren Luhur Dondong, Semarang (1609)
Didirikan oleh Kyai Syafie Bojonegoro pada tahun 1609, pesantren ini memiliki situs sejarah penting berupa Musala Abu Darda dan makam pendiri yang diziarahi ribuan orang. Pesantren ini menjadi tempat berguru Kyai Soleh Darat, guru dari KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. -
Pondok Pesantren Al-Khafi Somalangu, Kebumen (1475)
Berdiri pada tahun 1475 M / 879 H, pesantren ini didirikan oleh Syekh Said Abdul Khafi Al-Hassani dan diyakini sebagai pesantren tertua di Asia Tenggara. Saat ini, pengasuhnya adalah Kyai Haji Hafiz Udin Hanif Al-Hassani, generasi ke-16 dari pendiri. Tokoh besar yang pernah menimba ilmu di sini antara lain Kyai Dalhar Watu Congol dan Kyai Abbas Muntad.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











