My WordPress Blog
Bisnis  

Jadi Barista di Pekanbaru, Peluang Menjanjikan di Balik Cangkir Kopi

Perkembangan Profesi Barista di Pekanbaru

Di kota Pekanbaru, deretan kedai kopi dan kafe kini semakin mudah ditemui. Dari pusat kota hingga kawasan permukiman, aroma kopi seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tempat-tempat ini bukan hanya menjadi ruang untuk menikmati minuman, tetapi juga menjadi titik temu bagi percakapan, kerja, dan relasi sosial warga kota.

Di balik meja bar, berdiri para barista yang perannya semakin penting. Mereka bukan hanya menyiapkan minuman, tetapi juga menjadi wajah pertama yang menyambut pelanggan. Cara menyapa, mendengar pesanan, hingga meracik minuman ikut menentukan pengalaman pengunjung saat berada di sebuah kafe.

Seiring bertambahnya jumlah kafe, kebutuhan akan barista pun ikut meningkat. Profesi ini mulai dipandang sebagai pilihan kerja yang menjanjikan, terutama bagi anak muda. Namun, menjadi barista bukan perkara instan. Dibutuhkan keahlian, jam terbang, dan pemahaman yang terus diasah dari waktu ke waktu.

Miko, salah seorang barista di Zyan Caffe Pekanbaru, mengaku perjalanan menjadi barista ia tempuh dari pengalaman ke pengalaman bekerja di beberapa tempat berbeda sebelumnya. Ia belajar dari beberapa tempat, pernah kerja di kafe dan juga hotel. Setiap tempat memberinya ilmu yang cukup banyak tentang cara kerja, standar pelayanan, bahkan karakter pelanggan.

Pengalaman tersebut membentuk kepekaan Miko dalam bekerja. Ia belajar bahwa barista tak hanya soal rasa kopi, tetapi juga bagaimana membaca situasi. “Kadang pelanggan datang ingin cepat, kadang ingin ngobrol. Dari situ kita tahu harus bersikap seperti apa,” imbuhnya.

Hal serupa juga dialami Raka, barista muda yang kini bekerja di sebuah kafe independen di Pekanbaru. Awalnya ia hanya tertarik pada kopi sebagai minuman, lalu mulai belajar meracik secara otodidak. Setelah berpindah dari satu kafe ke kafe lain, pemahamannya tentang kopi dan pelayanan semakin berkembang.

Menurut Raka, pengalaman bekerja di berbagai tempat memberinya sudut pandang yang lebih luas. Ia belajar tentang konsistensi rasa, kebersihan area kerja, hingga cara berkomunikasi dengan pelanggan. “Setiap tempat punya standar sendiri, dan itu bikin kita terus belajar, dan memperkaya diri dengan berbagai ilmu barista,” ujarnya.

Meski demikian, pengalaman lapangan saja dirasa belum cukup. Di tengah perkembangan dunia kopi, barista kini dituntut memiliki pemahaman yang lebih terstruktur. Standar penyajian, teknik meracik, hingga etika pelayanan menjadi bagian penting dari profesi ini.

Kondisi ini juga dirasakan oleh para pemilik kafe. Mencari barista yang siap kerja dengan kemampuan merata bukan hal mudah. Banyak yang harus melatih dari awal, menyesuaikan kebiasaan kerja, bahkan mengulang proses belajar yang seharusnya bisa dipangkas.

Di sinilah kebutuhan akan standar kompetensi mulai terasa. Barista dengan bekal keahlian yang terukur akan memudahkan kafe dalam menjaga kualitas layanan. Selain itu, profesi barista juga memiliki nilai tawar yang lebih kuat ketika keahliannya diakui secara resmi.

Melihat perkembangan tersebut, Alfa Noni, salah seorang barista perempuan asal Pekanbaru, yang juga merupakan pemilik dari Caffe Alfa Noni dan Kopi Shelter 26 yang berlokasi di Jalan Hangtuah Nomor 26, Pekanbaru, menilai ke depan dunia barista di Pekanbaru perlu ditopang dengan pendidikan dan sertifikasi yang jelas.

Alfa Noni yang juga menjabat sebagai Ketua Rumah Kreatif Caraka Pekanbaru menilai, sertifikasi dinilai dapat menjadi jembatan antara kebutuhan industri kafe dan kesiapan tenaga kerja yang profesional.

Ia juga mengikuti sertifikasi barista di Two Tigers Coffee Lab yang menyelenggarakan berbagai sertifikasi internasional, termasuk Specialty Coffee Association (SCA) untuk kelas Barista dan Sensorik. Selain itu, tempat ini juga memiliki sertifikasi Q Venue dari Coffee Quality Institute (CQI) yang berwenang mengadakan pelatihan dan ujian Q Grader, standar tertinggi dalam dunia pencicipan kopi. Pelatihan dipandu instruktur bersertifikat, salah satunya Evani Jesslyn. Ia menjadi peserta asal Pekanbaru dan berencana akan mengembangkan pelatihan barista tersebut di Pekanbaru nantinya.

“Dengan adanya barista yang tersertifikasi, kafe-kafe tidak lagi sekadar mencari pekerja, tetapi mitra profesional di balik bar. Bagi para barista sendiri, keahlian yang terstandar membuka peluang karier yang lebih luas, menjadikan secangkir kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang masa depan sebuah profesi,” tuturnya.


Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *